Tuesday, January 2, 2018

Tak Melakukan Selebrasi Gol

Tags

Stephan El Shaarawy Roma gol ke gawang Milan
Photo by Marco Luzzani/Getty Images
Bagaimana aku menceritakan tentang Stephan Ramadhani di kancah sepakbola antar desa? Aku langsung teringat Stephan El Shaarawy yang sudah bermain untuk Roma dan menciptakan gol ke gawang Milan.

Pada suatu hari di saat aku mau masuk SMA, di saat yang sama Stephan Ramadhani pun juga, tapi rumahku tetaplah sama sementara ia pindah rumah ke desa tetangga. Dan kami, karena perbedaan NEM, jadi berbeda tempat SMA.

Tapi sebelum pindah ke desa tetangga dan masuk bersekolah di SMA yang beda, aku dan Stephan Ramadhani amat akrab, kami adalah teman sepermainan kemana-mana sejak kecil, main adu kelereng kami pernah mengalaminya bersama dalam pertarungan one on one, bahkan kalau tim sepakbola desa kami ada jadwal main kami suka janjian untuk barengan nontonnya. Aku dan ia, barangkali bagaikan pertemanan Batman dan Robin di film Batman & Robin, atau mungkin Doyok dan Kadir di film Doyok dan Kadir.

Aku dan Stephan Ramadhani saat masih SMP pernah sama-sama bermimpi: ingin membela tim sepakbola desa kami suatu saat nanti. Suatu saat nanti: saat usia kami sudah 17 tahun. Usia 17 tahun adalah usia minimal ikut seleksi tim sepakbola desa. Saat itu Stephan Ramadhani adalah penggemar berat tim desa kami, bahkan ia rela ambil bola out yang melambung ke kebun pisang. Sekembalinya ia dari kebun pisang (setelah melempar bola yang dibawanya itu ke wasit), aku tanya. "Ngapain kamu repot-repot ambil bola ke kebun pisang?"

Ia jawab dengan mimik muka serius. "Ini untuk kebanggaanku sebagai suporter tim desa kita."

Barangkali, oleh karena jawabannya itu, andai ia tak jadi pindah rumah dulu, suporter desa kami boleh jadi akan membentangkan spanduk ini: SR DARAH DESA KAMI. Tapi sayang, saat aku dan Stephan sudah cukup umur untuk membela tim desa, ia membela tim desa tetangga sebab rumahnya berdomisili di sana.

Hingga di babak penyisihan dalam ajang sepakbola antar desa tim desa kami bertemu dengan tim desa Stephan Ramadhani, tempat pertandingan di lapangan desa kami. Saat itu, aku jadi pemain tim desa kami, di kubu seberang Stephan Ramadhani pun terpilih sebagai bagian dari skuad tim desanya.

Sesuai prediksi pengamat bola di warung kampung kami, bahwa pertandingan itu ibaratnya Milan is Back melawan Timnas Malaysia, dan mainnya di Italia. Belum juga babak dua, tapi tim desa kami sudah menang tiga kosong. Memasuki babak dua, tim desa kami menambah dua gol. Tapi menjelang injury time akhirnya mereka dapat peluang emas, mendapatkan penalti akibat bek tengah kami tak sengaja menyentuh bola di dalam kotak penalti (tapi wasit melihat tangan itu bergerak aktif), dan yang menendang penalti adalah Stephan Ramadhani.

Stephan Ramadhani berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, tendangan penalti itu masuk. Inilah kenangan yang kemudian mengingatkanku kepada Stephan El Shaarawy yang mencetak gol ke gawang Milan untuk Roma. Di sini, aku jadi ingin ketawa, bukan kepada Stephan El Shaarawy, tapi pada temanku Stephan Ramadhani. Aku menertawakan ini: Stephan Ramadhani tak melakukan selebrasi gol sebagai penghormatan kepada tim desa kami karena dahulu ia pernah tercatat sebagai warga desa kami, tapi gol dia hanya hiburan (jelas berbeda dengan situasi Gol El Shaarawy ke gawang Milan), andai pun ia melakukan selebrasi gol kelihatannya suporter desa kami tak akan terluka. Persis apa yang dikatakan oleh sebagian besar pengamat sepakbola di warung kopi kampung kami. "Jadi pengin ketawa liat Ramadhani gak merayakan gol di pertandingan itu. Haha."

#Haha :D

Silakan dibaca juga ini Stephan El Shaarawy Lelaki yang Sederhana Meyakini Islam Sebagai Nilai-nilai dalam Kehidupan.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon