Monday, November 20, 2017

ROMA DI FRANCESCO DAN BARCA GUARDIOLA

Embed from Getty Images
Setelah mengalahkan Chelsea dan kemudian Fiorentina, tapi sebelum laga Derby della Capitale melawan Lazio di Giornata 13 Serie A, di antara itu aku pernah membaca berita mengenai ini: Pelatih Eusebio Di Francesco mengaku terinspirasi oleh Josep Guardiola. Lantas, aku teringat: Barca Guardiola.

Seingatku Barcelona ditangan Guardiola menghadirkan sepakbola yang menghibur, meskipun untuk penonton netral, atau setidaknya menurut pandanganku: enak ditonton. Dan aku mengagumi permainan tiki taka Barcelona arahan Josep Guardiola kala itu. Sehingga aku tahu (samar-samar masih kuingat) informasi mengenai ini: bahwa permainan Josep Guardiola ya begitu itu, tak berubah, anti tesis Jose Mourinho.

Terinspirasi bukan berarti harus sama. Ada perbedaan antara pelatih Di Francesco dan pelatih Guardiola, tapi memiliki semangat yang sama: tak berubah. Gaya main: mendominasi permainan menjurus menyerang. Itu terang benderang terlihat ketika melawan Chelsea, baik di tanah Inggris maupun di tanah Italia. Begitu juga dengan pada saat melawan Fiorentina.

Sengaja aku hanya menggunakan data pertandingan yang terdekat, karena masih hangat untuk diingat. Pertandingan melawan Chelsea (aku pakai data yang home, bermain di Stadio Olimpico) dan pertandingan melawan Fiorentina (waktu main away, bermain di Stadio Artemio Franchi), ini aku merasa heran ketika Roma sudah unggul tapi irama permainan nyaris tak berubah (atau stabil), tidak lantas main tertutup untuk mempertahankan keunggulan malah cenderung ingin menambah keunggulan, nah di sini letak kemiripan itu, maka pantas ketika pelatih Di Francesco berkata. "Aku terinspirasi Guardiola!"

Baca juga: Sepakbola Sedap Menarik Roma di Kandang Chelsea.

Tapi ketika kuteringat pertandingan melawan Atletico (laga di Liga Champions sebelum melawan Chelsea, saat itu main di Stadio Olimpico), taktik (terinspirasi Guardiola) menjadi kabur, terlihat pelatih Di Francesco main aman. Tapi hal itu dapat dimengerti ketika tahu bahwa laga waktu melawan Atletico itu adalah laga pertama pelatih Di Francesco di Liga Champions. Juga pada saat itu, permainan Roma arahan pelatih Di Francesco masih dalam tekanan kritikan-kritikan (meskipun pada saat itu hasilnya tidak mengecewakan, barangkali hanya kurang enak ditonton saja), sehingga apa yang dilakukan pelatih Di Francesco bagian dari manusiawi (tak terpaku pada idealisme).

Baca juga: Pergantian Pemain dalam Roma vs Atletico.

Mesti diingat juga bahwa musim ini adalah musim pertama Di Francesco melatih Roma, sehingga diawal-awal belum tercipta kenyamanan dalam permainan (tentu di antara pelatih dan para pemain mesti ada penyesuaian, dan untuk hal itu waktu tak bisa dipatahkan) adalah hal yang lumrah. Tapi semangatnya sebenarnya sudah solid: bahwa pelatih Di Francesco memiliki karakter dalam gaya main. Dan karakter itu: terinspirasi Guardiola. Aku teringat atau aku pernah membaca, ketika pelatih Di Francesco masih digadang-gadang sebagai kandidat pelatih Roma, dan saat itu yang menjadi catatannya adalah pada saat Di Francesco melatih Sassuolo, hasil pembacaan itu aku simpulkan: gaya main arahan pelatih Di Francesco atraktif. Dan Barca Guardiola, menurutku pada saat itu: termasuk atraktif. Sementara kalem dalam membangun serangan, adalah kunci.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: PELATIH DI FRANCESCO DILEMA FAHRI AYAT-AYAT CINTA.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon