Monday, December 18, 2017

Sayap-sayap Roma

Embed from Getty Images
Kita tahu, dalam skema permainan pelatih Di Francesco, pemain sayap menjadi andalan dalam serangan, ini pernah disampaikan oleh penyerang sayap Stephan El Shaarawy ketika ia di wawancara dulu saat Roma melakukan Pra Musim di Amerika, yang memberi pengetahuan tentang (aku simpulkan sendiri): betapa pentingnya pemain sayap dalam permainan 4-3-3 Eusebio Di Francesco sebagai senjata andalan dalam melakukan serangan. Pertandingan yang lalu, di Roma 1 v 0 Cagliari 17 Desember 2017, Roma menang secara drama di menit akhir, dan itu setelah bersusah payah melakukan pelbagai manuver serangan, hampir mati gaya karena Cagliari main seperti total bertahan. Sudah dilakukan upaya mengurung setengah lapangan, tapi serangan seperti susah menembus sistem pertahanan lawan.

Atas dasar itu. Sebagai penggemar Roma yang menyukai kesusastraan Indonesia. Tiba-tiba aku terpikirkan untuk menjadi seorang penyair, dengan maksud memberikan semangat kepada terutama lini serang Roma di sektor sayap, yang secara taktikal menjadi daya gedor serangan Roma pelatih Di Francesco. Dengan meniru pola yang dilakukan oleh penyair besar Inggris Lord Byron dalam sajak Darkness (yang kutemukan di tulisan Caping Tempo GM: ’In the Wee Small Hours’). Sajak ini kuberi judul: Sayap-sayap Roma.

...dan sayap-sayap Roma

tajam menulang di pertahanan Lawan

tanpa ampun, tanpa dosa

dan Lawan yang kewalahan

bertekuk, letoi...


#Haha :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Wahai, Totti yang Istimewa.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon