Tuesday, January 31, 2017

Bermain PES Merupakan Obat Mujarab untuk Menyembuhkan Luka Akibat Kekalahan Roma (My Fantasy Football)

Aku punya komitmen untuk menjadi blogger, menulis di my blog ini dengan rajin sembari berharap sajian tersuguh secara segar. Gairahku di dalam menulis di my blog ini suka membara apabila hatiku sedang berbunga, ibaratnya demikian akan bikin performaku bugar. Dan ada banyak cara yang biasa kulakukan agar bisa bikin hatiku menjadi berbunga, salah satunya bermain PES walaupun sendirian: tapi dengan catatan mesti menang lawan komputer.

Saat ada Romaday tentu saja aku menyambut antusias hari itu sebab nonton pertandingan Roma adalah hiburan buatku. Malam itu ada main Sampdoria vs Roma Liga Italia Serie A Giornata 22, jam sembilan malam, aku nonton streaming internet sendirian di dalam kamar. Aku optimis Roma bakalan bisa meraih tiga poin lawan Sampdoria sebab beberapa hari sebelumnya dalam Coppa Italia Roma berhasil menang empat kosong lawan Sampdoria di Olimpico. Kupikir karena saat ini dalam lanjutan Liga Italia Serie A dan Roma bermain tandang, maka prediksiku palingan Roma bisa menang dua kosong lawan Sampdoria di kandang Sampdoria.

"Ayo Roma kamu pasti bisa!" Teriak aku semangat ketika pertandingan Sampdoria vs Roma digelar.

Apa yang telah terjadi ternyata bukanlah sesuai dengan harapanku, yakni alih-alih menang dua kosong tapi Roma malah kalah tiga dua lawan Sampdoria di kandang Sampdoria. Tentu saja aku kecewa. Malahan kecewa berat. Kamu pernah nonton Drama Korea yang mana ada adegan tokoh utamanya baru ditinggal kawin sama pacarnya, jadi pacarnya itu menikah dengan lelaki lain yang sudah diangkat jadi PNS sementara ia sendiri masih menganggur. Ia terpuruk di kamarnya sendirian. Ia bersandar di dinding kamar dengan perasaan yang remuk. Belum juga lima menit tapi ia sudah bertingkah seperti orang yang ngamuk. "Tidak. Kenapa ini bisa terjadi menimpaku?" Sembari pukul-pukul dinding kamar.

Begitulah. Tidak jauh beda dengannya yang kumaksud, aku pun berulah seperti demikian ketika kusaksikan sendiri hasil pertandingan Sampdoria vs Roma berakhir: 3 vs 2.

Bagaimana bisa aku mengulas pertandingan tersebut untuk aku tuliskan di my blog ini sementara diriku sedang dilanda bad mood. Maka dari itu, aku berusaha keras untuk menyembuhkan luka yang ada di dalam hatiku akibat kekalahan Roma. Tidak lama kemudian terpikirkan olehku untuk mendingan main PES di komputer.

Kebetulan Roma di bursa transfer januari ini telah berhasil mendatangkan pemain baru Clement Grenier, tentunya adanya pemain baru di Roma jadi bagai rangsangan untuk aku penasaran ingin mencoba memainkan Roma di PES, dan dorongan tersebut kucoba untuk aku manfaatkan supaya nanti siapa tahu bisa membunuh bad mood.

Aku bermain PES 2013--tapi dengan upgredan yang terbaru. Saat kutahu Clement Grenier resmi jadi pemain Roma sudah aku langsung edit transfer dari Lyon menuju Roma.

Akhir-akhir ini kalau aku memainkan Roma aku sudah terbiasa menggunakan formasi 3-4-3 Gasperini--mengcopy paste formasi milik Genoa sebab kalau menyangkut formasi kelihatannya tidak terlalu update baru. Karena memang aku menyukai formasi Roma 3-4-2-1 hasil pola pikir Luciano Spalletti. Nah, formasi 3-4-3 Gasperini itu aku edit lagi di mana skema trisula di depan bukan ini: LWF, CF, RWF. Melainkan menjadi ini: AMF, CF, AMF. Biar pura-puranya menyerupai formasi 3-4-2-1 Luciano Spalletti.

Jangan salah dan bukan bermaksud sombong tapi memang pada faktanya di kampungku aku termasuk maestro dalam memainkan joystick. Keahlianku dalam bermain Play Station sudah dibangun sejak SMP sejak zaman lawan mainku suka licik suka menaruh Roberto Carlos jadi striker. Jangan salah, dulu waktu SMP teman-teman lelakiku sudah pada belajar pacaran tapi aku malah sudah tekun bermain play station. Dulu saat di SMA, teman-teman lelakiku sudah pada mahir memainkan wanita tapi aku malah piawai dalam urusan mencetak gol cantik di play station. Sehingga aku amat optimis bisa membantai Juventus yang dimainkan komputer dengan level permainan superstar.

Aku mengibaratkan pertandingan Roma vs Juventus ini adalah pertandingan playoff dalam memperebutkan gelar Scudetto, dan digelar di Jepang di Konami Stadium.

Dalam bermain PES aku suka terbiasa menyimpan pemain yang sedang down, dan senantiasa bergairah untuk memainkan pemain yang sedang top. Atas dasar tersebut terciptalah skuad starting line up berikut ini:

GK: Szczesny
CB: Rudiger, Fazio, Manolas
LMF: Emerson
CMF: Grenier, Strootman
RMF: Peres
AMF: Perotti, Nainggolan
CF: Dzeko

Motivasiku sangat tinggi untuk memenangkan pertandingan, untuk bikin moodku menjadi good, dan untuk membuka kembali harapan bahwa Scudetto della Roma bukanlah impian tanpa dasar bahwa Roma memang punya kekuatan untuk bisa meraih gelar scudetto musim ini dalam arahan Luciano Spalletti.

Baiklah pemirsa di tanah air--ini aku mau meniru komentator bola inews saat memandu jalannya pertandingan antara Indonesia vs Vietnam. Bung Tomo pernah berkata. "Jangan kita serang musuh sebelum mereka menyerang kita. Jika musuh menyerang lebih dahulu, maka akan kita balas dengan penuh perjuangan."

"Ayo Roma kita pasti bisa!" Teriakku sembari sudah bersiap pegang joystick.

Dengan formasi 3-4-2-1, Roma dalam arahanku sudah tampil menyerang di awal-awal pertandingan. Hampir saja umpan silang Emerson berbuah gol namun sayang bola umpan Emerson malah disundul Bonucci alih-alih oleh Dzeko.

Sama-sama menggunakan formasi format tiga bek di belakang, Juventus pun ternyata tampil menyerang. Alhasil terciptalah saling jual beli serangan. Hampir saja Roma kebobolan duluan, ketika bola hasil tendangan Khedira deflection mengenai kaki Manolas, sehingga mengelabui gerakan Szczesny dan bola menggelinding pelan mau masuk ke dalam gawang untunglah masih ada Rudiger yang dengan cekatan melakukan gerakan slading sehingga memblok laju bola. Rudiger berhasil mengamankan situasi. Sampai menit tiga puluhan skor masih kosong-kosong.

Barulah dimenit-menit akhir pertandingan babak pertama, Roma berhasil mendapatkan peluang melalui tendangan bebas. Beberapa senti dari kotak penalti di sebelah kiri layar kaca Perotti dijatuhkan oleh Benatia. Yang dijatuhkan Perotti tapi yang ambil tendangan bebas adalah pemain baru kita Grenier. Menyangkut tendangan bebas, ibaratnya aku adalah Francesco Totti, termasuk jagoan dalam tendangan bebas di PES 2013. Malahan aku melakukannya bisa sembari ngobrol dengan teman yang sabar menanti giliran main. Tapi karena kebetulan kusedang sendirian, maka tidak ada salahnya untuk fokus. Grenier bersiap ancang-ancang. Tidak lama kemudian apa yang terjadi?

Ini yang terjadi: bola tendangan bebas Grenier tak mampu dibendung Buffon, bola meluncur deras ke pojok atas kiri gawang. Amazing goal. Good job Grenier. Satu kosong Roma memimpin sampai peluit berakhirnya babak pertama--ada sinar moodku kembali menyala.

Juventus di babak kedua bagaikan menambah tensi serangan. Di pertengahan menit babak kedua Rudiger diberi hukuman kartu kuning. Oh tidak. Jegalan Rudiger kepada Pjanic kupikir gentleman. Yang kaki Rudiger sentuh adalah bola bukan kaki Pjanic. Tapi wasit--yang tiada lain komputer--berkata lain, demikian merupakan pelanggaran. Lokasi tendangan bebas nyaris persis dengan tempat di mana Muriel menendang tendangan bebas dalam partai Sampdoria vs Roma. Yang nendang bola ternyata bukan Pjanic, melainkan Dybala. Oh tidak. Komputer memang suka jago dalam mengambil tendangan bola-bola mati, tendangan bebas Dybala masuk membobol gawang Szczesny. Alhasil skor menjadi satu satu.

Setelah kemasukan, Roma arahanku terlihat tetap semangat, malahan kini giliranku untuk kembali memborbardir pertahanan Juventus yang dimainkan oleh komputer. Namun sayang, sampai peluit ditiup wasit pertanda babak kedua berakhir, skor tetap imbang satu satu. Karena playoff, jadi pertandingan belum berakhir, dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu.

Kumerasakan seolah-olah ada desakan Publik Roma untuk segera memainkan Pangeran Roma. "Totti, Totti, Totti, Totti, Totti." Lagi pula, belum ada pergantian pemain yang kulakukan, beberapa pemain staminanya sudah pada turun. Maka dari itu, kupikir memang sudah tiba waktunya melakukan pergantian pemain. Totti masuk menggantikan Peres. Dan El Shaarawy masuk menggantikan Perotti. Dua orang sekaligus.

Totti menggantikan posisi Nainggolan jadi AMF, sementara posisi Nainggolan jadi sedikit bergeser ke belakang jadi RMF menggantikan posisi Peres. El Shaarawy menggantikan posisi Perotti dan tetap di posisi AMF.

Belum juga lima menit babak perpanjangan I dimulai, tapi Roma arahanku berhasil menciptakan gol melalui Edin Dzeko, proses terciptanya gol nyaris persis dengan gol Dzeko ke gawang Sampdoria dalam partai Sampdoria vs Roma, berkat umpan silang mendatar Emerson--bikin moodku kembali menyala. Roma unggul dua satu.

Kupikir di babak perpanjangan II ada bagusnya Pangeran Roma Totti bermain jadi CF, lagi pula stamina Edin Dzeko udah nyaris habis. Marilah kita bertepuk tangan untuk Edin Dzeko ketika Dzeko diganti oleh Florenzi. Pergantian tersebut mengakibatkan pergeseran posisi: Totti jadi CF, dan Nainggolan kembali jadi AMF, sementara Florenzi jadi RMF.

Memasuki menit-menit akhir pertandingan babak perpanjangan II, Nainggolan memberi umpan silang kotak dua kali dari sisi sebelah kanan dan disambut oleh Totti dengan sebuah tendangan kepang, dan apa yang terjadi?

Ini yang terjadi: tendangan kepang Totti tak mampu dibendung oleh Buffon sehingga gol saudara-saudara. Game over for Juventus. Roma Three, Juventus one.

Akhirnya Scudetto della Roma tercipta ditambah dengan Francesco Totti mencetak gol yang bersejarah. Kado indah buat Pangeran Roma kita Francesco Totti. Dan serta merta moodku kembali bergairah untuk menulis di my blog ini. Itu artinya, kupikir Bermain PES Merupakan Obat Mujarab untuk Menyembuhkan Luka Akibat Kekalahan Roma.

Wartawan bertanya. "Siapakah lima pemain top Italia?"
Diam. Hening. Kemudian Zdenek Zeman menjawab. "TOTTI, TOTTI, TOTTI, TOTTI, dan TOTTI."

sumber foto: corrieredellosport.it

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon