Saturday, December 16, 2017

Super Sub

Tags

Embed from Getty Images
Pelatih Hansip punya skema mapan: menyerupai 3-4-1-2 AS Roma era Fabio Capello. Di Trequartista yang menyinari lini, ada kapten kami, Francesco Roni. Di Second Stiker, ada aku yang tokcer. Di Center Forward, ada Marco Ahmad. Tapi Marco Ahmad, hampir selalu diganti pada babak kedua, oleh Gabriel Engkus. Di sini, aku ingin memberitahu: Gabriel Engkus adalah Super Sub.

Di zaman Manchester United masih dilatih oleh Sir Alex Ferguson, aku terkenang Ole Gunnar Solskjaer, lebih dekat dari akhir kepelatihan Sir Alex aku teringat Chicarito. Gabriel Engkus, seperti Ole Gunnar Solskjaer, seperti Chicarito, mereka memiliki kemampuan sebagai Super Sub.

Super Sub yang kumaksud adalah ketika masuk sebagai pemain pengganti, gol kerap kali menjadi kontribusi. Tiap kali dimasukan sebagai pengganti, tiap kali gol ia beri, di sini dilakukan berulang kali, bukan hanya sekali.

Tapi aku curiga, pelatih Hansip kerap memasukan Gabriel Engkus di babak kedua, bermula dari indisipliner: Gabriel Engkus suka kedapatan main kebut-kebutan di jalan desa kami sehingga membuka ruang danger yang bikin khawatir. Pelatih Hansip pernah menegur, tapi Gabriel Engkus bak langit tak mendengar.

Mengingat Gabriel Engkus merupakan pemain tak berteknik, tak seperti Francesco Roni kapten kami, ia hanya mengandalkan respon dan kecepatan, maka pelatih Hansip berpikir bahwa Gabriel Engkus tak masalah dijadikan bamper Marco Ahmad, di luar dugaan justru karena sebagai bamper Marco Ahmad itulah Gabriel Engkus di turnamen antar desa (yang diselenggarakan setelah sebulan di daratan Eropa telah dihelat Piala Eropa 2004) menjelma menjadi super sub bagi tim desa kami.

Gabriel Engkus, yang terlihat di pinggir lapangan sedang melakukan pemanasan karena pertandingan Semi Final tim desa kami melawan tim desa tetangga telah memasuki pertengahan babak kedua sementara kedudukan masih imbang dua sama, tatapannya seperti memberi sinyal: tampil tiap pertandingan hanya 15 menit, dalam 4 pertandingan telah mencetak 4 gol, di tiap pertandingan mencetak 1 gol. Bandingkan dengan Marco Ahmad, yang mendapatkan waktu 75 menit tiap pertandingan, dalam 4 penampilan hanya mencetak 2 gol. Itulah Gabriel Engkus, Sang Super Sub.

#Hehe :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: MENIRU GAYA RAMBUT TOTTI TAHUN 2004.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon