Monday, October 9, 2017

Menerapkan Strategi WhatsApp

Embed from Getty Images
Kalau sampeyan kalah terus maen PES, biso-biso sampeyan bakalan dadi kena bully. Paling tidak, fenomena demikian senantiasa terjadi di tempatku, kebetulan sosoknya (yang suka kalah terus maen PES) memang ada. Sebut saja namane: Digleu.

"Piye sampeyan iki, Digleu. Maen PES modiar terus-terusan. Koyo baterai lowbat hapena butut. Haha."

Digleu kalau maen PES lawan aku, ia tak pernah menang, sekalipun, aku ndak bohong, aslilole. Padahal ia suka mainin Real Madrid, yang notabene klub di mana Cristiano Ronaldo ada di situ juga Gareth Bale juga Karim Benzema, tapi piye kalau ndak sengaja aku kasih, doi ndak pernah bisa cetak gol ke gawang Alisson Becker.

Sebelum aku melanjutkan, panjenengan silakan dibaca dulu mengenai Alisson monggo anu ieu: Alisson Becker Musim Ini.

Hingga di suatu hari Digleu berhasil menang melawan aku, itu juga golnya dari tendangan penalti, juga menang hanya sekali-sekalinya. Begini kejadiannya. Seperti biasa, ia mainin Real Madrid, sedangkan aku mainin AS Roma.

Sebab melawan Digleu mudah saja, sehingga pada saat itu aku mulanya main ndak serius, menjurus anggap sepele, menurut yang sudah-sudah meskipun anggap remeh Digleu tetap saja aku suka menang darinya. Aku belum mau cetak gol kalau belum babak dua, kalau perlu nanti saja gol tercipta di injury time babak dua. Tentu saja tidak begitu juga, meskipun anggap sepele tetapi tetap saja aku pengin cetak gol, barangkali maksudnya adalah membiarkan Digleu untuk mengembangkan permainan terlebih dahulu, biarlah sesekali aku gencarkan serangan balik.

"Bentar, bentar..." Digleu pijit pause. "...Iki ada WhatsApp." Dan memang benar pada saat itu hape Digleu berbunyi.

Ora opo-opo, pikirku dalam hati, monggo silakan dibaca dulu WhatsAppnya. Lagi pula di sana pertandingan sedang tidak dalam keadaan genting.

"Bentar, bentar..." Digleu pijit pause. "...Iki ada WhatsApp." Dan memang benar pada saat itu hape Digleu berbunyi.

Ora opo-opo, pikirku dalam hati, monggo silakan dibaca dulu WhatsAppnya. Meskipun di sana pertandingan sedang dalam keadaan genting: Penyerang Edin Dzeko tinggal berhadap-hadapan dengan kiper Keylor Navas. Lagi pula waktune masih agak lama.

"Bentar, bentar..." Digleu pijit pause. "...Iki ada WhatsApp." Dan memang benar pada saat itu hape Digleu berbunyi.

Ora opo-opo, pikirku dalam hati, monggo silakan dibaca dulu WhatsAppnya. Meskipun di sana pertandingan sedang dalam keadaan genting: Penyerang sayap Stephan El Shaarawy tinggal berhadap-hadapan dengan kiper Keylor Navas. Dan walaupun, waktune sudah memasuki pertengahan babak dua. Sehingga, pas dipijit start, El Shaa dadi gagal menciptakan gol.

Tiada aku duga, Digleu berhasil melakukan ini: membikin Cristiano Ronaldo melewati bek kanan Bruno Peres, dan lalu sukses pula mengelabui Kostas Manolas, saat di dalam kotak penalti, apa boleh buat, terpaksa kubikin Juan Jesus menjegal laju pergerakan Cristiano Ronaldo, maksudne bola eh yang kena adalah kakine, sehingga terjatuhnya Cristiano Ronaldo bikin wasit tunjuk titik putih. Kutengok di sebelah, Digleu sumringah. 

Benar, selanjutnya gol bisa diciptakan oleh Digleu melalui tendangan penalti yang diperbuat oleh Cristiano Ronaldo. Kedudukan jadinya, aku tertinggal duluan, sementara waktu tinggal sepuluh menit lagi menjelang sudahan (waktu PES, tentu saja). Dan Roma kini bermain dengan sepuluh orang, sebabne Juan Jesus kena kartu merah.

"Bentar, bentar..." Digleu pijit pause. "...Iki ada WhatsApp." Anehnya, ndak kudengar hape Digleu berbunyi, tetapi ia pijit pause, pada saat Defrel tinggal berhadap-hadapan dengan Navas.

Aku hanya bisa menengok heran. Lalu pada saat Digleu memijit start, di lapangan pergerakan Defrel jadinya loss control, sehingga mampu dikendalikan dengan baik oleh Navas (bolane keburu ketangkap Navas). "Aduuhhh!!!" Keluhku, soalne aku dalam keadaan tertinggal, sementara waktune bentar lagi mau udahan.

"Bentar, bentar..." Digleu pijit pause. "...Iki ada WhatsApp." Anehnya, ndak kudengar hape Digleu berbunyi, tetapi ia pijit pause, pada saat Dzeko mampu meloloskan diri dari sistem pertahanan Real Madrid.

Kutengok ia dengan heran. Lalu pada saat Digleu memijit start, di lapangan pergerakan Dzeko keburu diantisipasi oleh bek sayap Mercelo. "Aduuhhh!!!" keluhku. Waktune memasuki injury time.

"Bentar, bentar..." Digleu pijit pause. "...Iki ada WhatsApp."

"Piye sampeyan, Gleu. Hape ndak bunyi mosok ada WhatsApp. Ojo bohong sampeyan."

"Seriusan."

"Kalau sampe bohong. Tak tarik kaos sampeyan, ngejengkang sampeyan haha."

Pada pertandingan itu, Digleu berhasil menang melawanku, sekali-kalinya, ia menerapkan strategi WhatsApp. Bikin kesel. Rasane dadi pengin koyo Del Piero yang narik kaos Wiltord di Piala Eropa 2000.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Tips Mengobati Luka Sementara Akibat Kekalahan Roma.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon