Saturday, May 20, 2017

Del Piero merasa Sedih atas situasi Spalletti-Totti, dan jika akhirnya Scudetto della Roma

Di hatiku kini, membicarakan Del Piero Totti selalu terasa menarik, bagai curhat kepada teman tentang seseorang yang kusayang. Maka berbahagialah aku ketika kumembuka laman Football Italia terdapat berita AS Roma yang berkenaan dengan Del Piero Totti judulnya ‘Sorry for Totti, Juve buy Italian’ Tayang 19 Mei 2017. Namun ternyata, berita AS Roma itu bukanlah berita yang menyenangkan melainkan berita yang bisa dibilang berupa kesedihan. Kurasakan Del Piero merasa Sedih atas situasi Spalletti-Totti.

Adakah kau ingin tahu isi daripada berita itu. Tidakkah kau penasaran. Inilah dia beberapa pengetahuan yang kutemukan di sana. Marilah kutuliskan kembali di sini.

Beginilah dalam ‘Sorry for Totti, Juve buy Italian’

Pertama. Sorry for Totti berisikan perkataan Del Piero yang menyesalkan atas perlakukan AS Roma terhadap Francesco Totti. Juve buy Italian berisikan tentang saran Del Piero kepada Juventus untuk selalu memprioritaskan membeli pemain berkebangsaan Italia. Demikian dituturkan Del Piero kepada Radio Rai.

Kedua. Siapakah yang lebih baik di antara aku dengan Totti? Aku bagi menjadi dua kelompok, dan Totti ada di kelompok yang pertama.

Ketiga. Apa aku merasa sedih terhadap bagaimana Luciano Spalltetti memperlakukan Totti? Aku menyayangkan bila cerita ini mempunyai beberapa saat yang menyedihkan, namun demikianlah yang terjadi. Sebetulnya hanya Totti, Spalletti, dan AS Roma yang tahu, dan hanya merekalah yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Keempat. Apakah aku akan memainkan Totti melawan Genoa? Ya tentu saja.

Kelima. Untuk poin ini. Maafkan aku saudaraku. Aku tidak tertarik untuk menuliskannya. Ini berkenaan dengan ini: Juve buy Italian. Tidak ada urusannya dengan AS Roma.

Demikianlah.

Tersirat betapa dekatnya persahabatan antara Alessandro Del Piero dengan Francesco Totti. Perlulah dicontoh oleh kita semua, saudaraku.

Del Piero tersirat begitu menyanjung Totti, ia mengelompokkan Totti kepada golongan pesepakbola nomor satu di dunia. Terhadap situasi terkini, dalam arahan Luciano Spalletti pada musim ini, Del Piero menilai amat menyayangkan dengan situasi yang tengah terjadi, Francesco Totti jarang dimainkan oleh pelatih Luciano Spalletti, dan demikian merupakan cerita sedih sesaat dari indahnya romansa Totti dan AS Roma sejauh ini.

Menjadi menarik ketika kemudian kita perhatikan poin yang keempat. Apakah aku akan memainkan Totti melawan Genoa? Ya tentu saja. Disinyalir, jika musim ini adalah musim terakhir Totti, maka partai melawan Genoa merupakan partai terakhir Totti dikancah Serie A--Pertandingan melawan Genoa adalah pekan terakhir Serie A pada musim ini, akan terjadi di Stadio Olmpico.

Sampai aku menuliskan konten ini. Di kancah Serie A musim ini, masih tersisa dua pertandingan lagi: pekan ke 37 Chievo vs Roma, dan pekan ke 38 Roma vs Genoa. Sementara situasi Roma di klasemen berada diurutan kedua dengan raihan poin 81. Di posisi pertama ada Juventus dengan raihan poin 85, dan diurutan ketiga ada Napoli dengan raihan poin 80.

Sampai aku menuliskan konten ini. Mengacu klasemen Serie A. Pertarungan memperebutkan Scudetto masihlah tetap hidup.

Marilah kusodorkan dua pertandingan tersisa milik Juventus di kancah Serie A: pekan ke 37 Juventus vs Crotone, dan pekan ke 38 Bologna vs Juventus. Dan maaf, aku tidak akan membahas dulu tentang Napoli--yang masih berpotensi untuk menyalip posisi kedua Roma, dan bahkan masih mungkin meraih Scudetto.

Jika Juventus berhasil menang melawan Crotone maka yang terjadi adalah berpestalah Juventus. Juventus sukses kembali meraih Scudetto pada musim ini. Dan itu, amatlah mungkin terjadi, namun aku tidak suka membayangkannya, jujur saja.

Maka dari itu, saudaraku. Aku mau membayangkan seandainya di pekan ke 37 Juventus bagai ada angin dan ada hujan terjungkal kalah melawan Crotone di Juventus Stadium. Sementara AS Roma, di kandang Chievo, walaupun tanpa Francesco Totti dimainkan, namunlah Roma sukses membantai Chievo.

Silahkan saudaraku, baca ulang, untuk mencoba juga membayangkannya. Sudah kau baca ulang bayanganku itu. Maka perburuan gelar scudetto jadinya semakin seru sebab mesti ditasbihkan di pekan terakhir. Poin Roma jadi 84, poin Juventus tetap 85.

Terkutuklah Luciano Spalletti jika merasa jumawa bahwa telah berhasil memperseru perebutan gelar Scudetto dengan menyelipkan perasaan tidak membutuhkan Francesco Totti--mentang-mentang pekan ke 37 sukses membantai Chievo tanpa peran Totti di dalamnya, dan untunglah Juventus buntung di kandang sendiri melawan Crotone. Karena aku curiga, menurut yang sudah-sudah, Luciano Spalleti, selalu begitu--tidak memainkan Pangeran Roma Totti, andaipun dimainkan cuman beberapa menit saja.

Maka pertandingan terakhir melawan Genoa, sudah dapat diduga, dengan alasan taktik karena kemenangan adalah harga mati untuk menjaga kans menjaga impian meraih Scudetto, Francesco Totti kembali bagai dinafikan oleh pelatih Spalletti. Oke misalkan Roma berhasil menang. Akan tetapi, tetaplah tidak berpengaruh, jika akhirnya Juventus di kandang Bologna berhasil menang--Juventus yang Scudetto.

Kupikir, mendingan Totti--karena ini merupakan pertandingan terakhir Pangeran Roma--dimainkan dimenit awal melawan Genoa, dan Roma menang. Biarpun yang pada akhirnya Scudetto tetaplah Juventus. Akan tetapi, situasi tersebut telah menyelamatkan kebanggaan Pangeran Roma Totti yang sudah begitu mengabdi kepada AS Roma selama ini.

Maka dari itu. Biar khayalanku membuat hatiku bungah. Ketika aku membayangkan pada pekan ke 37 yang terjadi adalah begini: Chievo vs Roma yang menang adalah Roma, dan Juventus vs Crotone yang menang adalah Crotone. Tiba-tiba aku ingin menjadi presiden AS Roma, karena ini hanya khayalan, maka bisalah aku menjadi presiden AS Roma. Dan apa yang aku lakukan di hari pertama aku menjabat sebagai presiden AS Roma, adalah sesuatu yang anti mainstream, aku putuskan untuk memecat pelatih Luciano Spalletti dan menggantinya dengan Alessandro Del Piero.

Ramailah di berita-berita. Keputusanku itu. Mengundang pro dan kontra.

"Mister Presiden, kenapa anda sampai memecat Spalletti padahal kemarin--saat melawan Chievo--ia sukses membikin perebutan gelar Scudetto masih tetap hidup?" (Karena untunglah melawan Crotone di kandang sendiri Juventus buntung)

"Aku ingin AS Roma klub yang kucinta meraih gelar Scudetto. Dan bukan sembarang meraih gelar Scudetto, melainkan meraih gelar Scudetto secara Drama Korea."

Dengan segala pro dan kontra. Dengan bergulirnya waktu hari demi hari, saat yang ditunggu pun tibalah pekan ke 38. Pertandingan terakhir Francesco Totti. Pertandingan terakhir kancah Liga Italia Serie A. Penentuan siapakah gerangan yang akan berhasil meraih gelar Scudetto.

Beberapa hari sebelumnya, setelah resmi diangkat menjadi pelatih AS Roma, Alessandro Del Piero sudah bagai berjanji: Apakah aku akan memainkan Totti melawan Genoa? Ya tentu saja.

Lalu apakah yang terjadi. Persis khayalanku tentu saja. Roma vs Genoa, yang menang adalah Roma, dan yang muncul sebagai pahlawan adalah Pangeran Roma Totti karena ialah orang yang satu-satunya cetak gol melalui tendangan bebas indah dari luar kotak penalti--serta main full time. Sementara di tempat lain, Juventus, bagai dikutuk oleh orang-orang yang membencinya dengan mendoakan agar menuai kekalahan, pada akhirnya doa-doa mereka diijabah oleh Tuhan, Juventus tersungkur di kandang Bologna. Itu artinya, poin Roma jadi 87, dan poin Juventus tetap 85. Akhirnya Scudetto della Roma tercipta saudara-saudara.

"Francis, kamu berhasil," kata Del Piero.

"Alex, kamu pun berhasil Scudetto dengan satria," sambut Totti--sedikit menyindir.

Del Piero Totti berpelukan.

Tertawalah saudara-saudaraku. Karena tertawa lebih indah daripada bersedih.


"Mengapa kita harus bertemu jika akhirnya hanya seperti ini. Mengapa kita harus bertemu jika akhirnya kau tinggalkan kupergi," Flow.


Sumber tulisan: Football Italia
Sumber foto: These Football Times

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon