Tuesday, May 30, 2017

Scudetto della Roma dalam Sesuatu yang Tertunda

Musim ini: 2016/2017. Aku menaruh harapan yang begitu besar bahwasanya klub kecintaanku AS Roma akan meraih Scudetto. Bukan tanpa alasan, dan bukan semata-mata karena telah bersemayam Serigala Roma di dalam jiwaku. O, bukan. Melainkan amat masuk akal juga. Skuad Serigala Roma pada musim ini adalah para gladiator yang nyaris semuanya mempesona secara kualitas permainan sepakbolanya, dari mulai kiper sampai penyerang. Sehingga aku bagai menuntut agar Roma sanggup untuk mengabulkan harapanku pada musim ini: yakni Scudetto della Roma. Namun pada kenyataannya kemudian, seiring perjalanan kompetisi Liga Italia Serie A pada musim ini, AS Roma yang kucinta hanya mampu menjadi nomor dua.

Kembalinya pelatih Luciano Spalletti pada pertengahan musim 2015/2016 sebetulnya memberi angin segar bagi AS Roma. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kinerja Spalletti pada saat itu terbilang bagus bisa membawa Roma berada di posisi ketiga setelah terdapat keterpurukan sebelumnya diakhir era Rudi Garcia. Sehingga terciptalah optimisme bahwa pada musim 2016/2017 patut diduga akan terjadi Scudetto della Roma--aku secara pribadi mengimani Scudetto della Roma 16/17 akan tercipta.

Memang kinerja pelatih Spalleti di musim ini--dalam perjalanannya--sempat membuatku terpukau, setidaknya menyangkut penerapan formasi 3-4-2-1. Tahukah kau bahwa penerapan skema permainan 3-4-2-1 merupakan hasil pola pikir pelatih Spalletti di dalam keterbatasan: terdapatnya beberapa pemain yang cedera dan ada pemain kunci yang mesti terbang dulu ke tanah Afrika untuk membela negaranya Mesir--Iya betul, yang kumaksud adalah Mohamed Salah. Dan hebatnya, pola pikir itu kemudian pelatih Spalletti kali pertama aplikasikan dalam partai yang bergengsi, yaitu dalam pertandingan Derby della Capitale Lazio vs Roma pada pekan ke 15. Hasil akhirnya saudaraku: Lazio 0 vs 2 Roma.

Akan tetapi. Seiring bergulirnya waktu. Kemudian semakin terbacanya kepastian perjalanan AS Roma di dalam tiga kompetisi berbeda: Serie A, Coppa Italia, Piala Europa. Dimulai dengan kegagalan di Piala Europa, pelatih Spalletti hanya mampu membawa Roma sampai ke UEFA Europa League Round of 16, kalah agregat gol melawan Lyon. Lalu gagal pula di Coppa Italia, pelatih Spalletti hanya mampu membawa Roma sampai ke Semifinal, kalah agregat gol melawan Lazio. Dan tambah meringis, ketika di pekan ke 34 lanjutan kompetisi Serie A, Roma kalah melawan Lazio dengan skor begini: Roma 1 vs 3 Lazio. Demikian--hasil di Serie A pekan 34 lawan Lazio--bikin jarak Roma dengan Juventus jadinya melebar 9 poin dengan 4 pertandingan tersisa. Dan pada pekan ke 37, Juventus berhasil mengukuhkan diri sebagai juara kembali di kancah Serie A, terciptalah Scudetto della Juve musim ini. Sementara Roma, jadinya tanpa gelar musim ini.

Ironis memang. Ketika kucoba mentafakuri ini: taktik pelatih Spalletti, dan pertandingan melawan Lazio, pada musim ini. Bermula dari kekagumanku pada pelatih Spalletti di pekan ke 15 sebab telah berhasil menang melawan Lazio melalui penerapan taktik yang berani--dalam kasus ini, bisa mengandung arti bahwa pelatih Spalletti memang jago taktik. Akan tetapi, kekagumanku pada pelatih Spalletti menjadi sirna, ketika pada kenyataannya di Semifinal Coppa Italia melawan Lazio, Roma bagai terlihat tidak berkutik, dan diperparah dengan pertandingan melawan Lazio di pekan 34 Serie A--Roma bagai tak berdaya melawan Lazio. Bila dihadap-hadapkan antara pelatih Spalletti dan pelatih Lazio--Simone Inzaghi--jadinya bagai tersirat Simone Inzaghi lebih jago daripada Luciano Spalletti.

Belum berbicara mengenai bagaimana hubungan pelatih Spalletti dengan Kapten kami Totti pada musim ini yang terlihat bagai tidak harmonis. Belum berbicara mengenai bagaimana rotasi pemain yang dilakukan oleh pelatih Spalletti yang terlihat tidak bagus. Begitulah kupikir. Scudetto della Roma dalam Sesuatu yang Tertunda. Musim depan, semoga bisa, dengan pelatih baru.

"Kenyataan itu pahit. Kenyataan itu sangatlah pahit. Aku merasa disudutkan kenyataan. Menuntut diriku dan tak sanggup kumelawan. Butakan mataku semua tentang keindahan," PADI feat Iwan Fals.


Sumber foto: AS Roma

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon