Tuesday, October 24, 2017

MERASA DILECEHKAN KARENA MAININ TOTTENHAM DAN HEUNG MIN SON

Embed from Getty Images
Digleu kirim Wasap menanyakan diriku apakah ada di rumah apakah tidak, kujawab ada. Tahulah aku kalau ia kepengin main PES 2013, meskipun di hari-hari sebelumnya ia selalu kalah melulu, dengan kata lain ia tidak jera-jera bahkan pernah berkali-kali dibantai. Saat itu malam minggu, sekitar jam sembilanan. Kami bermain PES 2013 (update terkini, tentu saja) di kamarku.

"Kenapa ndak pilih Roma?" Digleu heran ketika aku memilih Tottenham.

"Bosen menang terus kalau pake Roma," jawabku.

"Yoo ojo Tottenham gitu, mosok Madrid harus lawan Tottenham," dari nada bicaranya, jelas terlihat kalau ia merasa dilecehkan olehku.

Itu, tentu saja, cuma perasaannya saja, pecinta sepakbola tentu tahu kalau Tottenham Hotspur termasuk tim besar di tanah Inggris. Nah, masalahnya ada di ia sendiri, berprasangka kalau Tottenham bukan tim besar, padahal sebenarnya ia suka nonton bola. Barangkali, praduga ia muncul sebab Tottenham ndak populer dimainin oleh pemain PES (setidaknya di kampungku).

"Ojo salah Gleu. Tottenham bagus tauk. Ada Heung Min Son. Harry Kane. Dan Erik Lamela."

"Iyoo tauk. Tapi tetep aja rasane aku koyo gimana gitu kalau Madrid harus lawan Tottenham."

"Itu Gareth Bale juga kan bekas pemain Tottenham."

"Iyoo tauk."

"Dadi gimana nih? Berani ora Madrid lawan Tottenham?"

"Yo wes ra po po."

Memang sebelumnya aku sudah mengamati klub Tottenham Hotspur di permainan PES 2013 (yang terdapat di komputerku). Ada beberapa pemain yang database pes stats-nya ndak ada, tapi berlabel masih pemain muda, sehingga masih bisa ditolerir biarpun ndak ada di dalam susunan skuad, kecuali Juan Foyth. Juan Foyth meskipun database pes statsnya ndak tersedia, tapi kupikir ia harus ada di dalam skuad, aku kali pertama mendengarnya adalah pada saat Juan Foyth ditaksir Monchi di bursa transfer Juli untuk dijadikan Gladiator Roma (yang kemudian jadinya berlabuh di Tottenham Hotspur).

Tidak hilang akal, atribut poin Juan Foyth aku pergunakan atribut poin Federico Fazio stats yang murni dulu ada di PES 2013 (kecuali: body balance, kalau body balance aku pergunakan data physical contact Juan Foyth yang ada di PES 2018), sementara hal lainnya tidak ada kendala, tinggi dan berat badan juga umur bisa dilihat di data pes stats PES 2018. Juga mengenai facepack Juan Foyth PES 2013, aku pun menemukannya hasil browsing Google. Aku ganti satu pemain dari Liga Argentina untuk dijadikan data Juan Foyth. Jadilah Juan Foyth seperti itu: poin keseluruhan 73.

Sebenarnya aku terpukau sama atribut poin di barisan penyerang: Lamela di penyerang sayap kiri, Son di penyerang sayap kanan dan Kane di penyerang murni. Sehingga aku tertarik untuk memainkan Tottenham. Ya, akhir-akhir ini kalau mainin PES suka menggunakan tridente (atau trisula) di lini depan.

Lamela, kita tahu ia dulu dibeli dari Roma, dalam bermain bola ia suka memberi warna. Kane, kita tahu di timnas Inggris ia berstatus sebagai penyerang utama. Sementara Heung Min Son, jujur saja aku baru tahu kalau ia mempunyai atribut poin yang keren.

Heung Min Son inilah yang kemudian bikin kupenasaran, pengin segera menjajal memainkan Tottenham. Rasa penasaran ini dibangun karena secara posisi main, salah satunya ia bisa ditempatkan di pos penyerang sayap kanan, di mana karakter pemain seperti itu di bursa transfer (pasca kehilangan Mohamed Salah ke Liverpool) Roma menjadikan sebagai target man. Herannya, aku tak mendengar Monchi melakukan komunikasi transfer untuk Heung Min Son.

Tahulah aku kemudian kalau di awal memasuki musim ini (musim 2017/2018) Heung Min Son konon kabarnya sempat mengalami cedera (barangkali ini bisa menjadi alasan, barangkali memang Monchi tak tertarik untuk menggaetnya, atau ada pembicaraan dengan Tottenham tapi ndak terendus media bole jadi kan dong), tapi di laga melawan Liverpool pada pekan sembilan kemarin bahkan Heung Min Son turut mencatatkan namanya di papan skor dalam kedudukan empat satu untuk kemenangan Tottenham (jujur di sini aku kurang mengamati sepak terjang Liga Inggris musim ini). Dan dengan pengetahuan terbatas seperti itu, aku kok pengin kalau Roma (bilamana hendak mencari pemain baru, kalau perlu ditukar sama Defrel) mengincar bintang Korea Selatan Heung Min Son.

Bisa ditempatkan di segala lini serang, ditunjang memiliki kecepatan sebagai seorang gelandang, juga bagus dalam menendang, inilah yang kemudian membuatku takjub: Heung Min Son boleh jadi setara dengan Mohamed Salah dan atau mega bintang milik Leicester City Riyad Mahrez.

"Edan tendangan first time sopo iki?!" Digleu terpukau dengan gol yang barusan kucetak: umpan lambung dari tengah Alli disambut dengan tendangan sekali sentuhan Son (mirip-mirip gol yang dicetak oleh Dzeko ke gawang Chelsea hasil umpan lambung Fazio, tapi lebih wow gol Dzeko, kalau gol yang kucetak di PES di sebelah kanan dan jarak umpan tidak terlalu jauh).

"Son... Heung Min Son," Kujawab meniru aksen di film James Bond: Bond... James Bond.

Panjengengan silakan dibaca oge anu ieu: Menerapkan Strategi WhatsApp.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon