Thursday, November 16, 2017

PIALA DUNIA 1994 PIALA DUNIA PERTAMA YANG KUTONTON

Tags

Embed from Getty Images
Terbayang gambaran ini: aku yang masih anak SD jajan baso tahu keliling siang-siang. Penjual baso tahu bertanya kepadaku. "Pilih Brasil apa Italia?"

Aku jawab. "Italia."

Jawabanku tidak sepenuhnya sembarang, melainkan beberapa hari sebelumnya aku pernah menemukan sebuah tabloid bola milik pamanku: edisi spesial Piala Dunia 1994 di USA. Dan berkat tabloid itu, ada rasa suka ketika melihat foto-foto timnas Italia.

Aku dan penjual baso tahu keliling sudah saling kenal, penjual baso tahu keliling itu tinggal di RW sebelah, dan suka mangkal beberapa saat di dekat Lapang Pak Haji. Sedangkan Lapang Pak Haji, berdekatan dengan rumah nenekku. Waktu masih SD, aku suka bermain di lingkungan sekitar rumah nenekku.

Saban sore di lapang Pak Haji aku dan teman-teman sepermainan (masih anak SD dan SMP dan kalau SMA palingan masih anak kelas satu) suka bermain bola suka-suka di sana. Samar-samar aku masih ingat beberapa di antara kami kalau berhasil menciptakan gol suka lantas meniru gaya selebrasi yang ada di Piala Dunia 1994. Yang paling kuingat adalah selebrasi gol pemain Brasil Bebeto: gerakan menimbang bayi.

Saat itu aku belum hafal pemain-pemain sepakbola, dan nonton Piala Dunia 1994 jarang-jarang, lebih cenderung ikut-ikutan sebab jadwal tayangnya pagi hari menjelang siang kalau tak salah (dan entah apakah pada saat itu sedang libur sekolah), dan di layar televisi saat pertandingan digelar seingatku banyak iklan berbaris maju di bawah. Sebentar, perasaan, pada saat itu, pemain USA Alexilalas (penulisannya yang sekeingat saja, tak dicek ulang) paling mudah dingat karena gaya rambutnya yang keriwil.

Dan partai final yang mempertemukan Italia melawan Brasil: tujuhpuluhlima persen aku menduga aku menonton dari awal sampai akhir. Ingatan itu sudah lama, dan apa yang kusajikan bisa saja keliru. Di kepala terbayang hal-hal ini: kiper Italia orangnya ganteng namanya Gianluca Pagliuca, rambut kuncir pemain nomor sepuluh namanya Roberto Baggio, dan pertandingan harus diseleseikan melalui adu penalti. Nah, aku ingat betul, pemain bergaya rambut kuncir Roberto Baggio menjadi penendang kelima bagi Italia, apa yang terjadi: tendangan penalti Roberto Baggio melambung tinggi menjauhi tiang atas gawang, bikin aku berekspresi waduh tak percaya, sementara sempat kulihat di layar kaca pemain-pemain Brasil pada berhambur berlarian sembari menampakkan muka berseri kemudian bertemu berangkulan.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: MERINDUKAN SEORANG ITALIANO.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon