Thursday, December 7, 2017

Pelanggaran Kasar Lawan

Tags

Embed from Getty Images
Pada suatu sore di pertandingan sepakbola antar desa, aku terlihat gagah dengan ban kapten melingkar di lenganku, aku dipercaya pelatih Hansip menggantikan peran Francesco Roni (yang berhalangan main karena ada acara keluarga) sebagai kapten tim. Saat itu, kami melawan tim desa dari pelosok. Tim dari desa pelosok itu, kusebut saja ini: Walungan FC.

Saat itu sudah masuk sistem gugur, sehingga akan ada tim yang hancur. Pelatih Hansip mengingatkan kepada kami bahwa kami harus mengerahkan segala kemampuan, agar bisa meraih kemenangan, dan terus melanjutkan penjelajahan. Ini pun memberi arti: bahwa permainan Walungan FC sudah dapat diketahui, juga permainan tim kami.

Banyak yang nonton bilang, hampir bersepakat semua. "Permainan Walungan FC kasar, banyak tekel-tekel berbahaya njirrr."

Sementara permainan tim kami di bawah arahan pelatih Hansip, banyak yang ngomong, juga hampir semua bersepakat. "Mengingatkan kepada permainan AS Roma era Fabio Capello." Bahkan, ada artis dangdut organ di desa kami, sampai berjanji: bila tim desa kami juara, maka ia bakalan nyanyi dangdut pake busana tutul waow Macan Afrika.

Benar kata orang, permainan Walungan FC bikin tegang. Belum juga sepuluh menit, tapi kartu kuning untuk pemain Walungan FC sudah diacungkan wasit. Selanjutnya kurasakan sendiri: dorongan bek Walungan FC bikin aku mencium genangan air yang becek, meskipun aku tak menggunakan teknik diving yang ciamik. Dan aku ingat-ingat orang itu: pemain bernomor punggung 13.

Pertandingan sudah memasuki babak kedua, dan skor masih kacamata. Saat jeda, pelatih Hansip mewanti-wanti agar kami berhati-hati untuk tak terpancing terbakar emosi, permainan kasar lawan biarlah menjadi urusan wasit semata. Tapi nasehat pelatih Hansip itu spontan tak kudengar ketika pemain bernomor punggung 13. Walungan FC menerjang pemain sayap kami seperti jurus capitan kalajengking yang tergelincir kulit pisang. Bikin pemain sayap kami mengerang kesakitan sambil pegang kaki. Mendadak aku emosi dan menghampiri pemain bernomor punggung 13. itu sambil menarik kaustimnya. "Hey anda mau main bola apa main kung fu, ha?!"

Untung keburu dilerai, sebelum sempat pemain bernomor punggung 13. itu membalas emosi. Haha. Ia mendapatkan kartu merah, dan aku mendapatkan kartu kuning.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu ada kaitannya dengan kapten kami Francesco Roni: MENIRU GAYA RAMBUT TOTTI TAHUN 2004.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon