Tuesday, January 3, 2017

Roma Tidak Butuh Rincon (Seruput Dulu Susunya Ramdan Sissoko)

Ada cerita menarik mengenai teman saya sekaligus tetangga saya namanya sebut saja Ramdan Sissoko. Ia adalah penggemar Juventus. Dulu waktu saya masih jadi penggemar Juventus, waktu zaman masih ada Alessandro Matri di Juventus, saat Antonio Conte mulai melatih Juventus, saya dan Ramdan Sissoko plus Ko Bil Lee memutuskan untuk nonton bareng pertandingan Juventus di rumah saya. Jadwal mainnya nanti subuh. Kami persiapan sudah sedari salat isya.

Kalau saya saat itu sudah terbiasa suka begadang, akan tetapi berbeda dengan Ko Bil Lee dan Ramdan Sissoko yang notabene mereka berdua kalau nggak salah saat itu masih berstatus sebagai anak SMA. Sehingga, mereka saya suruh tidur dulu di ruang tamu, sementara saya sendiri memang ada kerjaan ya di kamar: kutak ketik gitu deh mengejar mimpi ceritanya saat itu saya ingin jadi penulis novel.

Saya lihat jam di komputer, saya curiga di televisi pasti komentator dan pembawa acara sedang ngobrol, maka dari itu saya pun segera membangunkan Ko Bil Lee dan Ramdan Sissoko.

"Bangun... Bangun!"

Seperti kebanyakan orang dibangunkan, begitu pula mereka berdua, tidak ada yang ganjil.

"Kalau mau nyeduh kopi pergi aja ke dapur, tapi cuman ada kopi hitam," kata saya ramah ingin memuliakan tamu.

Eh ternyata mereka berdua bawa bekal sendiri. Ya, bagus kalau begitu. Tapi tetap saya suruh mereka untuk pergi ke dapur sendiri, silahkan seduh sendiri bekal minuman masing-masing. Sementara saya sendiri, dari tadi, sesungguhnya sudah minum dua gelas kopi hitam, jadi tak usahlah saya ngopi lagi saya optimis nggak bakalan ketiduran.

Tiba-tiba saya tersenyum ketika sekembalinya mereka berdua di ruang tivi, tepatnya saya tersenyum karena gelas yang sedang dipegang oleh Ramdan Sissoko. Lucu saja. Itu Ramdan Sissoko menyeduh segelas susu. Kalau Ko Bil Lee, menyeduh kopi susu.

Di layar kaca tampak pertandingan sudah dimulai. Kami bertiga terpaku menonton. Sesekali Ramdan Sissoko menyeruput susu, dan Ko Bil Lee menyeruput kopi susu. Sementara saya pegang-pegang rambut yang saat itu masih agak-agak gondrong tapi depannya sudah agak-agak rontok, maklum sudah kebiasaan.

Belum juga pertandingan di layar kaca memasuki menit dua puluhan, akan tetapi sudah bikin Ramdan Sissoko matanya merem melek bagai masih mengantuk akibat kurang tidur. Nah, barulah pertandingan di layar kaca memasuki menit ke tiga puluhan, Ramdan Sissoko terdengar mendengkur. Tentu saja demikian bikin saya dan Ko Bil Lee jadi saling beradu pandang, serta merta saya dan Ko Bil Lee tertawa. "Pengaruh minum susu tuh Bil."

Demikianlah cerita menarik mengenai Ramdan Sissoko. Ceritanya mau nonton bola, eh tapi malah ketiduran, maklum dopingnya susu, bukan kopi atau kopi susu. Ah, lucuuu.

Kini Ramdan Sissoko sudah jadi pengangguran, ia sudah hidup dalam kebebasan, sebab ia bukan anak SMA again, sementara saya sendiri sudah membelot jadi penggemar AS Roma dan pernah merasakan naskah novel ditolak penerbit. Saat itu sore hari saya mau membeli kopi ke warung seberang, saya ketemu Ramdan di sana. Saya ajak Ramdan untuk nongkrong di teras rumah saya, akan tetapi ia mau ikut saya nongkrong dengan catatan ditraktir beli susu harga tiga ribu lima ratus terlebih dahulu. Kebetulan saya sedang ada duit saat itu, maka dari itu saya kabulkan permintaan Ramdan. Alhasil, selanjutnya saya dan Ramdan nongkrong di teras rumah saya. Saya sambil seruput kopi hitam, dan Ramdan sambil seruput susu putih.

Saat ngobrol ketahuan bahwa Ramdan Sissoko cukup update juga bermain facebook, dan tentunya, sebagai Juventini ia me-like halaman komunitas juventini, dari sana mungkin ia mendapatkan kabar bahwa Juventus sukses mendapatkan Tomas Rincon dari Genoa yang notabene berhasil mengalahkan Roma dalam pemburuan Rincon di bursa transfer.

"Pemain bagus pasti bakalan milih Juventus," bangga Ramdan sesudah menyeruput susu gratisan.

"Ah, Roma tidak butuh Rincon, Dan..." kata saya tak mau kalah sambil kemudian seruput kopi. Bagai mendapatkan pencerahan saya pun lanjut ngomong gini. "...Roma sudah punya Nainggolan."

Tampak Ramdan manggut-manggut bagai bingung mau ngomong apa lagi sebab ia tahu bahwa dulu Juventus sempat kepincut sama Radja Nainggolan, dan ia pun sadar bahwasanya Radja Nainggolan adalah pemain yang bagus.

"Pemain bagus seperti Nainggolan lebih memilih bertahan di Roma, ogah main di Juventus," seru saya penuh kemenangan.

Saya lihat Ramdan di sana bagai tak berkutik, bagai bingung mau ngomong apa sebab apa yang saya ungkap adalah fakta. Makanya saya terus ngomong lagi ini. "Seruput dulu susunya Ramdan Sissoko, sok ah jangan malu-malu!"

Begitulah... :D

"Penderitaan adalah susu manisnya filsafat," William Shakespeare.

sumber foto: thesun.co.uk

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon