Thursday, March 2, 2017

Wallace Error dan Jangan Menyerah Roma

Bila acuannya adalah musim ini: 2016/2017. Maka--menurut catatan saya Bung--Derby della Capitale sudah tergelar dua pertemuan, satu di kancah Liga Italia Serie A pada pekan ke 15, dan satu lagi di kancah Semi Final Coppa Italia Leg 1. Dalam judul nyaris serupa: Lazio vs Roma--itu mengandung arti yang main kandang adalah Lazio.

Samar-samar aku masih ingat--sebab kebetulan aku nonton secara live streaming--beberapa kejadian yang terjadi di Lazio vs Roma Liga Italia Serie A pekan ke 15. Dan aku masih ingat jelas, kejadian gol yang dicetak oleh Kevin Strootman. Laporan Pertandingan yang dilansir laman resmi AS Roma menulis begini: 65’ – GOL! ROMA memimpin! Strootman merebut bola dari Wallace di sisi kotak penalti, dan berlari ke dalam dan men-chip Marchetti dengan mulus! Gol solo yang indah! 1-0 Roma!

Wallace Error Bung. Yang terjadi adalah Wallace Error bagai joy stick PES yang Error. Teriak bungahku yang merayakan gol Strootman jadinya kemudian disertai gelak tawa ketika kutonton tayangan ulangnya. Kalau komentator tivi pasti bakalan ngomong gini. "Ada apa dengan Wallace?"

Full time-nya itu sendiri di laga derby kancah Liga Italia Serie A pada pekan ke 15 adalah ini: Lazio 0 vs 2 Roma. Nah, mengingat pertandingan tersebut, tentunya lumrah apabila kemudian aku sebagai penggemar Roma, demikian optimis menyambut pertandingan laga derby di Semi Final Coppa Italia Leg 1, bahwa Roma akan menang mudah, paling tidak terkenang Wallace Error--sungguh sejujurnya aku sempat curiga bahwa Wallace Error akan kembali terjadi. Sumpah kaya aku amat percaya diri bahwa Roma bakal panen gol--ya paling tidak kosong empatlah kira-kira.

Berdasarkan situasi terkini bahwa Roma secara kualitas tim--tentu saja ini menurutku--saat ini di atas kertas lebih unggul ketimbang Lazio--terbukti dalam partai derby pekan ke 15 Liga Italia Serie A. Ditunjang di pertandingan sebelumnya Roma berhasil menang meyakinkan lawan Inter di kandang Inter satu tiga dalam lanjutan Liga Italia Serie A pekan ke 26. Ketika sudah berhasil menang lawan Inter di Serie A, selang sekitar empat hari kemudian tibalah partai Derby della Capitale dalam Semi Final Coppa Italia Leg 1 Lazio vs Roma, maka kupikir: maaf-maaf saja Lazio, Roma sedang dalam performa yang bagus, siap-siap saja dibumihangus.

Wuiiihhh brother persiapan Roma day kali ini gayanya sudah kayak Raja Salman. Beli paket kuota langsung yang 8 giga. Beli gudang garam merah langsung bungkusan. Beli kopi hitam langsung beli 2 gratis 1 bungkus. Entar malem, sekitar jam sebelasan, rencananya mau memborong goreng tempe sama goreng bala-bala langsung 2 puluh ribu. Ana sehat!

Demikian aku menulis status di fesbuk sesudah gelegar azan isya di masjid samping rumahku selesei berkumandang. Merujuk kepada jadwal kick off jam 02:45 WIB tanggal muda--2 Maret 2017. Sungguh aku telah melakukan persiapan yang good tatkala kumenunggu Roma day Derby della Capitale Semi Final Coppa Italia Leg 1 Lazio vs Roma.

Tibalah kick off--aku menonton live streaming di Sagah TV. Kulihat di awal-awal pertandingan Roma sudah menemukan peluang, satu di antaranya adalah penetrasi Emerson yang kemudian ngasih umpan dari sisi kiri ke Dzeko, namun sayang seribu sayang bola one touch Dzeko melambung jauh melewati tiang gawang. Naga-naganya, di sepuluh menit pertama, angin Roma bakalan menang terlihat menggebu--Roma tampil mendominasi permainan.

Tapi yang terjadi selanjutnya adalah Lazio berhasil unggul melalui gol yang dicetak oleh Sergej--sungguh aku sudah lupa lagi pada menit ke berapa gol tersebut tercipta, dan aku pun tak tertarik untuk mengeceknya, yang pasti gol Sergej tercipta di babak pertama. Di babak pertama, Lazio unggul satu kosong lawan Roma.

Aku pikir Roma tampil mendominasi permainan, namun terlihat bahwa terdapat kerancuan di dalam melakukan umpan sehingga serangan jadi mudah dipatahkan. Dan di luar dugaan, barisan pertahanan Lazio demikian rapat bagai susah ditembus dengan santai. Terkhusus Wallace bek Lazio, kelihatannya joy sticknya baru, waduh--terlihat mampu menempel ketat Salah atau Dzeko tanpa berlaku error.

Justru joy stick Roma yang bagai ada sedikit kendala terutama di bagian kotak dan bulat. Jelas terlihat tendangan dan umpan--terutama lambung--bagai tak beraturan. Sementara Lazio--yang bagai main dengan joy stick baru--selain bagus dalam sistem pertahanan pun cermat dalam melakukan serangan balik cepat terlebih ketika sudah unggul satu gol. Di babak kedua, dengan skema serangan balik, melalui kecepatan akselerasi yang dilakukan oleh Balde Keita, dari sisi kanan Balde Keita umpan ke Immobile, Immobile menyambut umpan tanpa pengawalan menceploskan bola ke gawang Alisson. Full time-nya itu sendiri: Lazio 2 vs 0 Roma. Bom dia para todos, waduh Roma ternyata kalah brother, sumpah aku jadi males untuk menunaikan salat subuh.

Menurut analisa beberapa teman romanisti di facebook, kelihatannya Roma mengalami kelelahan, dan sepertinya aku sepakat dengan pengamatan tersebut. Dilihat dari susunan pemain, jelas terlihat bahwa Roma menggunakan beberapa pemain yang itu-itu saja di starting line up yang sebelum-sebelumnya Roma mendapatkan jadwal pertandingan yang ketat--Roma masih bertarung di tiga ajang kompetisi berbeda. Beberapa teman romanisti pun tetap menaruh keyakinan bahwa Roma mampu membalikan keadaan kelak di Semi Final Leg 2 dalam tajuk Roma vs Lazio, dan aku pun yakin itu. Optimis tiga kosong nanti di leg 2. Kerja keras coach Spalletti. Kerja keras Gladiator Roma. Mari berdoa tifosi Roma. Jangan menyerah Roma!

Roma Roma Roma.

"Jangan menyerah, jangan menyerah, jangan menyerah," D'Masiv.


sumber yang kubaca: asroma.com
sumber foto: espn.uol.com.br

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon