Thursday, January 26, 2017

Minum Kopi Bersama Sabrina Ferilli Membicarakan Peluang Scudetto della Roma Musim Ini

Malam yang dingin karena sedari tadi sore hujan turun membasahi bumi. Tidak sebagaimana hujan sore tadi, hujan malam ini tidak disertai gelegar petir yang bikin tiba-tiba aku sembunyi di bawah kasur, hujan malam ini hanyalah hujan cukup deras saja dengan ritme yang teratur. Aku berada di kamarku sendiri.

Sambil tiduran di kasur sembari kubermain facebook di hape: alhamdulillah sehari ini rezekiku perkara makan good. tadi siang habis beres posting blog makan dgn semur ikan nila tp tetap enak walaupun tdk ada sambal, baru juga beres makan ibuku pulang sembari mbawa baso dari kota, kupikir aku kenyang tp bolehlah kalau basonya saja apalagi pedas, saat kumelahap baso pedas pdhl sdh makan kujadi teringat akan artikel yg baru kuposting, kelihatannya aku salah data menyangkut rudi garcia, seharusnya musim pertama edin dzeko d roma adalah musim ketiga rudi garcia melatih roma, sembari makan baso segera kubetulkan kekeliruan tersebut sampai tak terasa baso udah habis.

barusan aku makan msh dgn semur ikan nila sisa tadi siang masih ada, tp kali ini ada sambal dan juga lalap. makan barusan enaknya melebihi makan tadi siang.

tapi perkara duit, msh alhamdulillah aku punya seribu lima ratus d dompet. jd bingung, duit seribu lima ratus bagusnya dibeliin apa, apa kopi hitam apa kopi susu. coba kalau di dompet kupunya duit sejuta, sdh pasti aku tdk bakal bingung utk beli susu dua.

Demikian status facebookku.

Kalau inget susu aku jadi suka inget sama Sabrina Ferilli, Mamma Roma. Dulu di musim 2000/2001 Sabrina Ferilli telah menjadi bagaikan susu untuk anak asuh Fabio Capello--dalam kepemimpinan Pangeran Roma Francesco Totti di tengah lapangan--dalam meraih Scudetto della Roma 2000/2001.

Bagai di film bergenre fantasi tiba-tiba saja kudengar ketuk pintu di luar rumah. Kupikir siapa gerangan hujan-hujan begini datang bertamu ke rumahku. Kuberanjak dari kasur untuk kemudian berjalan keluar kamar guna mencari tahu siapakah gerangan yang datang.

Bagai di film bergenre drama percintaan ternyata yang datang adalah seorang peremuan cantik. "Ijinkan aku numpang berteduh di sini," katanya seraya menyilangkan kedua tangan sembari menggigil kedinginan. Tentulah kutahu siapa gerangan dirinya, sebab ialah yang terbayang di kepala, Sabrina Ferilli Sang Mamma Roma.

Bagai seorang gentleman di film komedi romantis segeralah aku mengambil handuk untuk kuberikan kepadanya. Bagaimana aku memberikan handuk kepadanya: tangan dan mata bagai tak senada--silahkan dibayangkan sendiri saja semoga kau akan ketawa oleh karenanya.

Usai ia mengusap-ngusap rambutnya dengan handuk tiba-tiba aku kepikiran untuk menawarinya mengganti bajunya yang basah, kupikir takutnya ia nanti masuk angin. Aku berpikir bahwa kelihatannya kolor bola dan jersey bola punyaku bakalan muat dipakai olehnya. Dan tawaranku ia terima dengan senang hati ternyata. O, tentu saja aku suruh ia untuk ganti baju di kamarku saja sementara aku menunggu di ruang tamu donggg.

Uangku hanya punya seribu lima ratus, jadi hanya cukup untuk beli kopi hitam satu, tapi untunglah ternyata ia bawa susu malahan dua, tapi aku sungkan apabila minta susu miliknya sehingga walaupun aku ingin susu namun biarlah aku seruput kopi hitam saja.

Guna menanti hujan turun mereda, kami berdua memutuskan untuk berbincang ngobrol-ngobrol mengenai Roma di sofa merah ruang tamu, lagi pula biar aku bisa singkirkan gelora nafsu yang tadi sempat berkibar--akibat kemeja putih yang kebasahan sehingga terlihat transparan.

"Apakah kamu percaya bahwa Roma musim ini akan meraih gelar scudetto?" Tanyaku memulai pembicaraan setelah menyeruput kopiku sekali.

Sebelum menjawab ia tersenyum terlebih dahulu seolah-olah apabila ngomongin Roma meraih Scudetto selalu bikin dirinya bergairah. "Aku percaya Roma bakalan meraih Scudetto musim ini."

Kupikir jawabannya yang demikian atas dasar jiwa Serigala Roma yang bersemayam di dalam kalbunya, berdasarkan emosi sebagai romanisti. "Bisa tahu alasan logisnya?"

"Aku setuju dengan pendapat Aldair di laman resmi AS Roma mengenai skuad Roma musim ini dalam arahan Luciano Spalletti, bahwa Roma harus yakin mereka cukup bagus untuk memenangkan semuanya, tidak terkecuali Scudetto..." Perkataannya belum beres lanjutannya ada di bawah ini.

"...Setuju dengan pendapat Aldair bahwa statistik yang dihasilkan Roma sejauh ini cukup bagus untuk memenangkan Scudetto. Yang perlu ditingkatkan adalah mengenai mentalitas, dan kelihatannya skuad Roma sudah mulai membenahi mengenai mentalitas ini. Cara Roma bermain sejauh ini sudah benar untuk menuju impian meraih Scudetto della Roma musim ini. Roma memiliki beberapa pemain yang hebat. Dan performa tim Roma saat ini sedang bagus, Roma saat ini mempunyai segalanya untuk tetap bertarung sampai akhir. Lagi pula Juventus sebagai rival terberat bukanlah tim yang tidak terkalahkan," ia berkata demikian bersemangat.

"Itu hati-hati susumu tumpah," timpal aku ketika kulihat gairahnya berkata bagai seorang pidato Aksi Damai--sembari kedua tangan berpeta.

Dibilangin hati-hati susunya tumpah, ia tersenyum sumringah.

"Apakah kamu akan mengumbar janji lagi untuk musim ini sebagaimana dulu kamu berjanji jika Roma meraih gelar Scudetto 2000/2001?"

Tiba-tiba kulihat ada bayang kilat menyala samar-samar, mendadak aku pun jadi ingin segera bersembunyi di bawah kasur, sembari menutup kedua kuping kudengar suara dentum gelegar petir. Spontan aku pun mengucap takbir.

"Membuat aku berpikir secara terpola kau yang tak bisa kumiliki. Membuat aku bertanya apakah kau bisa ikut denganku semalam saja," Superglad.


sumber yang kubaca mengenai Aldair dari asroma.com dengan judul artikel Aldair: Roma harus yakin mereka cukup bagus untuk memenangkan semuanya.

sumber foto: alchetron.com

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon