Thursday, August 31, 2017

SEMPAK MASBUK PUNYA DAN DUGAAN ISTRI SELINGKUH

Pak RT Dongseng terlihat sedang memandangi sempak warna ijo yang dirasa bukanlah miliknya, melainkan curiga milik pria lain, dan pria lain itu mengarah kepada tetangga sebelah namanya Masbuk. Dugaan itu dirasa kuat olehnya karena sempak warna ijo itu di bagian dekat merek terdapat tulisan: MASBUK PUNYA. Ditulis dengan spidol yang tak luntur biarpun kena cuci berkali-kali. Yang kemudian membuat ia heran. "Kenapa sempak MASBUK PUNYA ini ada di kolong kasur kamarku?"

Ia jadi teringat akan kisah masa lalu yang pernah ia alami, masa di mana ia masih bekerja sebagai penagih kreditan Bank, ia pernah meninggalkan rumah seorang nasabah genit-tapi-enggak-punya-duit dalam keadaan tidak pakai celana dalam, akibat terburu-buru ia tidak sempat cek kolong kasur, dampaknya ia dipecat dari pekerjaannya karena tagihannya kerap tidak mencapai target. Itu yang kemudian membuatnya menaruh kecurigaan begini. "Jangan-jangan istriku berselingkuh sama Si Masbuk, kurang ajar betul!"

Tergambar jelas raut muka geram yang ditampilkan Pak RT Dongseng bahkan sambil meremas sempak MASBUK PUNYA kuat-kuat.

Padahal selama ini kehidupan rumah tangga bersama istrinya, ia rasa adem ayem saja. Tidak habis pikir bisa-bisanya istrinya berselingkuh, apalagi dengan pria tetangga sebelah. Memang tampak amarah, namun mengingat jabatan RT yang diembannya (yang notabene acapkali nonton berita politik di televisi) ia pun mengenal azas praduga tak bersalah. Sudah seyogyanya ia memutuskan untuk bersikap kalem terlebih dahulu, ibarate hati boleh panas tapi kepala mesti dingin, sebelum perselingkuhan istrinya dengan Si Masbuk terbukti sahih. "Jangan sampai menimbulkan fitnah," pikirnya dalam hati mencoba untuk bijaksana beberapa saat.

Sejak hari itu. Pak RT Dongseng berencana untuk memata-matai istrinya yang diduga selingkuh dengan Si Masbuk tetangga sebelah.

***

Pak RT Dongseng adalah biasa warga RT Hepi Ending memanggilnya bilamana misalkan bertemu di jalan, keseringannya di Dongseng Bengkel. Ketika ia dipecat dari kerjaannya sebagai penagih kreditan Bank, Dongseng yang kala itu masih berusia tiga puluh lima mencoba membuka usaha bengkel motor untuk menafkahi istri dan dua anaknya. Mengingat ia memiliki minat yang besar terhadap oprak oprek motor ditunjang pula dengan kemampuan yang andal dalam perkara perbengkelan motor karena ia pernah menempuh pendidikan di jurusan otomotif. Ibarate Diego Maradona di bidang sepakbola maka Dongseng adalah Maradona-nya di bidang perbengkelan motor, setidaknya kemahirannya dalam perbengkelan motor diakui jago oleh segenap warga RT Hepi Ending.

Memasuki tahun kelima, usaha bengkelnya mengalami kemajuan dengan mempunyai beberapa anak buah yang kebanyakan baru lulus STM, selain daripada itu ia pun bisa modalin istri untuk bersolek serta pula berdagang membuka toko di depan rumah bersebelahan dengan Dongseng Bengkel. Memasuki tahun kesepuluh, dari usaha bengkel ditambah dibantu istri buka toko, kehidupan sehari-hari mereka bisa dikatakan berkecukupan. Ketika Dongseng memasuki usia empat puluh dua, warga Hepi Ending memilihnya sebagai Ketua RT.

Sudah tiga tahun Dongseng menjabat sebagai Ketua RT Hepi Ending, ia belum pernah sekalipun menemukan warganya terjerat kasus perselingkuhan, setidaknya sejauh ia bertugas belum ada laporan mengenai si anu berselingkuh dengan si anu. Sehingga fakta mengenai sempak MASBUK PUNYA berada di kolong kasur kamar (kamar yang biasa ia tidur bersama istri) membuatnya frustasi. "Kalau beneran terbukti, tidak ada alasan untuk tidak melayangkan surat cerai."

Tentu saja jangan ragukan rasa cintanya kepada istri, walaupun sebagai lelaki ia pernah menodai cinta sucinya kepada istri, sempat tergoda nasabah genit-tapi-enggak-punya-duit di masa lalu yang sampai kasus sempak MASBUK PUNYA tidak ketahuan sama istri, tapi bagaimanapun ia tetap cinta istri. Ia bersama istri sudah saling jatuh cinta sejak zaman SMA, cinlok teman sekelas demikian naga-naganya. Pacaran dulu hingga beberapa tahun lamanya sampai jalan menuju pernikahan mulus saja, dapat restu dari kedua orang tua, saat itu mereka menikah sama-sama berusia dua puluh lima.

Kini sudah dua puluh tahun lamanya membina rumah tangga, sudah dikaruniai anak dua, sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di luar kota sebagai anak pertama, sementara yang masih duduk di bangku SMP sebagai anak kedua. Kedua anak mereka laki-laki semua.

***

Pak RT Dongseng memperhatikan istrinya yang sedang menjaga toko dari agak jauhan supaya tidak ketahuan, setengah mendongakkan badan dari posisi di mana ia sedang berdiri di Dongseng Bengkel, sementara beberapa anak buahnya terlihat sedang sibuk oprak oprek motor. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh satu anak buahnya yang sedang menggiring motor masuk ke dalam bengkel seraya ngomong begini. "Ini sepeda motor milik Bu Denok jangan ada yang oprek, biar entar oleh aku saja, orangnya aduhai masih punya body berbentuk gitar walau sudah berumur empat puluh lima tahun bray."

Ujaran itu serta merta bikin Pak RT Dongseng menjadi sensitif, seperti menguatkan dugaan istri selingkuh dengan Si Masbuk. Sebagai RT, tentu ia tahu data diri sebagian besar warganya, termasuk Masbuk: umur dua puluh delapan, sudah menikah, bekerja sebagai sales pulsa.

"Bajingaaaaannnnn!!!"

"Kenapa Bos?" Anak buahnya memandang heran.

***

Tetapi. Seminggu sudah Pak RT Dongseng melakukan pengintaian untuk menggerebek perselingkuhan istrinya dengan Masbuk, hasilnya hanyalah nihil. Ia perhatikan tidak ada yang berbeda dari gelagat istrinya sejauh ini, tidak mencurigakan. Pagi hari seperti biasa sudah berada di toko. Siang hari masih menjaga toko. Sore hari malahan bersama-sama berada di toko. Pergi pulang mengaji senin kamis di sore hari seperti biasa tidak lupa cium tangan. Malam hari jika kebetulan sedang pengen, dan memang di malam kamis sedang pengen sementara istrinya tidak menolak, kecuali malem jumat sebab ia ada jadwal main badminton malam-malam.

Minggu kedua pengintaian, situasi tidak ada yang beda juga, termasuk malam kamis di mana ia sedang pengen sementara istrinya tidak menolak. Kecuali malam jumat sebab ia ada jadwal main badminton jam sembilan pulangnya larut malam sekitar jam dua belasan sementara di kasur dilihat istrinya sudah tertidur pulas seorang diri, penasaran ia sengaja melongok kolong kasur. "Bajingan... ternyata Si Masbuk tidak ada, sempaknya juga."

***

Di minggu ketiga pengintaian tepatnya pada hari kamis, Pak RT Dongseng pura-pura pergi ke luar kota dengan alasan karena ada rekan bisnis yang ingin Bekjul Sang Empunya dibetulin langsung olehnya, dan akan menginap selama satu hari. Istrinya tidak curiga apa-apa, bahwa Dongseng suaminya sedang berpura-pura. Malahan istrinya menampakkan raut muka bangga, tetapi kemudian ia artikan sebagai mimik wajah: asyik bisa bawa masuk Masbuk ke dalam kamar sampai azan subuh.

Ini ide jebakan Pak RT Dongseng, ia dapatkan gara-gara membaca berita istri selingkuh di internet: ada suami yang sengaja menjebak istri karena menaruh curiga telah melakukan perselingkuhan dengan Pria Idaman Lain, sang istri berhasil kepergok berselingkuh setelah ditipu sang suami mau pergi ke luar kota padahal bersembunyi di langit kamar. Tetapi yang akan Pak RT Dongseng lakukan adalah, bersembunyi di kolong kasur.

Karena pura-pura, tentu saja ia tidak pergi ke luar kota, melainkan singgah di warung kopi yang berada di daerah desa tetangga. Nanti rencananya setelah azan asar ia akan kembali pulang ke rumah, kemudian bersembunyi di kolong kasur. Tentu ia tahu persis situasi-situasi yang suka terjadi di dalam rumah. Kamis sore adalah waktu yang tepat untuk masuk ke dalam rumah tanpa ketahuan istri, sebab istri disinyalir berangkat mengaji. Begitu pun tidak akan ketahuan sama anak lelakinya yang nomor dua, Si David sore hari biasanya suka main bola di lapang Pak Haji Joni.

Menunggu sore ia habiskan di warung kopi. Beberapa pelanggan yang datang hampir kebanyakan membicarakan tentang ajang sepakbola antar RT yang akan dimulai besok hari jumat sore. Ia pun jadi agak menyesal karena dengan strategi penggerebakan ini, ia dipastikan tidak akan nonton laga perdana Haji Joni Cup, padahal pertandingan pembukaan mempertemukan RT yang dipimpinnya melawan RT sebelah, apalagi anaknya yang kedua yang bernama David berperan sebagai kapten tim.

"Tapi kasus ini lebih penting," batinnya berkata untuk membulatkan tekad melanjutkan rencana menggerebek perselingkuhan istri dengan empunya sempak MASBUK PUNYA.

Selain pula sempat mendengar komentar beberapa orang, bahwa yang akan memenangkan Haji Joni Cup diprediksi adalah mereka yang kuat dukunnya.

***

Sesuai rencana. Pak RT Dongseng berhasil bersembunyi di kolong kasur tanpa ketahuan sama istri dan Si David, sejak kamis sore.

Sepuluh menit sebelum azan magrib sebenarnya perut Pak RT Dongseng sudah berbunyi kerubuk-kerubuk, namun apa lacur istrinya keburu pulang mengaji. Sehingga semalaman memata-matai di kolong kasur dalam keadaan kelaparan. Jam satu dini hari ia sempat mengeluh geram bagai kesal karena istrinya tak kunjung membawa Si Masbuk ke dalam kamar. Yang terdengar hanyalah bunyi tiang listrik berdentang-dentang dari luar, alih-alih mendapati ranjang yang ditiduri istrinya bergoyang-goyang bak ada gempa. Padahal, sempat ia sengaja instruksikan kepada yang bagian ronda saat itu untuk hadir semuanya, dengan asumsi biar nanti banyak saksi kalau berhasil menggerebek perselingkuhan istri.

Dinanti-nanti sampai azan subuh menggelegar di masjid dekat rumah, namun tak ada gaduh yang menjurus ke adanya adegan selingkuh. Sampai-sampai ia ketiduran setelah iqamat menggelegar di masjid Al Mubarokah.

Pak RT Dongseng tertidur sampai ada yang membangunkan pada hari jumat sore. "Pa, Pa..." Sambil melongok persis mencari siapa tahu ada uang receh di kolong kasur.

Untuk sahutan yang ketiga barulah Pak RT Dongseng tergugah dan menjawab setengah masih ngantuk. "Haah? Ada apa Vid?"

"Lihat sempak David Beckham nggak di sini?"

Mendadak ngantuk Pak RT Dongseng lenyap seketika, ia tercekat. "Sempak David Beckham yang mana?"

"Yang warna ijo."

Fiksi Malem Jumat lainnya: BAJU TIDUR KOSTUM PERAWAT SEKSI DAN MASBUK PUNYA TITIT.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon