Sunday, December 24, 2017

Jj 1 v 0 Roma 24 Desember 2017: Mantan yang Bahagia

Embed from Getty Images
Di dini hari yang sunyi dalam kamar aku menonton pertandingan Jj 1 v 0 Roma 24 Desember 2017.

Bagiku, pertandingan Juventus melawan Roma, adalah derby: Derby della Mantan. Sehingga psy war sebelumnya harus dilakukan, dan aku melakukannya, berupa update status di Facebook.

Tadi di jalan diklakson Macan pake baju Chelsea nanya jalan arah ke Bandung. Setelah bilang makasih, dengan cepat aku balik bertanya. "Entar Juve lawan Roma kira-kira siapa yang menang?"

Ia jawab. "Aku buta sepakbola Italia. Tapi barangkali nasib Juve seperti Chelsea."

"Setuju."

Dan mobil terus melaju. Hi hah. :D

#IniStatusAgakDipaksakan
#RomaDay
#JuveRoma :D

Mengenai psy war Derby della Mantan lainnya harap baca ini: Si Nyonya Tua Tersambar Halilintar.

Sehingga hasil akhirnya akan berpengaruh sekali merasuki isi hati. Kalau menang, hati serasa terbang ke angkasa penuh kerlip bintang. Kalau seri, tergantung situasi. Kalau kalah, hati serasa terjun ke jurang kehampaan. Dan pada 24 Desember 2017, Derby della Mantan, telah bikin hatiku: menggondokkan.

Aku melihat mantan yang bahagia. Satu gol Juventus dicetak oleh, Benatia, pada menit ke-18. Begini kronologis kejadiannnya: sepakan pojok Pjanic berhasil disundul oleh Chiellini tapi berhasil diblok oleh Alisson tapi jadi bola rebound lalu disambar oleh Benatia tapi membentur tiang atas gawang tapi jadi bola rebound lalu disasar kembali oleh Benatia dan gol. Aku melihat Pjanic yang berbahaya melalui umpan-umpannya di daerah kotak penalti Roma, dan bahkan ada satu tendangannya yang membentur tiang di babak kedua. Aku melihat Szczesny yang berhasil mematahkan tendangan Schick dalam situasi one on one, peluang yang amat mungkin bagi Roma untuk menyamakan kedudukan di menit-menit akhir pertandingan.

Tapi Roma kupikir di pertandingan itu kurang beruntung. Tampil dengan posesion lebih unggul, juga menciptakan beberapa peluang meski kalah menyengat jika dibandingkan serangan balik yang digencarkan oleh Juventus, terlebih ketika laga sudah memasuki babak kedua, dan pelatih Di Francesco sudah memasukan Patrik Schick. Satu peluang dari sontekan Florenzi setengah melayang membentur tiang, juga situasi one on one Schick dengan Szczesny yang sayang tak jadi gol. Ketika menit delapanpuluhan, pelatih Di Francesco menambah satu pemain bertipe penyerang untuk menggantikan gelandang bertahan, Cengiz Under masuk menggantikan kapten De Rossi, dan hasilnya kulihat ada, setidaknya satu ketika Under mencoba terbang menyundul bola di sisi kanan tapi sayang sundulan itu tak sempurna dan jatuhnya di kaki Szczesny hanya menciptakan sepakan pojok bagi Roma.

Yang paling menggondokkan adalah situasi ini: one on one Schick dengan Szczesny. Aku sampai aduh-aduhan berulang kali menyayangkannya, padahal situasi itu, selain bisa bikin kedudukan menjadi satu sama, juga bikin prediksiku sebelumnya tentang Schick dan Juventus berujung nyata (atau setidaknya mendekati). Ketidakberuntungan yang bikin gondok. Juga bikin maag kambuh. Juga bikin masuk angin. Sampai-sampai aku tak bisa berpikir untuk langsung menuliskan pertandingan itu di blog ini serta merta.

Mengenai Patrik Schick harap baca ini: Patrik Schick Berpotensi Bikin Juventus Jantungan.

Sudah kucoba makan surabi di pagi hari, tapi tak mampu mengobati luka di hati. Tidur tak serta merta sekejap, tapi gulang guling dulu ke sana kemari mencari-cari posisi yang sedap. Bangun tidur, ternyata aku belum bisa move on, meskipun sudah makan nasi padang dan mencicip segelas kopi hitam. Di sore hari kucoba memaksakan diri untuk menuliskan ini, meskipun sedang patah hati.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Sayap-sayap Roma.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon