Sunday, January 8, 2017

Satu Sinar Harapan Scudetto della Roma

Roma jangan sampai kehilangan harapan walaupun masih berada diurutan kedua sampai pekan ke 18, justru ada sinar terang untuk menggapai impian: SCUDETTO DELLA ROMA. "Bila Roma menang di kandang Genoa nanti malam jam sembilan, itu artinya Scudetto della Roma bisa jadi kenyataan," demikian saya menulis status di facebook menjelang pertandingan antara Genoa vs Roma Giornata 19 Liga Italia Serie A 2016/2017.

Saya berpendapat berdasarkan klasemen sementara Liga Italia Serie A sampai pekan ke 18, ambil tiga besar: Juventus, AS Roma, AC Milan. Sebelumnya, di kandang Genoa, Genoa sukses menaklukan Juventus tiga satu. Sebelumnya, di kandang Genoa, Genoa sukses menaklukan AC Milan tiga kosong. Atas dasar tersebut, masuk akal kelihatannya saya punya pendapat, bukan sekedar emosi semata.

Sebelum pertandingan Genoa vs Roma, saya sudah optimis bahwa Roma bakalan sukses meraih poin 3, optmisme yang datang dari hati berdasarkan emosi sebagai Romanisti, lumrah saya punya optimisme seperti itu sebab di dalam jiwa saya terkandung Srigala Roma. Dan pertandingan pun dimulai, saya nonton pertandingan melalui streaming internet. Nonton sendirian di dalam kamar, sambil tiduran di kasur. "Forza Roma!"

Tuh kan baru juga menit-menit awal tapi Roma sudah mendapatkan peluang melalui Edin Dzeko, peluang yang bagus, terlihat indah, umpan silang dari kiri layar kaca, lumayan jauh meluncur hingga bola sampai di kotak penalti Genoa disambut oleh Dzeko namun sayang seribu sayang berhasil dimentahkan oleh kiper Genoa Mattia Perin. Kemelut yang terjadi tersebut kemudian bikin Perin cedera, kiper Genoa itu tampak mengerang kesakitan sambil pegang kaki. Tidak lama kemudian, di 10' menit awal babak pertama Mattia Perin pun terpaksa mesti diganti oleh kiper cadangan Genoa, tapi saya berdoa semoga cedera Perin tidak parah.

Dari situ kemudian saya curiga, kemenangan Roma atas Genoa di kandang Genoa akan lebih terbuka, kini bukanlah Perin yang jadi penjaga gawang Genoa melainkan kiper cadangan bernama Eugenio Lamanna, apalagi waktu main masih terhitung lama. "Ayo Roma kamu pasti bisa!"

Pertandingan berlangsung menurut saya seru. Roma kelihatannya menggunakan formasi 3-4-2-1, dan tampil menyerang. Namun Genoa pun, karena main di kandang, mereka pun tampil menyerang. Sehingga tercipta saling jual beli serangan, dan tercipta beberapa peluang, baik dari Genoa maupun dari Roma. Saya masih ingat, Roma salah satunya berhasil mendapatkan peluang dari Radja Nainggolan, kejadiannya hampir serupa dengan tragedi saat Radja Nainggolan sukses cetak gol ke gawang Lazio dalam Derby della Capitale, namun sayang seribu sayang, tendangan Nainggolan kali ini melenceng jauh dari gawang.

Barulah di menit ke 36' Roma sukses menggetarkan jala gawang Genoa melalui gol bunuh diri Armando Izzo. Umpan Bruno Peres dari sisi kanan layar kaca kemudian bagai terjadi deflection mengenai kaki Izzo dan bola lalu menggelinding masuk ke gawang yang dijaga oleh Lamanna. "Yes!... One nil for Roma," teriak saya girang sambil sempatkan diri bangkit dari kasur untuk melakukan selebrasi bergaya pemain badminton sukses melakukan smash. Babak pertama berakhir, Roma berhasil unggul satu dan bisa jadi demikian bikin coach kita Spalletti nyengir.

Waktu jeda untuk nanti memulai babak kedua, saya pergunakan untuk melihat status facebook saya. Kalau saya perhatikan, beberapa teman yang bukan Romanisti, paling tidak dua orang teman saya, oknum Milanisti dan Interisti yang kebetulan berkomentar, bagai mendukung terciptanya Scudetto della Roma dengan alasan asalkan jangan Juventus saja. Berarti demikian masuknya doa juga untuk Roma, sehingga terima kasih untuk doanya.

Saya merasa sepertinya semesta turut berdoa untuk Roma, paling tidak di partai melawan Genoa. Sebelumnya, di bursa transfer januari, Genoa telah kehilangan Tomas Rincon yang hengkang ke Juventus, dan kehilangan Leonardo Pavoletti yang hengkang ke Napoli. Kemudian, kiper nomor satu Genoa dilanda cedera saat pertandingan Genoa vs Roma dimulai. Lalu gol yang tercipta hasil own goal Izzo. Tidak diduga, dua teman facebook saya yang bukan Romanisti, turut membela Roma ketimbang Juventus untuk meraih Scudetto. Dapat diterima oleh akal sepertinya ketika saya sekali lagi menyebut ini: semesta turut berdoa untuk Roma. Diakhir pertandingan Roma berhasil mempertahankan keunggulan, jangan lupakan pula penyelamatan Szczesny di babak kedua menjelang akhir pertandingan, sehingga papan skor FT menunjukkan ini: Genoa vs Roma, kosong vs satu.

Itu artinya, marilah kita sambungkan: Genoa vs Juventus, tiga vs satu; Genoa vs Milan, tiga vs kosong; sementara Genoa vs Roma, kosong vs satu. Boleh dong bila kemudian saya menyebut situasi tersebut sebagai ini: Satu Sinar Harapan Scudetto Della Roma. Semoga selanjutnya sampai akhir musim tiba, semesta senantiasa berpihak sama Roma.

"Bila kita satu nyawa maka kita pasti bisa. Kuatkan hati bersama tak kenal kata menyerah, kita satu jiwa," Superglad feat. Ras Muhamad.

FORZA ROMA!

sumber foto: guardian.ng

Comments
2 Comments

2 komentar

Blom tentu bang
Walau roma menang lawan genoa
Yg dapet scudeto itu milan

Harapan saya sepak bola Indonesia bisa seperti ini, berjaya di mata dunia


EmoticonEmoticon