Saturday, January 28, 2017

Bek Tengah Roma Rudiger Lahir di Berlin Tapi Ia Bukanlah Bagaikan Tembok Berlin

Kalau boleh jujur, sejujurnya bek tengah Roma idolaku adalah Antonio Rudiger. Kupikir secara fisik sudah bisa ketahuan bahwa ia mempunyai perawakan seorang bek tengah yang pastilah sangar: kuat tapi lentur.

Saat itu sore hari aku mau pergi ke warung seberang rumah, seorang teman penggemar Juventus menyapaku ramah. "Halo A Diar Rudiger."

Ia yang menyapaku adalah sebut saja namanya Ramdan Sissoko, usianya lebih muda beberapa tahun dibanding aku. Ia memanggilku Diar Rudiger sembari nyengir. "Halo lagi wahai Ramdan Sissoko."

Justru aku merasa bangga disebut Diar Rudiger, malahan aku menjadi ge-er. Tapi mungkin pikirnya aku bakalan dibikin nyinyir: oh tidak. Ia tidak tahu bagaimana bagusnya Antonio Rudiger dalam bermain bola untuk Roma sebagai bek tengah, dan bagaimana baiknya ia bersosial di luar lapangan.

Antonio Rudiger merupakan suri tauladan untuk kita semua yang mencintai sepakbola dan juga yang mencintai kemanusiaan. Bagaimana ia berperilaku di dalam lapangan dan bagaimana ia berperilaku di luar lapangan, kupikir adalah sikap yang terpuji. Antonio Rudiger merupakan salah satu pemain bola yang berbudi pekerti baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan.

Samar-samar aku masih ingat bagaimana sikap yang dilakukan oleh Antonio Rudiger kala mengawal laju gocekan bola yang diperagakan oleh Lucas Ocampos saat Roma bertamu ke kandang Genoa. Terjadi pertarungan yang sehat di sana antara seorang yang menyerang dan seorang pemain bertahan. Lucas Ocampos ditempel ketat oleh Antonio Rudiger, Rudiger tidak kalah beradu lari dengan seorang winger. Dan bagaimana Lucas Ocampos lantas bisa terjatuh adalah lantaran kalah beradu keseimbangan dengan Rudiger sekaligus rada semi diving juga kelihatannya. Wasit menyatakan demikian merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh Rudiger. Tentu saja Rudiger bersikap menampakkan muka tak percaya dengan keputusan wasit sebab memang ia tidak bersalah atas jatuhnya Ocampos tapi mendapatkan kartu kuning. Namun demikian, tidak lantas bikin Rudiger protes berlebihan. Jadi kupikir, penyerang lawan bagai butuh wasit yang mudah ditipu untuk bisa melewati hadangan bek Roma Antonio Rudiger.

Selain ketangguhan yang mumpuni yang ia miliki sebagai seorang pemain bertahan, Antonio Rudiger pun bagus dalam hal mengumpan. Masih belum lama dari aku menuliskan ini, terciptanya gol Edin Dzeko ke gawang Cagliari sehingga bikin Roma menang satu kosong, sebelumnya Edin Dzeko mendapatkan umpan lambung jauh yang cemerlang dari Antonio Rudiger. Kalau tidak kulupa mengingat, samar-samar aku masih ingat di pertandingan sebelumnya, waktu Antonio Rudiger bertugas sebagai bek kanan, ia melakukan umpan silang yang matang sehingga memudahkan Edin Dzeko untuk langsung menanduk bola tersebut alhasil terciptalah gol untuk Roma--tapi kejadian tersebut aku lupa lagi waktu Roma main lawan tim mana, yang kuingat jelas adalah Roma mengenakkan jersey kandang kala itu. Dan jangan salah, dalam duel bola-bola udara pun Rudiger terlihat gagah.

Bagaimana laku lampah Antonio Rudiger di luar lapangan adalah sesuatu yang patut mendapatkan keplokan sebagaimana ketika ia mengawal ketat pemain lawan contohnya Lucas Ocampos dan ketika bagaimana cara ia memberi umpan untuk Edin Dzeko. Di luar lapangan, Antonio Rudiger merupakan sosok yang bagaikan berhati malaikat, salah satunya ini: dari laman resmi AS Roma kutahu bahwa Antonio Rudiger melelang seragamnya--jersey Roma vs Cagliari 22/01/17--untuk korban gempa.

Kubaca dari wikipedia Antonio Rudiger lahir di Berlin dua puluh tiga tahun yang lalu. Kupikir: Ia lahir di Berlin tapi Rudiger bukanlah bagaikan Tembok Berlin.

"Tembok Berlin adalah tembok memalukan," Wali Kota Willy Brandt.

sumber foto: lapresse.it

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon