Tuesday, October 10, 2017

BIDADARI INJAK KAKI TEMAN

Aku pernah melihat dua komedian melucu, satu sengaja menginjak kaki dan yang satu lagi pura-pura menangis. Bikin tertawa ketika yang satu bilang. "Udah jangan nangis, mosok ditinggal pergi ke kebun binatang barang sehari juga nangis, koyo anak kecil saja." Dibalas oleh satunya lagi yang meringis. "Kaki... Kaki aku terinjak sampeyan," sambil tunjuk-tunjuk ke arah tanah.

Setulusnya aku bukan hendak menertawakan ketika aku melihat sebuah foto yang ada bidadari di dalamnya. Jujur, kejadian dua komedian melucu itulah yang kemudian terbesit di pikiran manakala kumelihat foto yang kumaksud. Ini barangkali, ia di sana telah memberikan dua kali kebahagiaan kepadaku, satu karena kehadirannya, satunya lagi ya karena foto itu, kusebut saja foto itu ini: Bidadari Injak Kaki Teman.

Pada umumnya orang-orang berfoto, ya untuk bergaya, atau kalau di foto ya mestilah bergaya, foto itu pun begitu, kulihat bidadari itu bergaya imut (sambil peace) sementara temannya yang terinjak kakinya bergaya jaim (atau mungkin cool).

Barangkali bisa dibayangkan, apa yang terjadi ketika yang imut menginjak kakinya yang jaim, aku terbayang begini: yang jaim sudah tentu mesti menjaga diri untuk tidak serta merta berkata. "Kaki... Kaki aku terinjak sampeyan." Dari sudut ini tertawa itu bisa hadir, demi agar bisa bergaya saat di foto tak apalah menahan sakit untuk sementara waktu. Pun dari sudut ini bisa, ketika menuduh bahwa yang imut (dengan mata polosnya itu) melakukan kesengajaan, bermaksud menggoda yang jaim saat sedang berfoto bersama. Aku curiga, setelah jepret foto itu selesei, mereka tertawa bersama manakala melihat hasilnya.

Monggo dilihat oge anu ieu: MERENUNG BERSENDIRI BERLARI DARI SEPI.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon