Monday, October 9, 2017

MERENUNG BERSENDIRI BERLARI DARI SEPI

Beberapa jam aku merenung bersendiri. Kepikiran lirik lagu Birunya Cinta yang pas bagian ini paling melekat: Kupuisikan namamu. Kusimpan jadi nyanyian. Kuukir kemesraan di dalam impianku. Tanda kasih.

Aku teringat Bidadari Bermata Jelita. Aku teringat Bidadari yang Sedang Duduk. Aku teringat Merah Mawar. Aku teringat ia yang telah bersemayam di dalam hati. Masih terasa hangat, yaitu Kamu cantik cantik cantik cantik cantik cantik cantik cantik. Masih ada yang bersembunyi belum keluar menjadi kata saking dalamnya terasa, yaitu Bidadari Asalamuallaikum.

Ketika aku melihatnya, debaran ini menyenangkan dada. Boleh jadi rasa ini seperti cinta pertama. Bisa jadi juga rasa ini seperti cinta lama yang dulu pernah kurasa. Yang pasti: rasa ini menukar hampa yang kurasa lama. Menuliskan rasa ini sebagai ekspresi yang kubisa, bila berhasil melakukannya maka aku suka berbahagia.

Aku suka menulis, tapi tak merasa tulisanku bagus. Sudah syukur ada yang bisa ditulis, bikin hati puas, aku tidak tahu juga tak peduli apakah jadi romantis. Telah kubaca garis tanganku begini: tidak bisa memilikinya, ia sudah punya lelaki yang ia cinta. Aku mengerti, ini hanya untuk berlari dari sepi, bukan untuk mengejar bidadari, restui aku sebatas bermimpi.

Prosa Bukan Bola lainnya: ...DAN KAMU YANG BERCAHAYA.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon