Saturday, December 16, 2017

Roma 1 v 0 Cagliari 17 Desember 2017

Embed from Getty Images
Ini lanjutan Serie A Liga Italia: Roma 1 v 0 Cagliari 17 Desember 2017.

Karena ada gangguan teknis di sini di babak satu, aku pikir, apa boleh buat aku harus mengatakan ini: tak melihat babak satu. Baru babak dua, sungguh, kurasakan streaming lancar haha. Dan aku tak mau melihat teknologi VAR: maksudnya tak ingin melihat situasi di babak satu bagaimana melalui salah satu video yang ada di YouTube (itu pun kalau ada). Kalau Roma menang, ingatanku suka kuat. Aku akan berbicara berdasarkan apa yang kuingat. 

Pertandingan ini aku gambarkan sebagai: Hidup teknologi VAR!

Aku curiga di babak satu, Roma pun tetap mendominasi permainan dengan cara membangun serangan secara kalem untuk membongkar sistem pertahanan Cagliari yang bermain bertahan. Di babak kedua, kubaca begitu.

Lalu terciptalah peluang pada menit ke-49. Pada mulanya terlihat Edin Dzeko seperti melakukan diving di kotak penalti Cagliari ketika penyerang Roma itu dihadang kiper Cagliari, sebab pada saat itu kulihat wasit langsung meniup peluit dan mengacungkan kartu kuning untuk Edin Dzeko. Meskipun Edin Dzeko berekspresi hanya geleng-geleng kepala, dan tak ada aura protes berlebih, sebelumnya aku curiga Dzeko memang melakukan diving, tapi pas lihat tayangan ulang memang ada gerakan sebelah tangan kiper yang menyentuh kaki Edin Dzeko (bisa jadi ini karena teknik menjatuhkan diri yang dilakukan oleh Edin Dzeko), tak kusangka wasit kemudian seperti membetulkan sesuatu ditelinganya (yang aku curiga ini ada kaitannya dengan teknologi VAR), tak lama itu wasit berlari ke pinggir lapangan untuk melihat video tayangan ulang. Dan sontak aku bergembira ketika sekembalinya wasit ke lapangan, ia menunjuk titik putih, bahwa tadi kiper Cagliari telah melakukan pelanggaran kepada Edin Dzeko. Tapi sayang, Diego Perotti sebagai penendang penalti gagal mengonversi peluang itu menjadi gol, di sana kiper Cagliari berhasil membaca arah bola yang ditendang oleh Diego Perotti, tendangan penalti ditepis. Jadi: kedudukan tetap kosong-kosong.

Bukan main Cagliari main: full bertahan. Membiarkan diri menunggu lama-lama, bikin skema penyerangan Roma jadinya mati gaya. Memasuki menit enampuluhan ke atas, pelatih Di Francesco melakukan hal yang benar dengan memasukan satu pemain yang bertipe penyerang untuk mengganti gelandang tengah, di sini Stephan El Shaarawy masuk (kalau tak salah menggantikan Pellegrini). Alhasil: sekemampuan terlihat Roma terus mencoba membangun serangan. Terlihat: bermain setengah lapangan. Cagliari seperti dikurung. Belum juga tercipta gol sampai menit delapanpuluhan, pelatih Di Francesco memasukan penyerang sayap yang lebih segar Cengiz Under untuk menggantikan penyerang sayap Patrik Schick. Kulihat, Cengiz Under terlihat langsung memberikan gebrakan melalui penetrasi, apalagi saat ia melakukan gerakan wonderful (wonderful aku kutip dari komentator pada saat itu), meskipun tak berbuah gol atau menghasilkan peluang yang berarti, tapi gerakan itu Cengiz Under bagai ingin memberi tahu: aku tak ingin pergi dari Roma di bulan Januari.

Tibalah menit-menit akhir injury time. Menit ke-93. Dari peluang tendangan bebas yang dilakukan oleh Kolarov. Sontak aku terperanjat ketika Fazio berhasil meneruskan tendangan itu dengan menyodoknya ke gawang Cagliari, dan gol. Dan selebrasi gol telah dilakukan oleh para pemain Roma dengan mengejar Fazio lalu mengerumuninya. Tapi kemudian, wasit bikin situasi tegang di hatiku, sebab di sana terlihat wasit meragukan apakah itu sah gol apakah tidak, dengan cara: berlari ke pinggir lapangan untuk melihat teknologi VAR. Sekembalinya wasit ke tengah lapangan lalu kedua tangannya melakukan isyarat menunjuk titik tengah lapangan, seriusan aku kayak anak alay: serta merta memeluk bantal. Gol Fazio sah saudara-saudara haha. Seisi stadion pun bergemuruh merayakan. Full time: Roma 1 v 0 Cagliari.
Embed from Getty Images

#GrazieRoma :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Kartu Merah Felipe dal Belo.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon