Wednesday, February 1, 2017

Peres dan Emerson Ibaratnya Nakula dan Sadewa dalam Formasi 3-4-2-1 Spalletti

Aku kebetulan menemukan foto yang bagus mengenai Peres dan Emerson, demikian yang kemudian mendorong aku untuk bergairah membicarakan Peres dan Emerson.

Dalam formasi 3-4-2-1 Peres dan Emerson kupikir ibaratnya Nakula dan Sadewa. Kembar. Sama-sama dari Brasil. Peres di sayap kanan. Emerson di sayap kiri.

Terlepas dari hasil mengecewakan pada lanjutan Liga Italia Serie A Sampdoria vs Roma Giornata 22, namun kupikir formasi 3-4-2-1 Luciano Spalletti merupakan temuan yang brilian, salah satunya menemukan duet kembar sayap yang good: Peres dan Emerson.

Bruno Peres merupakan pemain yang didatangkan Roma dari Torino--di bursa transfer juli musim ini--dengan kepiawaian bermain bola yang sudah matang. Roma kepincut dengan gaya main bola Peres saat bermain di Torino dengan posisi sebagai bek kanan dan bisa bermain di sayap kanan. Sebagai langkah transfer karena kehilangan Douglas Maicon yang kontraknya tidak diperpanjang di Roma.

Diawal kedatangannya di Roma bermain bergantian bersama Alessandro Forenzi sebagai bek kanan dalam formasi 4-2-3-1, tapi kemudian Peres dipindahkan ke posisi bek kiri guna menutup lubang yang ditinggalkan oleh Mario Rui yang dibekap cedera panjang. Sehingga, di awal mula Peres bermain di Roma dalam formasi 4-2-3-1, ia bisa main bareng dengan Florenzi: Florenzi sebagai bek kanan dan Peres sebagai bek kiri. Menurutku, di awal-awal bermain bersama Roma, performa Peres tidak secemerlang waktu masih main di Torino, tapi bukan berarti Peres bermain jelek melainkan yah yang sedang-sedang saja.

Perlahan tapi pasti Bruno Peres kelihatannya mampu menunjukkan performa yang good untuk Roma, ia mempunyai kontribusi yang positif dalam permainan Roma arahan Luciano Spalletti, apalagi ketika Roma menggunakan skema permainan 3-4-2-1. Bermain sebagai sayap kanan dalam formasi 3-4-2-1, Peres mempunyai kualitas dalam membantu penyerangan dan juga dalam membantu pertahanan, ia ditunjang dengan kemampuan berlari yang cepat. Walaupun Roma kalah lawan Sampdoria di kandang Sampdoria pada giornata 22 kancah Serie A, namun Peres mampu berkontribusi mencetak gol untuk Roma yang skor akhirnya: 3 vs 2.

Sementara Emerson Palmieri merupakan pemain yang kupikir masuknya masih pemain muda--saat ini umurnya dua puluh dua tahun dan sudah bergabung dengan skuad Roma sejak setahun yang lalu. Sehingga lumrah apabila ia bukanlah pilihan pertama Luciano Spalleti di awal musim ketika masih menggunakan formasi 4-2-3-1. Di awal musim, dari segi menit bertanding, Emerson bagai diuntungkan dengan cedera yang membekap Mario Rui, Luciano Spalletti bagai hanya punya pilihan untuk memainkan Emerson atau Juan Jesus di pos bek kiri, atau memaksakan Peres untuk main jadi bek kiri. Dalam formasi 4-2-3-1, di mana Emerson menjadi bek kiri, kupikir permainannya belum begitu bagus.

Namun, ketika skema permainan Roma adalah 3-4-2-1, kupikir, permainan Emerson--yang berposisi sebagai sayap kiri--amat sangat berkembang, malahan ia jadi bagai tak tergantikan--dalam pergantian pemain, Emerson senantiasa main full time. Kontribusi good Emerson yang terbaru adalah ketika memberi umpan silang mendatar untuk Edin Dzeko sehingga bikin Dzeko mencetak gol ke gawang Sampdoria--walaupun pada akhirnya Roma menderita kekalahan di kandang Sampdoria. Sebagaimana Peres di sayap kanan, Emerson di sayap kiri pun mampu untuk menjadi penyeimbang dalam formasi 3-4-2-1: mampu membantu penyerangan dan mampu membantu pertahanan, dengan sama baiknya.

Dari Mahabharata, Nakula dan Sadewa adalah saudara kembar. Bila melihat bagaimana peran serta kedua sayap dalam formasi 3-4-2-1 Luciano Spalletti, serta mengacu pada Peres dan Emerson berasal dari mana, maka kupikir ini: Peres dan Emerson Ibaratnya Nakula dan Sadewa dalam Formasi 3-4-2-1 Spalletti.

"Peres dan Emerson sangat konsisten di posisi flank," Luciano Spalletti.

sumber foto: asroma.com

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon