Wednesday, December 20, 2017

Roma 1 v 2 Torino di Coppa Italia dan Satu Kerat Rendang

Embed from Getty Images
Di depan rumahku, meski di desa, tapi di situ ada Rumah Makan Nasi Padang. Saat siang, aku membeli tiga kerat rendang dan lalap dan sambal, tapi tak dengan nasi. Saat malam pukul 23:30 WIB aku menonton pertandingan Coppa Italia Roma v Torino 20 Desember 2017. Selesei menontonnya: syukurlah satu kerat rendang masih bersisa. Dalam melaporkan sesuatu di blog ini, bila menulisnya maka biar tak malas hatiku kudu dibikin senang dulu. Masalahnya: pertandingan itu tak bikin aku hepi. Makan dengan rendang seperti makan sahur, setidaknya bisa mengobati luka kekalahan Roma yang tersingkir.

Beginilah Roma 1 v 2 Torino 20 Desember 2017 yang kutonton. Sebagaimana yang kuingat.

Aku melihat Roma (yang pada saat itu menggunakan trisula: El Shaarawy, Schick, Under) tampil dominan menyerang. Bahkan kemudian berhasil menciptakan satu peluang garang, tendangan El Shaarawy dari jarak jauh membentur mistar gawang. Peluang di menit ke-30 ini mengingatkanku pada Gol El Shaa di Empoli 1 v 3 Roma 28 Februari 2016: dari jarak jauh di luar kotak penalti, dan gol. Tapi di Roma 1 v 2 Torino, tendangan spekulasi El Shaa hanya membentur mistar gawang atas terus jatuh ke garis bawah yang ditayang ulang terbaca: No Goal.

Justru Torino yang tampil menunggu untuk kemudian melakukan serangan balik, malah menciptakan gol yang bermula dari sepakan pojok. Andrea Belotti terlihat seperti datang dari belakang di antara kerumunan orang-orang di kotak penalti, dan lalu berhasil menyambut umpan itu dengan sundulan yang meluncur keras ke gawang Skorupski, Skorupski berhasil memblok sundulan itu sayangnya menjadi bola rebound yang kemudian disosor dengan tendangan oleh Lorenzo De Silvestri. Dan gol untuk Torino pada menit ke-39.

Gol pertama Torino ini seperti mengejutkan Roma, bagai Banteng tiba-tiba nyeruduk Serigala dalam satu serangan balik, bikin kemudian Serigala tambah mengamuk. Di babak satu, penyerang yang terlihat menonjol adalah El Shaarawy dengan pergerakan-pergerakannya, terlihat ada kerja sama yang terjalin di sektor kiri bersama bek kiri Emerson, sehingga bikin serangan dari sektor sayap kiri terlihat mencolok. Jika dibanding dengan gebrakan Schick sebagai penyerang sentral yang nyaris tak ada. Sementara Under di kanan, ada dua kesempatan, satu tendangan first time yang melambung tinggi dari mistar, dan satu tendangannya yang mampu diantisipasi oleh kiper Torino yang hanya berhasil menciptakan kesempatan berikutnya melalui sepakan pojok. Half Time: Roma 0 v 1 Torino.

Babak dua Serigala tetap ngamuk, mengingat skor masih ketinggalan: mendominasi permainan dan menyerang. Strategi gencar dalam menyerang yang dilakukan Roma ini, berhasil menciptakan pelbagai peluang, dua di antaranya sontekan Strootman yang tanpa pengawalan yang melebar, juga tendangan yang kembali membentur tiang (kalau yang ini lupa lagi siapa yang melakukannya). Ancaman Serigala itu tak berhasil mencabik kokohnya pertahanan Banteng (selain tiang gawang juga kiper Torino seperti minum air yang sudah dijampi-jampi). Justru, situasi serudukan sekali serang Banteng dengan cepat kembali melukai Serigala pada menit ke-73 Simone Edera berhasil menanduk dekat bola hasil umpan kawannya dari sayap kiri menjadi gol. Dua kosong untuk Torino.

Sebelum tercipta gol kedua Torino, di menit enampuluhan sudah ada pemain Roma yang diganti: Under oleh Perotti, dan Gerson oleh Pellegrini. Ini sebagai upaya untuk menambah ketajaman serangan. Nah, gol kedua Torino itu, lalu bikin Dzeko dimasukan oleh pelatih Di Francesco menggantikan Kapten Strootman. Dibanding di babak satu, di babak dua Patrik Schick mengalami perkembangan permainan, terlihat beberapa pergerakannya untuk memberikan upaya gedoran. Hingga Schick terjatuh di kotak penalti, yang kemudian bikin wasit menunjuk titik putih, pada menit ke-76 sayangnya tendangan penalti Edin Dzeko berhasil dihadang kiper Torino (Beneran, kelihatannya kiper Torino sudah minum air hasil jampi-jampi). Amukan Serigala berhasil menciptakan gol juga pada akhirnya di menit ke-85 melalui tendangan Patrik Schick. Di waktu tersisa Roma terus melakukan upaya pelbagai serangan. Tapi pada akhirnya ini jadi politis hati pagi ini. "Lepas coppa italia, untuk penjelajahan menangkap Scudetto dan Champions biar tak terganggu." Full time: Roma 1 v 2 Torino. "Bye bye Coppa Italia."

#UntungRendangMasihBersisa
#TetapSemangatForzaRoma :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Cengiz Under Harus Terbang Tinggi di Coppa Italia.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon