Saturday, December 16, 2017

Membully Pemain Klub Idola

Embed from Getty Images
Bully Defrel di Facebook, tapi kalau misal ke Indonesia dan bertemu: tak minta foto bareng.

"Masih cedera Frel?"

"Iya, rasane koyo kena ketapel."

#Haha :D

Baca juga: Puisi Defrel: Aku Ingin Menjadi Rudal.

Membully pemain klub idola yang bermain menjengkelkan, kalau aku pikir ini: sebagai bentuk fighting spirit. Atau seperti teriakan kapten De Rossi yang berdarah romawi. Asal ini: tak ada terselip benci di dalam hati, meskipun secara kata-kata terlihat seperti orang yang membenci. Aku suka ambil positif kepada beberapa teman yang mengeluh menjurus melakukan bully kepada pemain, jadi aku sebenarnya terbawa arus wkwkwk.

Membully pemain klub idola sebagaimana dialog yang kuciptakan di atas, tak beraroma politis. Ia murni datang dari hati yang tulus, kepengin pemain yang dibully lantas bermain bagus. Tak perlu disimpan serius, karena bisa jadi perkataan itu disampaikan dengan muka yang tak bengis, meskipun terbaca ketus.

Ini membully yang asyik, meskipun tetap terdengar berisik, tapi tak hadir dari hati yang busuk. Seperti kau membully teman sendiri yang tak becus menyatakan cinta kepada jantung hati yang ditolak. Seperti kau berbuat kekeliruan dan menyadari bahwa itu keliru tapi tembok kau tampar atau kaleng kosong kau tendang atau botol plastik kau injak-injak.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Membully dalam Nonton Bola.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon