Thursday, December 7, 2017

Pemain Muda Berbakat

Tags

Embed from Getty Images
Aku dan Francesco Roni seangkatan, kita seumuran. Tapi rumah kami beda RT: Aku di RT 2 sedangkan Francesco Roni di RT 1. Ketika Pak Haji masih menjabat sebagai Ketua RW 5, tiap agustusan suka diselenggarakan Pak Haji Cup di RW kami. Pak Haji Cup adalah ajang sepakbola antar RT di RW 5 desa kami. Lapangannya ukurannya seperti lapangan futsal, dan yang main bukan sebelas lawan sebelas tapi tujuh lawan tujuh.

Saat itu aku masih anak SD kelas 2, begitu juga dengan Francesco Roni, amat jarang (atau bahkan sepanjang sejarah turnamen belum ada saat itu) anak seumuran kami terdaftar sebagai pemain untuk membela RT masing-masing, biasanya yang sudah masuk itungan laik main adalah mereka yang sudah minimal duduk dibangku kelas 4 SD dan maksimal kelas 3 SMP.

Dan aku tak menyangka. Ketika menonton pertandingan antara RT 1 v RT 2. Kulihat di sana Francesco Roni mengenakkan kaustim bola. Bagi kami yang masih anak-anak SD, bisa mengenakkan kaustim bola di ajang Pak Haji Cup adalah sebuah kebanggaan, persis kalau di saat remaja pamer tunggangan motor ninja, sehingga meskipun masih anak kelas 2 SD pada saat itu aku merasa iri pada Francesco Roni.

"Masak Roni udah dikasih kaustim, Gus ya?!" Heranku pada Agus. Agus saat itu senasib denganku, dan kebanyakan anak SD lainnya yang belum berkesempatan terdaftar di tim RT masing-masing.

"Iya."

"Pelatih RT 1 pamannya, lihat tuh!"

Dan Roni dimasukkan oleh pelatih RT 1 di babak kedua. Untuk sekup kompetisi sepakbola Pak Haji Cup, saat itu Roni tak ubahnya: pemain muda berbakat. Sepanjang sejarah gelaran Pak Haji Cup RW 5 baru Roni satu-satunya anak SD kelas dua yang ikut serta dalam turnamen. Ajaibnya: Francesco Roni berhasil mencetak gol meskipun dari bola rebond di laga debut.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: MENIRU GAYA RAMBUT TOTTI TAHUN 2004.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon