Saturday, September 23, 2017

MENUNGGUMU IBARATE MENUNGGU GILIRAN MAEN PS DI RENTAL

Pernah ada masa di mana aku rajin main PS di Rental, seingatku waktu masih duduk di bangku SMA, saban sore setelah pulang sekolah di Rental PS di dekat rumah. Pada saat itu, Rental PS curiga sedang laku-lakunya, sehingga seringlah aku menunggu giliran terlebih dahulu sesampainya di sana, ndak langsung main. "Berapa menit lagi?"

Ada perasaan jengkel ketika tahu bahwa masihlah lama waktu menunggu giliran main, apalagi melihat yang nunggu giliran ada pula yang lain. Datang jam 4 sore, main-main setengah jam mau azan magrib, ibarate nasi wes dadi bubur (ini nyambung ndak sih). Dadi bete, ini maksudnya, namun apa daya, mosok harus ngamuk-ngamuk, ndak elok.

Perasaan seperti itu, kekasihku, berlaku juga manakala aku menunggu kehadiranmu di jagat ini, melalui postingan update status terbaru. Aku senantiasa bersabar menantikan kehadiranmu, sebab buah dari kesabaran itu telah pernah kurasakan hasilnya, yakni: bikin hati bungah, sebagaimana tiba giliran main PS pada akhirnya menimpaku.

Terkadang malah, aku suka berpikir, masih mending menunggu giliran main PS, menunggumu tak jarang sepenuhnya ketidakpastian. Belum tentu kamu posting baru di pagi hari, belum tentu juga di siang hari, malam hari pun begitulah juga, sering aku dalam sehari kecewa karena berjam-jam menunggu kamu update status namun yang terjadi adalah: kamu ora posting-posting bae. Makin getir, berhari-hari kamu ora posting-posting update status bikin aku khawatir.

Apalah aku, ojo biso kirim inbox, bertanya karo saliro kemana saja, aku takut ada yang marah dan sekaligus takutnya aku kamu ndak berkenan diperhatikan olehku, sebab dikau sudah ada yang memiliki. Piye tresnoku iki, bogoh karo bidadari yang sudah punya salaki. Duh Gusti, kulo nyungkeun dihapunten.

Prosa Bukan Bola lainnya: LAKU INI, KEPENGIN HATI.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon