Sunday, February 5, 2017

Bersabarlah Kiper Roma Alisson

Sering kudengar pepatah ini: orang sabar disayang Tuhan. Demikian bisa mengandung arti bahwa aku sering dinasehati untuk senantiasa bersabar. Atas dasar itulah aku pun ingin menasehati kiper Roma Alisson untuk bersabar. Bersabar menunggu giliran menjadi kiper nomor 1. di Roma. Sebab kupernah merasakan bagaimana kasih sayang Tuhan buah dari aku bisa bersabar.

Sebagaimana kita tahu bahwa Alisson di Roma bukanlah pilihan pertama Luciano Spalletti untuk mengawal gawang Roma di kancah Liga Italia Serie A--Alisson hanya mendapat jatah jadi kiper starting line up di Piala Europa dan Piala Coppa Italia: yang notabene secara menit bermain lebih sedikit ketimbang kancah Serie A. Sebagai kiper yang saat ini berstatus sebagai kiper nomor 1. di timnas Brasil tentunya demikian merupakan ujian bagi seorang Alisson.

Kupikir Alisson mesti kuat untuk tetap bersabar. Alisson kupikir bisa belajar dari pengalamanku ketika kukecil dulu--saat masih jadi anak SMP. Dulu bisa dikatakan aku sebagai contoh orang yang sabar, sementara teman-temanku yang lain merupakan contoh orang-orang yang tidak sabar.

Di kampungku dulu ada anak yang punya Nintendo--namanya sebut saja Asep. Saat itu Asep merupakan anak satu-satunya di kampungku yang punya permainan Nintendo di rumahnya. Sehingga wajar kalau di saat sepulang sekolah, rumahnya Asep seperti selalu dikunjungi oleh teman-teman sepermainan Asep--termasuk juga aku.

Seperti biasa, kalau sedang ngumpul di rumahnya Asep, kami suka termangu menyimak menyaksikan bagaimana Asep bermain Mario Bros sendirian. Asep terlihat bermain asyik sendiri. Kalau ia dapat bonus terlihat raut muka senang. Tapi kalau Mario Bros terjatuh terus nyungsep terlihat mukanya geram, dan kegeraman itulah yang kemudian bikin Asep untuk gemas ingin main lagi Mario Bros, jadi walaupun sudah beberapa kali Asep game over namun kami hanya bisa terpukau sembari di hati kami masing-masing tersimpan harap agar kelak dapat giliran bermain Mario Bros--seingatku Asep kalau bermain Mario Bros di Nintendo inginnya Player 1 saja yang main.

Mau tiba giliran bermain eh tiba-tiba azan asar berkumandang, tentu saja kami harus segera enyah dari kumpulan sebab ayahnya Asep sudah bergelar Haji dan juga menjabat sebagai Ketua DKM: beliau menyuruh kami semua untuk segera menunaikan salat asar jangan main game melulu. Sesudah menunaikan salat asar--saban sesudah menunaikan salat asar aku tidak pernah lupa untuk berdoa agar aku suatu saat nanti bisa merasakan bermain Nintendo--biasanya suka ada acara kartun seru di televisi, sehingga Asep suka memutuskan untuk mendingan nonton kartun daripada melanjutkan main Nintendo, dan sesudah nonton film kartun biasanya kami suka teruskan dengan bermain bola di lapangan milik ayahnya Asep--jadi tanah yang luas itu milik Pak Haji--sampai terdengar azan magrib.

Hingga pada suatu hari yang kebetulan setelah azan asar tidak ada film kartun di televisi. Seperti biasa, sebelum azan asar terlihat Asep asyik sendiri bermain Mario Bros sementara kami hanya bengong terpaku menunggu giliran bermain--malahan ada yang sampai ketiduran, kalau tidak salah yang ketiduran adalah namanya sebut saja Oyan. Setelah selesei menunaikan salah asar, Asep memutuskan untuk kembali bermain Nintendo, dan kami pun turut ikut ngumpul kembali.

Di sinilah ujian kesabaran sedang melanda kami, semenit sebelum azan asar Asep sudah menawari kami untuk bermain namun keburu azan berkumandang, tapi setelah beres menunaikan salat asar Asep kembali bermain Nintendo asyik sendiri seolah lupa terhadap tawarannya kepada kami. Kami saling beradu pandang, pandangan mata kami masing-masing seolah kompak menyiratkan ini: buruan ingatkan Asep terhadap tawarannya tadi. Maklum namanya juga anak kampung, kami pada malu untuk melakukan interupsi.

Sampai jam lima sore Asep tetap enjoy bermain sendiri, tapi sepertinya kesabaran Oyan sudah goyah. Oyan mengajak kami yang lain untuk mendingan bermain bola di lapangan daripada harus bengong menyaksikan Asep cekikikan sendiri. Tidak sebagaimana temanku yang lain, saat itu aku tetap bersabar untuk menunggu giliran bermain, kupikir nanti juga Asep ada jenuhnya bermain sendirian. Terbukti, setelah Oyan dan teman-temanku yang lain pergi, sementara aku masih bersabar menanti giliran main Nintendo, Asep berkata ini. "Oyan udah pergi, ayo kita main berdua Yar... Si Oyan kalau main takutnya merusak joystick, kamu tahu sendiri bagaimana Si Oyan bermain bola di lapangan, tidak kenal lapang basah main gabruk saja."

Akhirnya aku bisa main Nintendo. Tapi saat itu aku bukan bermain Mario Bros, melainkan Street Fighter. Buah dari doa dan sabar.

Nah, maka dari itu bersabarlah kiper Roma Alisson. Wojciech Szczesny, musim depan, kemungkinan bertahan di Roma peluangnya kupikir 30%, sementara 70% ada kemungkinan kembali ke Arsenal. Lagi pula musim ini peluang untuk Roma meraih treble winners masih terbuka, itu artinya akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Alisson menjadi bagian dari skuad Roma musim ini walaupun bukan kiper utama di kancah Serie A. Dan kelihatannya, Alisson mengikuti saran-saran dari orang-orang Brasil yang mengerti sepakbola, agar ia tetap bersabar di Roma, menanti giliran menjadi kiper nomor 1. di Roma. Dan ia pun kelihatannya sangat termotivasi untuk membawa Roma menjuarai Piala Europa dan Piala Coppa Italia di mana kedua ajang tersebut ialah yang menjadi kiper utama Roma.

Terakhir, ijinkan aku bernyanyi Suara Hati dari Superglad. "Untuk semua rasa cinta pernahkah kita saling mengalah. Untuk semua rasa rindu pernahkah kita saling menunggu."

sumber foto: forzaroma.info

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon