Thursday, February 2, 2017

Menyoroti Gerson yang Tidak Jadi Pergi ke Lille dari Roma di Bursa Transfer Januari

Aku sedikit shock juga ketika mendengar kabar mengenai ketidakjadian Gerson singgah di Lille dalam bursa transfer januari ini--tapi sepertinya tidak melebihi shock apabila misalkan aku dituduh chat basaahhh sayaaaaanggg sama artis cantik luar negeri di WA. Sebab kupikir memang sudah resmi deal sebagaimana diberitakan dengan status pinjaman dan hak penebusan, sehingga kuputuskan untuk segera edit transfer Gerson dari Roma ke Lille di permainan PES 2013 yang ada di komputerku saat itu juga. Akan tetapi, kalau tidak salah tiga atau dua hari kemudian, kumendapatkan berita lagi bahwa transfer Gerson dari Roma ke Lille ternyata collapses alias tidak jadi. Gianluca Di Marzio memberi judul ini: Roma, Gerson transfer to Lille collapses. Itu artinya, musim ini, Gerson tetap di Roma.

Sedikit shock, serius.

Setelah aku selesei edit transfer lagi Gerson dari Lille menuju Roma di game PES 2013 yang ada di komputerku. Di kasur sembari kupandangi langit kamar kumencoba untuk merenungi fenomena Gerson yang tidak jadi pergi ke Lille dari Roma di bursa transfer Januari.

Gerson yang kuketahui berhasil didapatkan Roma dari Fluminense dengan perjuangan, di mana Roma bersaing ketat dengan Barcelona untuk mendapatkan tanda tangan talenta muda milik Brasil bernama lengkap Gerson Santos da Silva Mosqueda. Itu artinya, Gerson merupakan pemain muda berbakat yang diramalkan akan menggebrak jagat persepakbolaan Eropa.

Baru di musim ini--2016/2017--Gerson resmi bergabung bersama skuad Roma arahan Luciano Spalletti. Kalau aku perhatikan dari awal musim sampai pertengahan musim, kelihatannya Gerson kurang mendapatkan menit bermain di Roma. Jadi kupikir, bukan berarti label sebagai talenta muda berbakat milik Brasil lantas memudar, sebab meredupnya Gerson masuk akal apabila berpikiran bahwa bukan urusan keahlian bermain bola melainkan perkara jam terbang saja.

Kalau kita mau cermati untuk menelaah bagaimana seorang Gerson ketika resmi milik Roma, terlihat kemudian ia memamerkan jersey Roma bernomor punggung 10. tapi bukan atas nama TOTTI melainkan atas nama GERSON di medsos. Nah, kupikir Gerson sebagai pemain muda, ia telah berlaku lampah yang tidak sopan terhadap sang legenda. Bagaimana nasibnya bermain di Roma di musim pertamanya, demikian kupikir, karena ia telah kualat. Belum apa-apa, ia telah mengundang kontroversi.
Foto Gerson Pamer Jersey No 10. Atas Nama Dirinya

Sebagai pemain muda berbakat, kupikir wajar saja apabila Gerson terlihat bersemangat. Namun, kupikir, sekali lagi, ini urusannya menyangkut jersey no 10. milik Pangeran Roma Francesco Totti. Kalau kata orang yang suka ikut pengajian, Gerson telah takabur.

Gerson bagai mempunyai kepercayaan diri yang tinggi sebagai pemain muda berbakat, akan tetapi kepercayaan diri yang tinggi tersebut apabila urusannya dengan jersey no 10. di Roma, demikian bisa berarti kesombongan yang berujung kualat. Kesannya jadi begini: di awal sebelum resmi bergabung bersama skuad Roma, Gerson bagai tidak menghormati Totti Sang Pangeran Roma karena telah berani-beraninya mencantumkan namanya dalam jersey Roma nomor 10 padahal sang legenda belum memutuskan untuk gantung sepatu.

Kupikir ini merupakan pelajaran bagi kita semua yang mencintai dunia sepakbola. Bahwa sebagai pemain muda berbakat janganlah sampai takabur, punya kepercayaan diri yang tinggi tidaklah salah namun jika demikian menyinggung sang legenda bisa jadi demikian bisa melukai semesta. Itu artinya, kupikir, nasib yang telah menimpa Gerson di Roma, curiga karena kutukan dari semesta: balasan dari semesta karena Gerson bagai tidak punya adab pada Pangeran Roma--sebagai pemain Roma yang masih aktif mengenakkan jersey no. 10.

Jujur, aku kagum terhadap bagaimana Gerson memainkan sepakbola waktu masih main di Brasil--aku menonton videonya di youtube. Sebagai pemain muda, ia kupikir memang pemain yang berbakat. Sebagaimana ciri khas pemain Brasil yang sudah berlabel superstar, ia bagai punya ibaratnya permainan jogo bonito. Bagaimana ia lihai dalam memainkan bola di tengah lapangan. Bagaimana ia piawai dalam melewati hadangan pemain lawan. Gerson dianugerahi: Scissors Skills, Step On Skills, dan Outside Curve. Dalam video tersebut juga terlihat ia mahir dalam melakukan teknik Sombrero. Ditinjau dari segi fisik, gengsturnya juga sudah kelihatan kalau ia merupakan pesepakbola muda yang potensial untuk menjadi fantasia.

Nah, ada bagusnya Gerson segera bertobat terhadap dosa kualat tersebut mumpung masih ada kesempatan bermain di Roma. Memang kelihatannya Gerson sudah tobat terhadap kesalahan tersebut, buktinya sebagai pemain muda berbakat Brasil, walaupun tidak sering dimainkan oleh Spalletti namun tak terdengar ia melakukan aksi indisipliner. Nah, mungkin, nasibnya yang terbilang tidak beruntung--karena kurang jam terbang bermain di Roma--merupakan penebus dosa kualat itu, sehingga mudah-mudahan Gerson setengah musim ke depan bersama Roma, karirnya bisa mujur. Bagusnya, Gerson sungkem dulu sama Pangeran Roma kita Francesco Totti.

Terakhir, ijinkan aku bernyanyi Cinta & Nafsu dari Superglad. "Demi cinta kita rela terbuai manja kata manisnya. Demi nafsu kita rela halalkan segala cara. Tak pandang dosa, tak pandang lelah. Nafsu menggoda, cinta pun kalah."

sumber foto: calciomercato.com

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon