Tuesday, December 19, 2017

Diego Perotti yang Gagal Melakukan Tendangan Penalti

Embed from Getty Images
Mulut orang gampang bicara. "Masak nendang penalti gagal, anak kecil juga bisa." Tapi pada prakteknya menendang penalti: tak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan, pemain gendeng sekalipun, di sini aku menyinggung Mario Balotelli yang sikapnya persis anak kecil, penyerang berkebangsaan Italia itu pun pernah gagal melakukannya (ini aku pernah menyaksikan sendiri, Mario Balotelli gagal melakukan tendangan penalti ke gawang Napoli yang dikawal Pepe Reina, saat Balotelli masih bermain untuk AC Milan, itu kalau tak salah kegagalan pertama Balotelli menendang penalti di kancah resmi, setelah sebelumnya sempat dijuluki sebagai The King of Penalty). Di sini, penendang penalti, butuh kedewasaan (yang identik dengan: punya mental yang matang) yang tinggi. Tapi barangkali, atau untuk kasus khusus Balotelli: pemain yang tak mikir sama sekali.

Baca juga ini ada tautannya dengan Mario Balotelli: MERINDUKAN SEORANG ITALIANO.

Menjadi penendang penalti adalah sebuah tugas berat: usaha menciptakan gol dengan kesempatan amat lebar. Di sini, gol tercipta, tuntutannya menjadi lebih besar. Bahkan mungkin, kalau ambil bengis: harus gol.

Ketika aku melihat kekasih gelap (di sini maksudnya pujaan hati di Facebook) update status dengan memposting foto ia dengan kekasihnya tampil berdua dan tampak mesra. Ini yang terjadi: hatiku terluka. Dan semangat luka seperti itu kurasakan manakala kumenyaksikan pemain di klub idola gagal melakukan tendangan penalti, yakni: saat melihat tendangan penalti Diego Perotti di Roma 1 v 0 Cagliari 17 Desember 2017. Saat itu (ini tentang kekasih gelap) aku bertanya. "Kenapa kau melakukan itu?" Saat tendangan penalti Perotti gagal pun dengan nada yang sama bertanya. "Kenapa anda menendang seperti itu?" Lalu anda mungkin bertanya. "Anda bertanya kepada siapa?" Aku jawab: pada ruang kosong. Sebagai bentuk emosi, karena tersimpan sesuatu di hati, dan aku bersendiri.

Menendang seperti itu: kalem dan dingin. Sebenarnya adalah khas tendangan penalti Diego Perotti. Seingatku itu bukan kegagalan pertama Perotti, di musim ini bersama Roma yang kedua, setelah sebelumnya satu kali pernah tendangannya membentur tiang. Tapi selain dua yang kumaksud, selebihnya Diego Perotti selalu mendapatkan pujian karena tendangan penalti yang menendang seperti itu. "Mantap Diego, kalem serta dingin, dan gol."   

Ketika kegagalan tendangan penalti itu mengguncang kita, maka bisa jadi guncangan itu dua kali lebih besar yang dirasakan oleh Diego Perotti. Bisa dibayangkan apa jadinya jika pada pertandingan Roma v Cagliari 17 Desember 2017 itu di menit akhir tak tercipta gol Fazio, boleh jadi Perotti akan kena bully (teringat Defrel yang suka kena bully akibat permainannya yang seperti kelayar keluyur tak jelas). Di sini, Diego Perotti mesti berterima kasih kepada Fazio, karena berkat gol Fazio itu, tendangan penalti Diego Perotti yang gagal jadinya terabaikan. Pada akhirnya barangkali yang penting ini: Roma berhasil menang.

#TetapSemangatDiegoPerotti :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Roma 1 v 0 Cagliari 17 Desember 2017.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon