Monday, September 11, 2017

Speed Owen dan Hate Torres

Tags

Embed from Getty Images
Sah-sah saja mengaku penggemar sepakbola walaupun tidak suka nonton bola, setidaknya ini menurutku dalam memandang temanku yang namanya sebut saja Reza (Silakan kalau sampeyan mau membayang aktor ternama Indonesia Reza Rahadian, sebab kupikir rambutnya nyaris serupa). Reza mengaku penggemar Liverpool, namun tidak terlalu (atau bahkan tidak bergairah) nonton football.

Ini ketahuan ketika aku dan Reza berkali-kali bertarung main PES, dari mulai saat aku masih jadi penggemar Juventus (saat masih ada Alessandro Del Piero) sampai aku kini (dan yakin akan selamanya) jadi penggemar AS Roma, sementara Reza tetap setia mainin Liverpool.

Hingga di suatu hari aku menaruh curiga (atau aku merasa sangsi) bahwa Reza merupakan penggemar Liverpool sejati, melalui kejadian ini: aku sengaja memberitahu Reza (yang kebetulan pada saat itu ia sedang malam mingguan di rumahku) bahwa malam ini ada main Liverpool, anehnya Reza menanggapinya dengan biasa saja, malah ia memilih main PES sendirian lawan komputer sementara aku (yang tidak mengaku sebagai penggemar Liverpool) nonton pertandingan itu.

"Emang kenapa Za suka mainin Liverpool?" Tanyaku heran.

"Karena ada Owen."

Ingatlah aku (sebagai pemain PS dari mulai Winning Eleven sedari SMP sampai sekarang sudah gede) bahwa Owen di dalam prakteknya bermain bola ia pemain cepat. Sampeyan tentu tahu kalau speed pemain di PS acapkali berpengaruh (bahkan waktu masih zaman Winning Eleven 4, pengaruhnya amat gede, Roberto Carlos saja yang notabene bek kiri bisa jadi striker dan mendadak bisa jadi penyerang danger karena memiliki atribut poin speed 9). Sebagai pemain game, Reza target akhir ia adalah meraih kemenangan, dan Owen telah membantunya di dalam rangka meraih kemenangan, itulah mengapa ia menjadi penggemar Liverpool (Walaupun Owen kemudian sudah tidak main di Liverpool, malah pernah jadi pemain Manchester United, dan sekarang sudah pensiun dari main bola).

Biar enggak bosen maen klub melulu, mendingan tak coba main negara. Ketika itu seperti biasa aku memilih Italia, sementara Reza memilih Spanyol. Mengenai formasi, aku suka tidak lama-lama, sebab aku sudah hafal pemain ini posisinya di sini. Sementara Reza, ia suka lama kalau pilih formasi, di samping ia masih meraba-raba pemain, sebab ia tidak begitu hafal nama-nama pemain bola beserta posisinya di mana. Sehingga ketika kumelihat Fernando Torres (yang pada saat itu masih main di Chelsea) tidak masuk dalam skuad inti timnas Spanyol padahal performanya sedang ngacung, lumrah jika aku heran, dan bertanya. "Za, itu Torres kenapa enggak dimainin?"

"Hate Torres," jawabnya dengan muka serius.

Serta merta kutertawa teringat kepindahan Torres dari Liverpool ke Chelsea.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon