Monday, December 25, 2017

Petasan Mario Balotelli

Mario Balotelli Italia
Foto: The New York Times
Ingatan yang paling melekat tentang Mario Balotelli di kepalaku adalah ini: menertawakan Mario Balotelli saat kubaca di tabloid bola ia naksir supermodel mantannya Christian Vieri. Saat itu informasi mengenai Mario Balotelli di kepalaku belum banyak (tapi aku curiga sebagian besar gila bola lainnya juga sepengetahuan denganku), saat itu Balotelli masih main di Inter sebagai anak muda binaan Inter yang berhasil promosi masuk skuad senior Inter. Saat itu aku sinis. "Haha. Ngaca dulu dong, Mario!"

Dan media (informasi demi informasi mulai tumbuh dan berkembang di kepalaku) ternyata seperti membesarkannya: sebagai talenta masa depan Italia (mulai kelihatan sejak Inter masih ditangani Jose Mourinho). Bahkan, Roberto Mancini dengan sokongan dana yang berlimpah dari klub kaya mendadak Manchester City, pada saat itu berani membawa Mario Balotelli untuk bermain di tanah Inggris. Sinar Mario Balotelli di kepalaku perlahan-lahan menyala, berkat aksi-aksinya, baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan, tapi jika mau ambil persentase maka: empatpuluh persen kabar di dalam lapangan, enampuluh persen kabar di luar lapangan. Yang bikin seorang Mario Balotelli, tampak sebagai superstar sepakbola, di mataku.

Betapa tidak, ia seperti membuktikan kapasitasnya sebagai Don Juan, sukses menggandeng perempuan cantik. Pacarnya saat bermain di Manchester City: Supermodel Italia bernama Raffaella Fico. Aku sebagai lelaki jones memandang itu, tentu saja terpukau. Dan bajingannya, aku membaca gosip, dalam hubungan itu, Raffaella Fico mengandung, tapi Mario Balotelli diisukan tak mengakui anak itu. Tapi kelihatannya, ketika anak itu sudah lahir, Mario Balotelli mengakuinya meskipun hubungan di antara Mario Balotelli dan Raffaella Fico berujung kandas.   

Betapa tidak, ia bikin heboh berita, karena main petasan di rumahnya hingga mau bikin kebakaran. Membaca kabar itu, di sudut lain, sebenarnya bisa bikin yang baca tertawa sambil mendamprat. "Konyol!"

Di dalam lapangan. Satu di antaranya aku teringat Semi Final Euro 2012 Italy 2 v 1 Germany. Di pertandingan itu, Mario Balotelli memborong dua gol Italia, melalui kepala juga kaki. Dari situ ketahuan, sebagai penyerang, Balotelli bagus dalam menyundul juga menendang, kepala dan kaki berbahaya. Terutama kakinya, ia mempunyai tendangan keras yang akurat, hampir mendekati tendangan Francesco Totti. Secara keseluruhan: ia pemain yang berteknik. Cocok sebagai pemain no. 9, tapi juga cocok jadi pemain no. 10. Barangkali kelemahan: malas berkorban untuk tim.

Aku tak berdusta saat berbicara. "Mario Balotelli adalah The King of Penalty." Sebab aku tak menunjukkan sumber, aku lupa, tapi silakan kalau tak percaya. Aku ketahui itu dari sebuah ulasan di televisi ketika Mario Balotelli gagal kali pertama nendang penalti, saat itu Pepe Reina yang berhasil menepis tendangan Balotelli, saat itu Mario Balotelli masih bermain untuk Milan. Saat itu narator ulasan televisi itu yang bilang, dan aku mengutipnya.

Maka profil Mario Balotelli jadi menarik perhatianku manakala kupantau situasi Roma pertandingan demi pertandingan, dan sebentar lagi jendela transfer di bulan Januari terbuka. Aku pikir: Mario Balotelli akan jadi petasan bagi Roma jika Monchi memikirkannya di jendela transfer Januari. Dari segi masalah Roma: penyerang yang berbahaya di kotak penalti, dan jago dalam tendangan penalti. 

Aku punya satu paman, dari banyak paman, paman yang satu ini, entah sejak kapan, tapi saat aku sudah akil balig, kalau hari raya lebaran tiba, di teras rumah nenek suka membunyikan petasan seusai salat ied. Dan petasan itu: menciptakan keramaian. Aku sendiri suka kagetan dengan bunyi petasan, dan sejak lulus SMP sudah tak bergairah menyalakan petasan meskipun beberapa teman sepermainan masih ada yang suka melakukannya saat yang lain salat tarawih. Dan tiap pamanku itu menyalakan petasan, pelbagai warna muka tampak, dan tawa yang dominan. Intinya petasan di sana: hiburan.

Maksudku petasan Balotelli begitu, bisa menimbulkan pelbagai warna, di wajah orang-orang yang mencintai Roma. Tak hanya sejak dalam pikiran Monchi, tapi juga saat nanti misal sudah memainkan sepakbola bersama Roma (ini mengingat perangai Mario Balotelli yang terkenal karena pelbagai ulahnya yang tak bisa dimengerti oleh akal: bertindak konyol atau kekanak-kanakan). Intinya: Mario Balotelli bisa jadi hiburan.

Aku curiga, seusai pertandingan, maka Mario Balotelli kuat kemungkinan ada saja bahan untuk membicarakannya, Mario Balotelli bisa bikin kepala kita jadi kreatif, sehingga bikin ramai beranda Facebook dengan kata-kata yang mengundang tawa, dan Mario Balotelli sebagai tema.

Maka ini sepucuk surat untuk Monchi: Pemain bengal, kurang profesional, kadang bertindak konyol, ini kelihatannya belum berubah, di OGC Nice nada minor: malas membantu pertahanan (dengan kata lain ini tak mendengar instruksi kata pelatih). Tapi siapa tahu kalau di Roma berubah. Ini pujian dari Noel Gallagher untuk Mario Balotelli. "Aku tak mengerti, sepertinya dia berasal dari planet lain. Aku juga merasa senang dia bermain untuk City, dan bahkan jika dia tak bermain untuk City, kita semua masih menyukainya. Dia adalah pemain yang suporter United sekalipun akan jatuh cinta kepadanya, sebab ia mengingatkan mereka akan sosok Cantona dan memiliki karakter seperti itu."

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: MERINDUKAN SEORANG ITALIANO.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon