Sunday, January 28, 2018

Jam Tidur dan Hubungannya dengan Nonton Roma

Pemain AS Roma
Photo: Getty Images
Sudah dua kali aku bangun kesiangan nonton pertandingan Roma yang jam 02:45 WIB. Dua pertandingan Roma terakhir aku bangunnya jam 05:00 WIB. Saat pertandingan ini: Inter 1 v 1 Roma 22 Januari 2018 dan Sampdoria 1 v 1 Roma 25 Januari 2018.

Ketika Roma Day dan aku tak menontonnya, tapi aku berniat menontonnya, muncullah derita. Apalagi kemudian tahu: hasilnya Roma tak meraih kemenangan.

Aku bukanlah tipikal penggemar yang suka mengkritik permainan klub idola yang tak meraih kemenangan, adapun terucap (atau tertuliskan) itu adalah karena terbawa arus oleh penggemar lainnya, dalam hal ini misal: beberapa teman di Facebook yang update status menuliskan kekesalan itu haha. Kecuali barangkali menyangkut permainan Defrel, ini muatan politisnya kuat banget, soalnya Defrel meskipun bermain tak memukau tapi tampak bisa menghambat perkembangan pemain muda berbakat Roma dari Turki Cengiz Under, apalagi kemudian, di pertandingan Sampdoria 1 v 1 Roma muncul debutan baru dari anak didik Roma yakni Mirko Antonucci yang mengundang pujian berkat asisstnya kepada Edin Dzeko.

Oh bukan, Mirko Antonucci bukan akan menghambat perkembangan Cengiz Under (meskipun pada pertandingan itu Antonucci masuk menggantikan Under), bukan begitu, tapi begini: takutnya Defrel menghambat perkembangan dua talenta muda Roma itu. Musababnya: pelatih Di Francesco acap memberi kepercayaan kepada Defrel, meski Defrel mainnya konyol (aku menggunakan kata "konyol" ini biar lucu saja haha). Antonucci dan Under bisa bermain di penyerang sayap kanan kiri oke, sehingga Defrel jadinya menuh-menuhin saja kuota haha tapi anehnya pelatih Di Francesco seolah tak melupakan Defrel. Maka Defrel jadi bikin jengkel. Inginku: Defrel di-nomor-tiga-kan, nomor satu dan dua pilihannya acak saja antara Antonucci atau Under tak masalah, setelah pemain lain seperti El Shaa atau Schick.

Gambaran itu dapat terbayang jelas di kepala, karena aku rajin nonton pertandingan Roma, makanya dapat anda bayangkan jika aku tak nonton pertandingan Roma: tidak ada bayangan itu adalah derita yang tadi kumaksud. Aku ambil sederhananya begini: bikin aku jadi kesusahan untuk bersuara, bersuara di sini misal dalam bentuk menulis di blog ini. Proses kreatif itu ada, karena mata melihat lalu hati merasa sehingga terbukalah pikiran. Meskipun hasil pemikiran itu hanya untuk hiburan saja, setidaknya untuk diriku sendiri, syukur-syukur bisa menular ke yang kebetulan baca.

Berbeda dengan musim lalu, di pertengahan musim ini, jam tidurku berubah (aku ambil ingat): mulai 1 Januari 2018 aku memutuskan untuk tak begadang. Jadi jam tidurku jadi samaan dengan anak-anak sekolah, atau pegawai-pegawai kantoran pada umumnya. Menjadikan malam untuk tidur, dan pagi untuk memulai aktifitas, hidup seperti kebanyakan orang. Kalau musim lalu, aku terbiasa begadang, sehingga Roma Day yang jam dini hari suka terkejar, lalu tidur setelah update status di Facebook ngasih tahu skor. Alhasil: bangun kesiangan nonton Roma Day jam dini hari adalah konsekuensi logis.

#AndroidSukaDiCasPasTidur
#SejakLulusSMAAkuTakPunyaJamWeker :D

Silakan dibaca juga ini Kesiangan Nonton Inter 1 v 1 Roma 22 Januari 2018.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon