Tuesday, November 21, 2017

GAIRAH KANAK-KANAK DALAM MENYAKSIKAN SEPAKBOLA

Embed from Getty Images
Pengin seperti idola, meskipun misal tak jago maen bola, ini terjadi kepadaku saat itu sejak SMP kelas tiga. Pada saat aku menemukan sosok ini: Alessandro Del Piero.

Ada dorongan untuk meniru, terutama (tentu saja) yang mampu untuk ditiru. Kebetulan karakteristik rambutku pada saat itu (saat rambut depanku belum rontok memudar) hampir menyerupai rambutnya Alessandro Del Piero, tapi pada saat itu aku terkendala sama Kang Pangkas: hanya bisa potong rambut bergaya mandarin.

Sementara kumis, adalah perjuangan. Normal jika masih anak SMP kelas tiga belum memiliki kumis meskipun laki-laki. Tapi masih anak SMP sudah punya kumis bukan berarti tak ada, barangkali langka. Ini bukti: temanku sebangku masih SMP kelas tiga sudah berkumis.

"Apa rahasia panjenengan?" Tanyaku. Penasaran: terbayang di kepala sosok Alessandro Del Piero yang berkumis diukir tipis.

"Pergilah sampeyan ke sungai. Lalu carilah Lancah Maung."

Dialog itu adalah bukti perjuangan itu, dan hasilnya dapat tercapai tak serta merta, melainkan beberapa tahun kemudian, ketika aku sudah duduk di bangku SMA kelas dua: bertepatan dengan sweet seventeen, aku akhirnya memiliki kumis.

Menyisihkan uang jajan untuk nanti membeli tabloid bola seminggu dua kali (atau belinya patungan bareng teman, yang patungannya lebih besar berhak menyimpan tabloid itu). Beberapa poster Alessandro Del Piero menghiasi kamar seorang aku yang remaja. Jika aku pergi ke warung, tak lupa kuajak ngobrol bola yang punya warung, dengan topik: membangga-banggakan Alessandro Del Piero. Begitu juga di tempat lainnya yang memungkinkan menggelar ngomongin bola, tentu saja di sekolah lebih sering. Dan gambaran ini tak boleh hilang: perjuangan menyaksikan sepakbola jadwal dini hari.

Gambaran itu aku sebut sebagai: gairah kanak-kanak dalam menyaksikan sepakbola.

Gairah kanak-kanak itu sempat perlahan pudar bahkan nyaris punah ketika Alessandro Del Piero sudah tak bermain di Juventus, dipertegas juga dengan hidupku yang suka tak suka mesti berhadap-hadapan dengan masalah laki-laki dewasa: kesibukan agar bisa makan sendiri, atau untuk menafkahi anak istri (bagi yang sudah menikah, saat menulis ini aku belum nikah).

Kegilaanku terhadap Alessandro Del Piero, saat SMP terjadi pula pada kedua temanku, di saat yang sama: saat masih kelas tiga SMP. Bukan nama sebenarnya, sebut saja: Dayat Beckham dan Dadan Bergkamp. Bedanya: Dayat terobsesi sama David Beckham dan Dadan terobsesi sama Dennis Bergkamp. Kami bertiga sama-sama suka bola karena idola masing-masing itu.

Nah, maksudku membawa-bawa Dayat Beckham dan Dadan Bergkamp, karena selepas Alessandro Del Piero bermain di tanah Australia, di tempatku ada acara reunian SMP kecil-kecilan: mengambil tempat di rumahnya Dayat Beckham. Ah, sudah cukup lama beberapa di antara kami tak bertemu pada saat itu, dihadiri oleh sekitar enam orang termasuk aku termasuk Dadan Bergkamp. Ketika obrolan menyinggung bola, kami pada kompakan: sudah jarang-jarang nonton bola. Ini aku artikan sebagai: kami semua sudah kehilangan gairah kanak-kanak dalam menyaksikan nonton bola. Baik Alessandro Del Piero, maupun David Beckham, maupun Dennis Bergkamp, sudah bukan masanya lagi.

Tapi berbeda dengan Dayat Beckham dan Dadan Bergkamp, mereka berdua sudah pada menikah, sementara aku masih sendiri. Sehingga: mereka ada urusan rumah tangga, sementara aku hanya mengurus diri sendiri. Mereka ada kegiatan berlebih (misal: bermain cinta, apalagi saat hujan turun), sementara aku butuh kegiatan biar tak kesepian.

Syukurlah aku menemukan AS Roma. Kepada Juventus aku sudah tak bergairah menontonnya. Tapi saat menyaksikan AS Roma dimulai era kepelatihan Rudi Garcia, samar-samar aku jadi terkenang akan pesta Scudetto AS Roma tahun 2001: aku teringat artis cantik Italia Sabrina Ferilli, saat itu aku masih duduk di bangku SMA, dan aku merasa iri kenapa kalau AS Roma Scudetto ada artis cantik yang berani menari striptis, sementara kalau Juventus yang Scudetto belum pernah kudengar kabar artis cantik berjanji akan melakukan striptis, rasa iri ini naluri lelaki.

Baca juga: Komedi Oh God Oh God Totti Ferilli.

Ditambah aku memang mengagumi sosok pemain nomor sepuluh berkebangsaan Italia, saat itu yang masih bersisa kupikir hanya Pangeran Roma. Saat masih ada Del Piero, jelas 'tak mungkin' mengidolai Totti. Tapi di luar sepakbola, justru Alessandro Del Piero dan Francesco Totti bersahabat amat dekat.

Ada tifosi sejati AS Roma pada diri artis cantik Italia Sabrina Ferilli. Ada sahabat dekat Alessandro Del Piero sekaligus sosok maestro pemain nomor sepuluh Italia pada diri Francesco Totti. Dipertegas, kusaksikan permainan Roma di bawah arahan Rudi Garcia, terlihat bersemangat dan menghibur (meskipun pada akhirnya Roma era Rudi Garcia gagal mendapatkan Scudetto). Tapi makin hari, tiap kali nonton Roma main, makin muncul suka di hatiku, lama-lama gairah itu ada: berkat AS Roma aku menemukan kembali gairah kanak-kanak dalam menyaksikan nonton bola. Bagiku kini (dan mungkin selamanya), bertautan dengan gila bola, AS Roma seperti Alessandro Del Piero. Dan kini kepada Juventus, sepertinya aku follower Radja Nainggolan: Anti Juve. 

#BarangkaliAkuSudahPernahBerceritaMengenaiIni
#TapiIniAkuSedangTakKuatRinduSamaSeseorang
#JadiIniUntukMembunuhRindu
#KamarApak22November2017 :D

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Del Piero Totti Sang Pangeran Cinta.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon