Monday, January 23, 2017

Edin Dzeko Merupakan Bosanski Dijamant yang Bisa Bikin Scudetto della Roma Tercipta

Lelaki Bosnia kali pertama mendarat di Roma demikian mendapatkan sambutan yang hangat dari tifosi Roma, lelaki Bosnia itu bernama Edin Dzeko. Saat itu pecinta sepakbola sudah sama-sama tahu bahwa Edin Dzeko merupakan penyerang jangkung yang termasuk garang karena bikin gol adalah bagai sudah menjadi kebiasaan baginya dalam bermain bola, lelaki Bosnia and Herzegovina itu kalau main bola berstatus sebagai sang bomber.

Kedatangan sang bomber Edin Dzeko di Roma adalah bagian dari strategi transfer Roma untuk bikin Roma meraih kejayaan Scudetto della Roma 15/16 (apalagi di Roma sudah ada lelaki Bosnia lainnya dalam diri Miralem Pjanic), setelah sebelumnya Roma di musim pertama dan kedua Rudi Garcia di luar dugaan mampu bermain beringas di awal-awal kompetisi walaupun diakhir musim harus rela untuk menjadi nomor dua. Nah, di musim pertama kehadiran Dzeko di Roma, ibaratnya Roma di musim ketiga era Rudi Garcia mendapatkan amunisi tambahan yang good untuk mewujudkan harapan publik Roma agar Roma mampu meraih gelar scudetto musim 2015/2016.

Di musim pertama Edin Dzeko bermain di Roma, sesungguhnya demikian adalah momentum untuk Roma berjaya di kancah Liga Italia Serie A, sebab di satu sisi hal tersebut bikin Roma bertambah kekuatan ditunjang telah matangnya taktik Rudi Garcia, di lain tempat pun sang rival Si Nyonya Tua Juventus baru saja ditinggal pergi oleh bomber Carlos Tevez yang hengkang ke Boca Juniors. Itu artinya, bisa dibilang kekuatan Roma bertambah tangguh, dan kekuatan Juventus berkurang lemas bila mengacu bagaimana kontribusi Carlos Tevez di Juventus.

Dan memang ketika di musim 2015/2016 Liga Italia Serie A, Grande Partita antara Roma vs Juventus sudah tercipta di Giornata 2, dan Roma berhasil menang dua satu. Gol Roma kala itu diciptakan oleh Bosnian Man: Pjanic dan Dzeko. Akan tetapi selanjutnya, Roma--di musim ketiga Rudi Garcia dan kontribusi di musim pertama Edin Dzeko--kelihatannya tidak sesuai dengan ekspektasi publik Roma. Rudi Garcia diberhentikan kemudian digantikan oleh Luciano Spalletti di paruh kedua musim 2015/2016. Dan Roma di bawah asuhan Spalleti kala itu bagai terpaksa sering membangku cadangkan Edin Dzeko sebab sang bomber dari Bosnia itu kerap membuang-buang peluang saja.

Memasuki musim 2016/2017 lumrah apabila ada keraguan terhadap kinerja Edin Dzeko, apakah akan diberi kesempatan untuk menjadi bomber lagi atau mesti cari bomber baru untuk menggantikannya. Terpecahlah menjadi dua kubu pandangan. Yang satu, berpikiran mendingan cari bomber baru. Yang satu lagi, berpikiran mencoba membela Edin Dzeko bahwa sang pemain masih butuh adaptasi bermain di tanah Italia, bagaimanapun juga Dzeko adalah Bosanski Dijamant, bagaimanapun juga Dzeko adalah Permata Bosnia.

Kalau kuperhatikan, di jendela bursa transfer Juni 2016, kelihatannya manajemen Roma ada sinyal-sinyal untuk memilih opsi mencari bomber baru untuk menggantikan peran Edin Dzeko. Sebab kudengar di bursa transfer ada nama-nama pemain yang berstatus bomber yang diincar oleh Roma. Tapi mendekati kompetisi Liga Italia Serie A 2016/2017 segera dimulai, kalau kutidak lupa mengingat, coach Spalletti pernah bicara begini kepada media. "Dzeko tetap di Roma."

Sepertinya apa yang menjadi pembelaan pelatih Bosnia Mehmed Bazdarevic terhadap Edin Dzeko kala itu, berbuah kebenaran. Mehmed Bazdarevic pernah berkata bahwa Edin Dzeko butuh adaptasi bermain di Italia, Bazdarevic berharap Roma bisa bersabar untuk memberikan Edin Dzeko kesempatan bermain setidaknya semusim lagi, Bazdarevic percaya bahwa Edin Dzeko sebagaimana julukan yang diberikan warga Bosnia yakni Edin Dzeko merupakan Bosanski Dijamant, Bazdarevic percaya bahwa Sang Bosanski Dijamant bisa membuat perbedaan dan akan menjadi striker terbaik di Italia. Lihatlah apa yang terjadi di musim kedua Edin Dzeko di Roma, sebagaimana firasat Mehmed Bazdarevic: Edin Dzeko bagai menjelma menjadi bomber yang haus gol.

Sang Bosanski Dijamant, di musim keduanya bermain di Roma saat ini, berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya bersama Roma, ia adalah pilihan pertama yang berposisi diangka '1' dalam formasi 4-2-3-1 dan dalam formasi 3-4-2-1 Roma. Di musim keduanya di Roma, Sang Bosanski Dijamant menjelma jadi Dzekogol. Kupikir di bawah arahan Luciano Spalleti musim ini, Edin Dzeko Merupakan Bosanski Dijamant yang Bisa Bikin Scudetto della Roma Tercipta. Semoga saja.

Aku curiga di musim pertamanya Edin Dzeko bermain di Roma, ia bagaikan lagu Sting berjudul Englishman in New York. Edin Dzeko di musim pertamanya di Roma seolah bernyanyi: I'm an alien, I'm a legal alien... I'm an Bosnianman in Roma.

I'm an alien, I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York
I'm an alien, I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York


sumber foto: asroma.com

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon