Saturday, December 30, 2017

Wasit di Roma 1 v 1 Sassuolo 30 Desember 2017 dan Film Komedi Erotis Italia

Daniele Orsato VAR
Photo: Getty Images
Aku bayangkan jadi wasit di Roma 1 v 1 Sassuolo 30 Desember 2017, pada menit ke-85 saat Alessandro Florenzi mendapatkan umpan lambung melewati barisan pertahanan Sassuolo, dan Florenzi berhasil meloloskan diri kemudian saat berhadapan dengan kiper Sassuolo ia menchip bola itu hingga memperdayai gabrukan kiper, itu kronologis terciptanya gol Florenzi, kulihat gol ini situasinya permai. Saat kedudukan dalam keadaan imbang satu-satu: Gol Roma dicetak Lorenzo Pellegrini pada menit ke-31, sementara gol Sassuolo dicetak Simone Missiroli pada menit ke-78.

Saat gol Florenzi itu tercipta, Florenzi sudah melakukan selebrasi didukung oleh para gladiator lainnya dalam kegembiraan. Tapi, di lain sisi, para pemain Sassuolo seperti mengalami depresi untuk menggugat protes pada wasit, bahwa gol Florenzi offside. Dalam sudut pandangku saat itu memang tak terlihat jelas, itu bagian hakim garis, tapi peraturan saat ini ada teknologi VAR. Untuk menangani peristiwa samar-samar seperti itu, aku berlari ke pinggir lapangan untuk melihat teknologi VAR.
VAR review Roma v Sassuolo
Dilihatlah olehku VAR review, mataku memandang: Florenzi saat berdiri mau mulai berlari menerima umpan melepaskan diri dari barisan pertahanan Sassuolo, ia dalam posisi onside. Dan yang offside adalah Cengiz Under, tapi Cengiz Under dalam keadaan tak bergerak (atau tak aktif) saat bola umpan itu meluncur. Sehingga aku pada keputusan: gol Florenzi sah.

Tapi aneh dengan sudut pandang wasit Daniele Orsato, ia malah kemudian menganulir gol Florenzi setelah ia melihat teknologi VAR. Aku merasa aku yang benar, maka dalam perbedaan pandangan ini, aku menunjuk Orsato. "Kelihatannya mata anda harus diperiksa ke dokter, sit!"

Keputusan Orsato itu, bikin kedudukan tetap imbang satu sama, dan kemudian di sisa waktu tersisa pada akhirnya menjadi hasil akhir: Roma 1 v 1 Sassuolo.

Orsato kulihat jadi sosok yang tak bermoral, seperti telah melakukan skandal. Aku pernah menonton satu adegan di film bergenre komedi erotis Italia tahun 70-an entah 80-an lupa lagi judulnya, dan lagi pula adegan itu mau aku improvisasi, dirubah sana sini, sehingga sebenarnya adegan yang nanti akan kuceritakan jadi karanganku, yang meniru film bergenre komedi erotis Italia tahun 70-an entah 80-an itu atas ide ini: modus menggenggam buah dada dengan pura-pura ngelindur sehingga tak lihat (atau tak sadar) bahwa yang dipegang oleh pria berkumis (dan berperut buncit) itu adalah buah dada wanita cantik tinggi semampai di kamar sebelah.

Syahdan, Bandot tua berambut sudah botak depannya (botak depannya bagian dari improvisasi itu), ia adalah suami dari pemilik kosan yang berbadan gembrot. Tiap pagi jam delapanan, ia terlihat suka nongkrong sambil ngopi di teras depan sembari memandang ke tempat jemuran.

Di tempat jemuran itu, tiap pagi, suka terlihat Janda Denok Tigapuluhan berbusana seksi (bawahan hot pant dan atasan tank top: kelihatannya habis nyuci baju di dalam, bagai repot kalau mesti ganti baju terlebih dahulu saat keluar) menjemur pakaian. Saat Janda Denok menjemur, ada posisi nungging tampak depan maupun tampak belakang, tergantung momen yang pas dan nyaman.

Di satu hari, situasi seperti itu, ketahuan oleh istrinya yang gembrot itu. Dan sang istri bertanya. "Bapak lihat apa?"

Ditanya begitu ia gelalapan, sebab pertanyaannya itu datangnya tiba-tiba. "Ah enggak bu, itu lihat ayam tetangga."

Dari pengamatan ulangnya, si istri tak melihat ada ayam tetangga di sana, bahkan seingat dia, di sekitar kosan tak ada yang memelihara ayam, jadi ia meragukan penglihatan suaminya itu. "Bapak lihat apa?" kalau yang ini sambil menjewer kuping.

"Lihat ayam tetangga, bu."

Si istri lantas memuntir kuping suaminya yang bermata rabun itu.

"Aduh bu, sakit bu, ampun ampun."

Nah, Orsato, pantesnya digituin. Haha.

#Haha :D

Mengenai teknologi VAR lainnya harap baca ini: Roma 1 v 0 Cagliari 17 Desember 2017.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon