Thursday, December 21, 2017

Meniru Gaya Rambut Ronaldo Brasil di Japan-Korsel

Embed from Getty Images
Hasrat ini barangkali yang terpikirkan: ingin jadi top skor turnamen antar desa. Ketika kumenonton pertandingan sepakbola antar desa antara kesebelasan Gagak melawan kesebelasan Tongkat. Di sana, penyerang murni Gagak, gaya rambutnya mengingatkanku pada gaya rambut Ronaldo Brasil di Japan-Korsel. Kalau tak lupa ingat: ini tahun 2012.

Pada Piala Dunia 2002, saat itu aku sedang berada di Bandung, kurang lebih tiga bulan, dalam rangka mengikuti bimbel sebagai usaha biar lolos masuk PTN. Di antara kesibukan bimbel (kalau tak ada kelas, berarti sibuk belajar di kosan, haha), aku mencuri-curi waktu ikut numpang nonton pertandingan Piala Dunia 2002 di rumah sebelah yang punya TV, berarti ini aku ingin memberi tahu: di kosan tak punya TV. Ada banyak pertandingan Piala Dunia 2002 yang terlewatkan, tapi pertandingan Italia yang kemudian kandas oleh Ahn Jung Hwan tak terlupakan, kalau mengenai gaya rambut Ronaldo Brasil tahu kali pertama dari koran. Dunia tahu sejarah itu: Ronaldo Brasil berhasil membawa timnas Brasil menjadi juara Piala Dunia 2002, dan menjadi top skor dengan mencetak delapan gol termasuk dua gol di Final menundukkan kiper Jerman Oliver Kahn.

Sepuluh tahun telah berlalu, tapi siapa tahu penyerang Gagak itu pun tahu, atau setidaknya diberi tahu. Pengetahuan itu memberi penerangan terhadap sebuah harapan: kegemilangan. Gaya rambut Ronaldo Brasil itu, barangkali dalam sudut pandang itu, adalah bentuk jejak yang diikuti, dengan maksud memberi arti. Arti di sini: tercapainya kegemilangan. Bisa berarti: penyerang Gagak itu seperti ingin dirasuki keahlian bermain bola Ronaldo Brasil pada saat itu, dengan meniru gaya rambut Ronaldo Brasil yang seperti itu.

Tapi harapan tak selalu berbuah kenyataan, meskipun upaya telah dilakukan. Ini terjadi pada penyerang Gagak yang meniru gaya rambut Ronaldo Brasil itu, ia tak berhasil memberi gelar juara pada Gagak FC, bahkan Gagak FC lolos babak penyisihan Grup pun tak tercapai, sementara ia sendiri satu pun tak bikin gol. Pada momen itu: ia telah menjadi ironi. Tapi ia tak sendirian, meskipun bukan dalam situasi yang sama, contohnya aku yang gagal lolos UMPTN meskipun sudah melakukan usaha bimbel.

Dan harapan yang tak berwujud nyata itu bisa jadi karena sebuah kesalahan. Dan jika karena sebuah kesalahan, maka mengutip penyair Inggris Alexander Pope dalam Thoughts on Various Subjects (1727) barangkali bisa memberi belaian. "Semua orang tak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya."

Bila mau menjabarkan. Kita harus menganalisa itu untuk menemukan. "Kira-kira apa yang salah?"

"Oh jangan-jangan karena penyerang Gagak itu hanya mementingkan gaya rambut saja, tanpa dibarengi oleh mengasah kemampuan kaki mengolah bola."

"Oh jangan-jangan karena aku pada saat itu lebih mementingkan membaca koran seputar Piala Dunia, tanpa dibarengi dengan rajin berlatih menjawab soal-soal kisi-kisi."

#Hehe :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Kiper Tua-tua Keladi dan Mang Dayat.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon