Thursday, December 21, 2017

Tersingkirnya Roma di Coppa Italia Itu

Embed from Getty Images
Jika tersingkirnya Roma di Coppa Italia itu tak hanya mengejutkan, tapi membuat kita marah dan sedih, jika (setidaknya) satu orang bahkan sampai kudu makan nasi padang kemudian mendengarkan lagu yang enak sambil minum kopi di pagi setelahnya, ketika tendangan jarak jauh Stephan El Shaarawy dan sundulan Patrik Schick membentur tiang gawang, ketika serangan balik banteng Torino yang sekali menyeruduk langsung mematikan, ketika tendangan penalti Edin Dzeko yang terpatahkan oleh kiper lawan, apa sebenarnya yang terjadi? Aku tak tahu persis jawabnya. Yang jelas: tersingkirnya Roma di Coppa Italia mengguncang kita.

Kita seperti tersadar, bahwa itu adalah akhir, Roma telah kehilangan perburuan satu gelar: meraih Piala Coppa Italia pada musim ini. Tapi kita pun harus bisa mendamaikan hati, tak larut dalam kesedihan, apalagi ketika kita tahu bahwa ajang Coppa Italia jika dibanding dengan gelar Scudetto dan gelar Liga Champions, ia adalah nomor tiga. Maka berdamailah lekas-lekas: yang lepas hanya perburuan gelar ajang nomor tiga. Perburuan ajang bergengsi: Scudetto dan Liga Champions. Kedua ajang itu masihlah kita jelajahi rimba belantaranya. Barangkali, harapan akan treble di akhir musim, sirna. Tetapi belum berakhir, untuk meraih double winners di akhir musim. Ke depan selanjutnya, marilah kita raih bersama mimpi itu: Scudetto dan Liga Champions.

Tapi sinisme kemudian hadir, akibat di Coppa Italia Roma sudah tersingkir: di kompetisi nomor tiga saja sudah dipaksa menyerah oleh Torino, apalagi kompetisi lain yang lebih berat tingkat persaingannya. Pendapat sinis seperti itu tak perlu dibantah dengan otot, juga tak perlu ditertawakan, hanya perlu ditanggapi dengan kepala dingin. Karena pendapat sinis seperti itu, secara logika: kewajaran.

Selain sepakbola tak bisa disimpulkan di atas kertas, ada hal lain yang berperan, juga sebenarnya logika itu dapat dibantah dengan misal fakta ini: dalam pertandingan Roma 1 v 2 Torino di Coppa Italia Roma menggunakan lapis kedua. Baiklah, misal, kedua tim sama-sama menggunakan lapis kedua (kalau Roma memang benar menggunakan pemain lapis kedua kecuali barangkali kapten Strootman, sementara Torino aku kurang tahu sebab tak mengamati mendetail tiap pertandingan hanya yakin kalau Andrea Belotti adalah pemain utama Torino dan pada saat itu main dari awal dan menjadi kapten Torino), maka bisa dilihat jalannya pertandingan: pada pertandingan itu Roma hanya kurang beruntung. Itu sebabnya, optimisme masih bisa membara bahwa Roma mampu berjaya pada musim ini tetap berkibar bukanlah halusinasi, ia adalah sesuatu yang dapat dimengerti: tekad menggapai mimpi meraih gelar meskipun dijalani dengan rendah hati.

Justru, tersingkirnya Roma di ajang Coppa Italia sejak dini, bisa memberi energi lain untuk memperkuat harapan meraih gelar Scudetto dan atau Liga Champions, sebab bagaimanapun bermain di tiga ajang berbeda menguras tenaga. Dengan kata lain, ambil positif: tersingkirnya Roma di ajang Coppa Italia sejak dini, mempertebal imaji Roma meraih Scudetto dan atau Piala Si Kuping Besar. Forza Roma!

#WkwkwkHehe :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Roma 1 v 2 Torino di Coppa Italia dan Satu Kerat Rendang.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon