Tuesday, August 22, 2017

Cengiz Under dan Komunikasi dalam Sepakbola Antar Kelas

Embed from Getty Images
Dalam Cengiz's first press conference: I feel ready to perform in Serie A di laman resmi AS Roma. Salah satunya ada pengetahuan mengenai bagaimana Cengiz Under dan pelatih Eusebio Di Francesco berkomunikasi, dan itu ditanyakan kepada Cengiz Under. "Kami menggunakan gerakan isyarat untuk saat ini, aku mengikuti pelajaran bahasa Italia dan segera aku bisa berbicara dan lebih mengerti bahasa Italia."

Cengiz Under, adalah pemain muda berkebangsaan Turki yang baru saja didatangkan Roma, dari sepakbola di tanah Turki ke sepakbola di tanah Italia. Umurnya masih dua puluh tahun namun fitur-fiturnya sebelum-sebelumnya sudah memukau sebagai salah satu bakat muda terbaik di daratan Eropa. Di tanah Turki, ia dijuluki sebagai Paulo Dybala dari Turki. Dalam first press conference, ketahuan kalau ia masih mempunyai masalah ini: belum bisa berbicara dan lebih mengerti bahasa Italia.

Dalam kasus ini, masalah komunikasi. Aku jadi teringat akan teman SMA dulu namanya sebut saja Riou, ia pindahan dari Sumatera, sementara kami berada di tanah Sunda. Tentu saja ia tidak mengerti bahasa Sunda, di awal-awal kehadirannya beberapa teman acap mempermainkan ia terkait pengertian bahasa Sunda yang diseleweng-selewengkan untuk sekedar becanda. Misal ketika padahal ia tidak bertanya apakah bahasa sundanya kumis, sementara kami dengan niat guyon memberitahuinya bahwa kumis itu namanya mamas. "Nanti kalau kamu bertemu dengan Pak Guru Matematika, sapa ia dengan memanggil: mamas Pak Guru Matematika leutik. Dijamin, Pak Guru Matematika bakalan senang karena dipuji begitu, Riou." Nah, kalau 'leutik' Riou yang bertanya kepada kami, satu teman menjawab sambil nyengir: leutik artinya bagus.

Segitu saja bagi kami sudah bisa bikin kami semua ketawa, apalagi melihat mimik wajah Riou yang antusias bagai ingin segera praktek. Eits, jangan salah, bukan kata itu saja yang kami selewengkan kepadanya, termasuk momok untuk kapur tulis. Syukurlah, Riou tidak sampai mengaplikasikan ajaran bahasa sunda kami yang sesat itu, apalagi kepada ibu guru.

Saat terselenggara sepakbola antar kelas (saat itu kami kelas dua SMA), bakat Riou bermain bola mengingatkanku kepada mantan playmaker AC Milan Ricardo Kaka, namun yang menjadi kendala saat itu adalah Riou belum bisa berkomunikasi bahasa sunda sementara kami mendatangkan pelatih dari kampung yang kurang akrab menggunakan bahasa Indonesia (dan memang beberapa di antara kami yang lain juga tidak begitu akrab dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, termasuk aku juga acap menggunakan bahasa daerah).

Kupikir situasi Riou dulu di kesebelasan kami dengan Cengiz Under di Roma, terdapat kesamaan, terletak di: faktor bahasa. Memang faktor bahasa ini penting mengingat dulu Riou juga mengalami masalah yang cukup bermakna di dalam memainkan sepakbola di tengah lapangan.

Di sesi latihan yang kelas kami gelar, jelas kelihatan kalau Riou pemain yang bagus (untuk sekup antar kelas), ia mempunyai kemampuan menggiring bola yang baik, ia baik juga dalam mengumpan, ibarate Ricardo Kaka sekup antar kelas. Karena kendala bahasa (tidak menguasai bahasa sunda) saat bertanding di tengah lapangan, bukan sekali dua Riou melakukan kesalahan walaupun pemain bagus. Ketika di pinggir lapangan pelatih teriak. "Riou oper kenca (umpan kiri)." Eh, tapi Riou umpan ke kanan.

Begitupun saat pelatih berteriak. "Riou oper katuhu (umpan kanan)." Eh, tapi Riou malah langsung tendang bola ke arah gawang, dan apa yang terjadi saudara-saudara. "Gol gol gol goooooooolllllllll," teriak komentator bola.

Panjenengan silakan dibaca oge anu ieu: Cengiz Under, Aceng El Bandito.

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon