Monday, September 18, 2017

Membangun Rotasi Pemain Akan Menjadi Kekuatan Roma Di Francesco

Embed from Getty Images
Di musim lalu bersama pelatih Spalletti, menurut pengamatanku, pelatih Spalletti memang jago dalam meracik taktik, inovasi-inovasinya terbukti, semisal bagaimana Radja Nainggolan dadi berperan sebagai AMF, pun dengan formasi 3-4-2-1, serta pula bagaimana Emerson Palmieri menjelma menjadi bek sayap kiri yang jempolan, satu yang kupikir menjadi kelemahan Roma era Spalletti: rotasi pemain.

Pada musim ini bersama pelatih Di Francesco, memang masih terlalu dini untuk menilai bagaimana Di Francesco meracik taktik Roma, setidaknya aku mestilah percaya kepada pelatih walaupun masih terlihat belum meyakinkan (mengingat pertandingan melawan Inter di pekan ke 2 Serie A yang berakhir kalah, dan mengingat pertandingan melawan Atletico di partai perdana Liga Champions Grup C yang berujung draw). Tetapi jika merujuk pertandingan melawan Hellas Verona di pekan ke 4 serie A, optimisme bolehlah menyala. Terutama, mengenai ini: rotasi pemain.

Sudah terjadi, kalau pelatih Spalletti di musim lalu, buruk dalam rotasi pemain, ia terlihat bagai tidak membangunnya, seperti tidak memberi kesempatan kepada pemain-pemain lainnya untuk berkembang. Ini berdasarkan ingatanku saja (aku malas menengok kembali datanya di internet) yang di musim lalu cukup rajin nonton pertandingan-pertandingan Roma. Seingatku, apalagi di lini tengah, padahal Roma main di tiga ajang kompetisi yang berbeda, yang main seolah itu-itu saja, terlihat banget bagaimana Roma tampak kelelahan saat melawan Lazio dalam Derby della Capitale di Semi Final Coppa Italia setelah sebelumnya (yang rehat cuman beberapa hari) Roma menghadapi Villareal dan Inter. Sebab, pelatih Spalletti, ketika itu, tidak membiasakan membangun rotasi pemain dalam tim, semisal: tidak memaksimalkan pergantian pemain di menit enam puluhan, biasanya kalau sudah menit delapan puluhan baru deh Pangeran Roma Totti dimainin.

Dalam Roma vs Verona, harapan kepada pelatih Di Francesco, setidaknya menyangkut urusan rotasi pemain, terlihat terang benderang. Semisal di lini tengah, tidak selalu trio becak De Rossi dan Strootman dan Nainggolan namun Pellegrini diberi kesempatan main dengan cara yang bijaksana: di pertandingan sebelumnya Pellegrini dimainkan di babak kedua, lalu di pertandingan berikutnya giliran ia dimainkan sebagai starting line up, ini maksud atau contoh dari membangun rotasi pemain (setidaknya menurut sudut pandangku). Di lini serang, Cengiz Under (yang notabene sebagai pemain muda berbakat) pun berani dimasukan ke dalam starting line up (mengingat Defrel mainnya gitu-gitu saja). Ini tentu saja akan menjadi kekuatan Roma Di Francesco dalam mengarungi ketatnya kompetisi di tiga ajang yang berbeda (Liga Italia, Coppa Italia, dan Liga Champions).

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Pergantian Pemain dalam Roma vs Atletico.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon