Sunday, November 12, 2017

BETE DAN PERMAINAN LAZIO SIMONE INZAGHI

Tags

Embed from Getty Images
Malam minggu ini aku mengalami bete: bayangkan kau rindu sama update status seseorang tapi kangen itu tak berkesudahan, usaha menunggu yang percuma. Padahal sabtu pagi aku sudah update status begini. "Perutku berbunyi karena tadi jam dua belas malam tak makan: surabi dulu, surabi dulu. Pada saat yang sama aku ingin menulis sepucuk surat untuknya: kamu belum posting baru sudah seminggu. Surabi dulu dan rindu, semangatnya sama: kalau dibiarkan akan salatri lama-lama."

Samar-samar aku jadi teringat situasi Derby della Capitale musim lalu saat Roma masih dilatih Luciano Spalletti. Ada beberapa pertandingan, dua di kancah Serie A, dua di kancah Coppa Italia. Di sini, mohon maaf aku tak mau melihat kembali data-data (agar fakta tersaji secara benar), ini berdasarkan yang kuingat yang berpautan dengan perasaanku menyangkut bete di atas.

Ini maksudku: aku melihat di satu pertandingan Derby della Capitale saat itu, Roma bermain seperti kelelahan, tapi situasi mencoba mengontrol permainan dengan melakukan possesion, sayangnya possesion itu terlihat menjengkelkan ketika ada beberapa umpan yang tak asoy sehingga manuver serangan dapat ditahan dengan baik oleh Lazio, tambah kesal ketika Lazio berhasil menciptakan satu gol dalam satu serangan balik, aku teringat gol yang dicetak oleh Immobile, juga terbayang muka Sergej Savic, dan muka Bastos yang bikin Edin Dzeko di kartu kuning karena Bastos berpura-pura kena injak Dzeko. Jelas, sebagai penggemar Roma, gambaran yang kusajikan itu, bikin bete persis situasi yang kualami ketika menunggu someone yang kurindu tapi terasa sia-sia.

Kebetean akibat someone yang sudah seminggu tak update-update status biarlah itu menjadi masalahku saja, tapi berkaitan dengan kebetean menyangkut gambaran Derby della Capitale yang kumaksud bisa dijadikan sebagai sorotan untuk mengkaji permainan musuh. Sebagaimana musim lalu (ini beda halnya dengan Roma yang ganti pelatih jadi Eusebio Di Francesco), pelatih Lazio masih tetap sama yakni Simone Inzaghi. Satu kata: mengamati permainan Lazio arahan Simone Inzaghi.

Kelihatannya kekuatan Lazio arahan Simone Inzaghi terletak di serangan balik yang cepat. Seperti membiarkan untuk diserang, atau berfokus pada sistem pertahanan yang solid, tapi tak berarti parkir bus, lebih kepada mengurangi dominasi permainan, ini jika berhadapan dengan tim besar (contohnya saat melawan Roma arahan Spalletti musim lalu). Dan kemudian, kuperhatikan saat melawan Milan dan Juventus di musim ini, yang mana kedua pertandingan itu Lazio berhasil memenangkan pertandingan, bahkan saat melawan Milan is Back skornya meyakinkan.

Strakosha kiper Lazio, ini salah satu nama yang mendapatkan perhatianku, saat melawan Roma arahan Spalletti dalam DDC yang kumaksud di atas, aku sampai berkata begini. "Kiper muda Lazio, bagus juga ternyata." Lalu Sergej Savic gelandang tengah muda Lazio yang rajin membantu serangan melalui gerakan seolah muncul dari belakang. Jujur, berkaitan dengan Strakosha juga Sergej Savic, aku baru tahu kalau kedua orang ini patut diperhitungkan sebagai nyawa permainan Lazio arahan Simone Inzaghi. Dan satu nama lagi, yaitu Immobile, kelihatan kembali tajam di kancah Serie A setelah sempat padam saat bermain di Bundesliga. Sementara, Luis Alberto, adalah nama baru yang harus diwaspadai dalam permainan Lazio Simone Inzaghi pada musim ini.

Tapi Roma musim ini berbeda dengan Roma musim lalu, musim ini Roma bersama pelatih Di Francesco, bahkan bikin pelatih Lazio Simone Inzaghi sudah seperti terlihat ketakutan (terbaca dari wawancara Simone Inzaghi kepada media berkenaan dengan Roma musim ini) bagai musuh Mike Tyson di foto itu. Haha.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: SIMONE INZAGHI BENAR.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon