Monday, December 11, 2017

Kiper Tua-tua Keladi dan Mang Dayat

Tags

Embed from Getty Images
Para kiper sudah tua umurnya (katakanlah 35 tahun ke atas) di sepakbola terlihat masih kokoh menjaga gawang adalah bukan hal yang aneh. Terutama mereka yang punya konsistensi bermain, tetap dipercaya sebagai pemain inti. Kita ingat nama-nama mereka yang tetap populer kini: Gianluigi Buffon, Peter Cech, Iker Cassilas, juga boleh dimasukan kiper Chievo Stefano Sorrentino. 

Penampilan gemilang kiper Chievo Stefano Sorrentino (38 tahun) di Chievo 0 v 0 Roma 10 Desember 2017, bikin kita terbelakak, dan berseru: itu kiper tua-tua keladi.

Lalu aku teringat: Mang Dayat. Kiper milik tim desa dari pelosok: Kiper Walungan FC. Di kompetisi sepakbola antar desa. Mang Dayat adalah legenda Walungan FC. Dari usia belasan tahun sampai usia empatpuluh tahun ia masih kokoh terlihat menjaga gawang Walungan FC. Bahkan, pada saat aku sudah pensiun, juga pada saat aku belum tercatat sebagai pemain.

Di musim terakhirnya bersama Walungan FC, Mang Dayat sengaja mengganti nama punggung dari 'Hidayat' menjadi 'Mang Dayat'. Dan sebenarnya bukan itu yang bikin ia mengundang tawa para penonton, tapi ia yang mencolok: terlihat tua dari yang lain. Atau muka bapak-bapaknya kelihatan. Sehingga bikin kesebelasan Walungan FC laksana: Mang Dayat bapaknya, dan sepuluh pemain lain anaknya haha.

Tapi di pertandingan melawan tim desa tetangga: Rotan FC. Mang Dayat berhasil merubah tawa menjadi wow. Saat itu, hampir semua penonton, termasuk juga aku, terpukau dengan aksi Mang Dayat, sampai komentator bilang begini. "Aku tak percaya hadirin semua, Mang Dayat tua-tua keladi saudara-saudara."

Bayangkan. Di babak kedua Walungan FC mesti bermain dengan sembilan orang karena dua pemain sudah kena kartu merah akibat perbuatan buruk yang tak tulus. Sehingga bikin Rotan FC leluasa melakukan serangan untuk memborbardir sistem pertahanan Walungan FC. Di sinilah, Mang Dayat terlihat menonjol. Beberapa kali Mang Dayat berhasil mematahkan tendangan maupun sundulan anak-anak Rotan FC. Para pemain Rotan FC hingga dibikin frustasi: garuk-garuk kepala, menepuk jidat, meludah sembarang, dan memaki diri sendiri.

Bermula dari sepakan pojok untuk Rotan FC. Bola meluncur melambung lalu jatuh tepat di pemain nomor punggung 11. Rotan FC, dengan sodokan ke samping ia berhasil meneruskan umpan sepak pojok itu hingga ke gawang seperti yang dilakukan Romario di Piala Dunia 1994 (lupa lagi saat Brazil melawan mana, dan saat itu gol), tapi sayang Mang Dayat posisinya tepat di pinggir mistar sehingga bola itu mampu ditangkap dengan mudah. Terlihat di sana, pemain no. 11 itu lantas garuk-garuk kepala tak percaya. "Kenapa posisi kiper ada di situ?"

Kembali pemain nomor punggung 11. Rotan FC mendapatkan peluang dari umpan terobosan. Ia berhasil melepaskan diri dari barisan pertahanan Walungan FC hingga ia tinggal berhadap-hadapan dengan Mang Dayat. Tapi apa yang terjadi: tendangan pemain no. 11 itu berhasil dibendung oleh badan Mang Dayat yang seperti orang tergelincir kulit pisang. Bikin pemain no. 11 itu menepuk jidatnya sendiri. "Wadduuhhh!!!"

Kali ini yang mendapatkan peluang emas adalah Kapten Rotan FC. Ia mendapatkan ruang terbuka untuk menendang dari luar kotak penalti. Dan ia melakukan tendangan dengan keras, tapi sayang tendangan kerasnya itu berhasil ditepis oleh Mang Dayat sambil terbang. Bikin ia lalu meludah sembarang, barangkali batinnya lantas berkata begini. "Gila tuh kiper perutnya udah buncit, tapi sanggup terbang seperti itu: membentuk loncatan Puma."

Mungkin aksi ini yang bikin Mang Dayat mencolok heroik: saat pertandingan mesti diseleseikan melalui adu penalti. Bayangkan. Mang Dayat berhasil menggagalkan tendangan penalti pemain Rotan FC hingga tiga kali berturut. Dari kejauhan kulihat Mang Dayat seperti berteriak sesuatu manakala pemain Rotan FC bersiap menendang. Belakangan aku tahu terikan itu, yakni. "Mun maneh ngasupkeun, kuaing ditalapung siah." Dalam bahasa daerah, yang artinya dalam bahasa Indonesia, dengan terjemahan seperti di Google Translet. "Kalau kamu sampai memasukan bola, saya tendang service nanti." Ini jelas psywar yang disuarakan oleh Mang Dayat, yang tak dimengerti oleh wasit pada saat itu, wasitnya panitia sewa dari luar daerah, yang bikin penendang dari Rotan FC kikuk bagai teringat tato dilengan Mang Dayat (padahal tato Mang Dayat adalah tato tempel digosok-gosok yang suka dibeli oleh anak-anak SMP alay buat gaya-gayaan haha). Tapi bagaimanapun juga, pada saat itu Mang Dayat berhasil membawa Walungan FC lolos ke babak Final.

Dalam sejarah Walungan FC, baru pada saat itu Walungan FC berhasil tembus masuk ke babak Final. Mengingat bagaimana aksi heroik yang ditampilkan oleh Mang Dayat pada saat itu, warga desa Walungan ditandatangani oleh Kepala Desa Walungan memberikan penghargaan kepada Mang Dayat dalam bentuk: jalan yang meliak-liuk menuju sungai dari desa diberi nama 'Jalan Mang Dayat'. Dan nomor 1. kesebelasan Walungan FC dipensiunkan.

#Haha :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Chievo 0 v 0 Roma 10 Desember 2017.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon