Tuesday, September 6, 2016

Ternyata Dirimu Milik Lelaki Lain

Dulu saat Ospek aku tak tahan untuk menggodamu bagai kagum akan punggungmu yang menawan. Aku duduk bersila di belakangmu. Aku kepikiran untuk usil lempar gulungan kertas sembunyi tangan, sebab aku penasaran dengan wajahmu. Aku tak peduli senior bicara apa di depan. Aku sudah memutuskan, aku lemparkan gulungan kertas tepat mengenai punggungmu. Serta merta kamu celingukan. Sedikit sembunyi di balik punggung orang aku cengengesan ketika melihat kamu tampak kebingungan mencari-cari siapa orang yang melempar. Kalau sampai ketahuan senior, pasti akan bikin gempar. Sehingga kuputuskan untuk menghentikan keusilanku padamu walaupun sesungguhnya aku masih mau menggodamu. Terpenting, kusudah tahu pemilik wajah dari punggung yang menawan itu, dugaanku ternyata benar kamu cantik rupawan.

Aku sadar diri bahwa diriku bukanlah sosok lelaki yang tampan, dari SMA dulu belum pernah ada perempuan yang naksir aku duluan, tapi demikian bukan berarti aku tak punya pengalaman menyangkut pacaran. Sebagai lelaki yang kurang tampan, menyangkut urusan cinta-cintaan, jujur aku membutuhkan perjuangan, aku harus punya keberanian. Paling tidak keberanian untuk mengungkapkan rasa cinta, dari situlah kemudian aku bisa mendapatkan pacar, dari seribu penolakan ya paling tidak ada satu perempuan yang merasa kasihan, sehingga aku jadi bisa pacaran. Percaya diri adalah kunci wahai kawan.

Untuk mendapatkan cintamu duhai engkau perempuan yang aku goda dengan lempar kertas sembunyi tangan, tentunya aku membutuhkan perjuangan, curiga butuh perjuangan yang bukan main, karena kamu adalah perempuan yang menawan. Aku curiga senyumanmu akan bisa bikin setiap lelaki jatuh cinta serta merta sehingga pastilah aku bakalan punya banyak saingan. Tapi demikian tidak bakal menghentikanku untuk melakukan pendekatan. Modalku adalah keberanian, keberanian untuk melakukan pendekatan.

Aku bagai tahu apa yang harus aku lakukan ketika tahu kamu kena hukuman dari senior akibat kamu terlambat datang ke kampus di hari kedua Ospek. Dengan gagah berani aku menghampiri gerbang kampus tempat di mana kamu dimaki-maki dengan kata-kata yang menusuk. Tentunya aku merasa tak tega sebab kamu kadung sudah aku suka. Oh bukan. Aku bukan hendak menonjok itu senior perempuan. Aku segan kalau mesti menonjok perempuan. Melainkan aku akan meringankan bebanmu di mana aku akan menemani kamu melaksanakan hukuman.

Kita yang satu jurusan di kampus membuat pendekatan yang aku lakukan jadinya merasa terdukung. Aku bisa melakukan manuver-manuver yang akan bisa bikin hati kamu menjadi bimbang. Tidak sampai berhenti di saat aku menawarkan diri untuk ikutan kena hukum akibat kamu terlambat datang ke kampus. Tidak sampai situ saja. Melainkan ketika kamu lupa membawa sebungkus kacang hijau yang jumlahnya seribu, serta merta aku memberikan sebungkus kacang hijau yang kupunya, sehingga aku jadi kena hukuman sementara kamu selamat dari hukuman.

Kita yang kemudian suka sekelas ketika sudah mulai kuliah bikin hatiku kerap bungah karena berkesempatan untuk memandangi wajahmu yang cantik saban ada kelas. Ketika ada tugas kuliah yang mesti dikerjakan secara berkelompok, aku girang bukan kepalang ketika mendapati aku dan kamu sekelompok. Dari situlah kemudian aku semakin yakin kalau kamu belum ada yang punya walaupun jujur sangat kuakui bahwa kamu cantik jelita. Aku belum pernah lihat kamu diantar jemput ke kampus oleh lelaki lain. Saat sedang pengerjaan tugas kelompok pun aku tak pernah lihat lelaki lain turut membantu kamu ya paling tidak di dalam rangka antar jemput semacam jadi tukang ojeg.

Tugas kelompok mendekatkan kita. Aku dan kamu suka kedapatan tampak saling bicara berdua. Aku yang sengaja ambil kesempatan supaya bisa ngobrol berdua. Aku suka mengeluarkan candaan yang suka bikin kamu tiba-tiba ketawa. Aku curiga kamu pastilah tipikal perempuan yang suka akan humor, dari dulu aku selalu curiga kalau perempuan cantik suka akan humor, sudah banyak lelaki yang bertampang komedi tapi pacarnya cantik laksana putri dan aku curiga karena sang lelaki salah satu kelebihannya adalah sebab pandai bikin humor.

Karena sudah bisa bikin kamu ketawa maka kemudian aku curiga bahwa aku pastilah orang yang menyenangkan di matamu. Tentunya itu akan menjadi langkah yang baik untuk kemudian memuluskan tujuanku yang sebenarnya, yaitu kepingin punya pacar yakni kamu.

Ketika di kelas sedang ada kuis. Jujur soal-soalnya memang terasa najis. Sudah berkali-kali aku menggaruk kepalaku akibat stress. Ketimbang bikin rambut jadi botak depannya mendingan aku asal saja jawabnya. Aku menghitung kancing kemejaku, cara itulah yang kupergunakan untuk menjawab soal-soal kuis itu kebetulan soalnya pilihan ganda. Lalu kumelihat di depanku ada kamu yang sedang tampak kebingungan. Mungkinkah kamu pun kewalahan di dalam rangka menjawab soal itu, entah kenapa kamu bisa sampai kebingungan, apa mungkin kamu sebagaimana halnya aku karena semalam tak menghafal.

Aku jadi kepikiran ide untuk beri tahu jawabanku kepadamu. Sebagaimana dulu aku menggodamu dengan lempar kertas sembunyi tangan, kali ini pun aku akan lempar gulungan kertas tapi tak akan terus sembunyi melainkan aku akan kemudian melambaikan tangan. Aku tahu bakatku di bidang lempar melempar, paling tidak di klub sepakbola kampus, baru pertama kali latihan tapi pelatih sudah mengkhususkan diriku sebagai Si Pelempar Bola Throw In. Maka jangan heran apabila kemudian lemparanku tepat mengenai punggung kamu. Sebagaimana dulu kamu kemudian menoleh ke belakang celingak celinguk mencari-cari siapa gerangan yang melempar hingga kamu pun mendapati diriku yang sedang dadah sambil tersenyum. Kupakai telunjuk untuk ngasih kode padamu bahwa gulungan kertas yang jatuh tepat di kursimu adalah jawaban soal-soal. Untunglah kamu sigap sehingga tak sampai ketahuan dosen di depan yang sedang mengunyah permen sambil baca koran.

Kamu marah padaku ketika tahu bahwa nilai kuis ternyata hasilnya jelek. Kamu menyalahkan aku karena telah memberikan jawaban yang kebanyakan salahnya daripada benarnya. Kamu sembilanpuluh sembilan persen mengisi lembar jawabmu dari gulungan kertas yang aku lemparkan. Memang aku tidak terlalu heran kalau hasilnya jelek, namanya juga main tebak-tebakan. Tapi jangan cemas, pintaku padamu sambil kupegang kedua bahumu. Kita kuliah masih panjang. Sudahlah jangan bimbang. Ke depan, kalau kita tidak mau nilai kuis jelek, maka kita harus rajin belajar. Iya kan?

Tentu saja kamu tidak serta merta berhenti marah padaku. Kamu masih kesal padaku. Kamu tampak cemberut. Aku selalu bahagia apabila seorang perempuan yang kusuka menampakkan muka cemberut akibat perangaiku yang mungkin buruk di matanya. Serius. Ada kebungahan tersendiri yang anehnya bagai tidak bisa kuucapkan melalui kata-kata. Segera aku bujuk kamu dengan ini: marilah aku traktir kamu makan nasi padang, dan nanti minumnya es cincau. Tentulah aku tahu makanan dan minuman kesukaanmu. Berhasil, mendadak kamu jadi tak cemberut lagi, terus kamu ngomong begini: serius ya traktir.

Tiga bulan sudah berlalu sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Sepertinya sudah waktunya kuungkap maksud aku yang sebenarnya kenapa bisa sampai mendekatimu. Aku ajak kamu ke suatu tempat di kampus. Mulanya kamu bertanya mau apa. Tapi kucoba menarik tangan kamu kemudian aku menggiringmu ke tangga kampus. Di sanalah kemudian aku menyatakan cinta. "Percaya padaku.. Aku sangat mencintaimu.. Jika kamu tak percaya maka mendingan aku loncat saja dari tangga ini.. Bagi seorang pemain bola kebanggaan kampus.. Tentunya nanti aku bakalan cedera, dan itu bisa bikin aku jadi pensiun dini dari main bola.. Jadi, tolong terima cintaku, jadilah pacarku."

Aku tak peduli apa kamu merasa kasihan padaku sehingga kamu mau jadi pacarku, terpenting adalah kini aku punya pacar yakni kamu. Kita pun kemudian pacaran. Karena di kota ini aku tinggal ngekos, sementara rumahmu di sini, sehingga kita bisa jalan-jalan naik motor, sepeda motornya punya kamu. Terkadang aku yang bonceng kamu, tapi keseringannya aku yang dibonceng kamu. Alasan keseringan aku yang dibonceng kamu karena itu sepeda motor punya kamu. Bukan karena kamu merasa nyaman karena posisi tersebut bisa bikin aku jadi bisa peluk kamu dari belakang. O bukan begitu kan ya?

Setiap malam minggu aku selalu bertandang ke rumahmu. Malam minggu bagi lelaki yang punya pacar tentunya adalah hari yang menggembirakan. Karena malam minggu adalah hari yang spesial bagi orang yang punya pacar. Begitu pula dengan aku, ketika malam minggu tiba, aku seperti selalu menyambutnya dengan bahagia, dan itu bikin iri teman kosku yang masih jomblo sejak dari SMA. Tidak lupa pamit sama teman kosanku yang kebetulan tak pulang kampung, aku pergi ke rumahmu sambil tersenyum mengembang.

Aku pergi ke rumahmu jalan kaki. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh sehingga bisa kutempuh dengan berjalan kaki. Saat kuberjalan kaki menuju rumahmu aku seperti selalu sambil nyanyi-nyanyi. Yang paling kusenang dan kuhafal adalah lagu-lagu dangdut. Aku cukup hafal beberapa lagu Bang Haji Rhoma Irama dan Leo Waldy. Begadang Jangan Begadang aku hafal. Anggur Merah Belum Seberapa Dahsyatnya aku hafal. Berkat sambil nyanyi-nyanyi perjalanan dari kosan menuju rumahmu suka tak terasa lelahnya. Bagai kemudian tiba-tiba aku berada di pintu pagar rumahmu.

Ini adalah malam minggu yang ketiga kalinya. Aku yakin aku tidak salah menghitungnya. Setelah sampai di depan pagar pintu rumahmu. Kemudian aku membuka pintu pagar. Kemudian aku ketuk pintu rumahmu. Dan yang selalu membukakan pintu adalah kamu. Akan tetapi pada malam minggu kali ini kok berbeda, yang membuka pintu bukanlah kamu melainkan adik kamu yang masih SMP. Ia tahu kalau aku adalah pacarmu, atau ia tahu kalau setiap malam minggu paling tidak malam minggu yang lalu aku suka bertamu ke rumahmu, sehingga ketika ia menemukanku setelah membuka pintu, ia lantas ngomong begini: Kakak sedang tidak ada di rumah. Tapi tidak kuduga kalau ia lantas menutup pintu, ia tidak menyuruhku untuk silahkan menunggu. Waduh aku jadinya heran.

Serius aku heran. Hatiku bertanya kamu tidak ada di rumah di malam minggu kali ini, lantas kamu pergi kemana. Sebagai pacarmu tentunya aku berhak tahu di malam minggu kamu pergi kemana, soalnya malam minggu adalah jadwal aku ngapel ke rumahmu. Sebelumnya kamu tidak ngasih kabar padaku mengenai ketidak beradaanmu di malam minggu kali ini. Lumrah apabila aku kemudian dilanda bingung.

Dalam bingung aku mulai melangkah pergi menjauh dari rumahmu. Di dekat rumahmu terdapat warung, dan aku putuskan untuk singgah dulu di sana guna membeli rokok sebatang. Tiba-tiba aku jadi kepikiran untuk membakar tembakau, guna menghapus rasa galau yang mendadak menerpaku. Ketika aku sedang menunggu uang kembalian. Spontan aku menoleh ke arah jalan raya, seketika itu pula aku melihat kamu sedang dibonceng oleh lelaki lain. Iya, dari busana yang dikenakan oleh perempuan itu, aku yakin itu adalah kamu, soalnya busana itu pernah kamu pakai saat sedang memboncengku dulu. Untuk memastikannya, kuperhatikan secara seksama sepeda motor yang baru melintas itu, dan sepeda motor itu kemudian belok ke arah di mana ada rumahmu di situ.

Sedikit meloncat untuk menyaksikan secara jelas siapa sebenarnya perempuan itu. Ketika perempuan itu membuka helm, dugaanku ternyata benar bahwa perempuan itu adalah kamu. Sedikit bersembunyi di semak-semak supaya tak ketahuan, aku perhatikan lelaki itu kemudian memegang tanganmu dan kamu tersenyum kepadanya, lalu kamu dan lelaki itu berjalan beriringan menuju pagar pintu rumahmu. Menyaksikan itu aku terbakar api cemburu. Kegalauanku kini menjadi sangat beralasan. Di antara kamu dan lelaki itu, aku membaca adanya kemesraan.

Belakangan kemudian aku tahu bahwa lelaki itu adalah pacarmu juga, bahwa ternyata selama ini aku hanyalah kekasih gelapmu. Pacar yang sebenar-benarnya adalah lelaki itu, lelaki yang kemudian kutahu bahwa ia dan kamu jarang bertemu soalnya ia sedang pendidikan akademi kepolisian. Pacar kamu yang sesungguhnya ternyata bukanlah aku. Ternyata dirimu milik lelaki lain. Teganya kamu telah mempermainkan cintaku. Tahukah kamu bahwa sejak saat itu, di malam minggu aku kerap pergi ke sungai untuk melempar kerikil sambil nyanyi lagu dangdut berjudul Kekasih Gelap: Bagaikan kerikil di dalam sepatu bila aku injak oh sakit kakiku, apalagi batin ini yang engkau lukai, rasanya seribu duri menikam jantungku.. Ternyata ternyata ternyata.. Dirimuuu milik orang lain. Teganya tega tega kejamnya.. Dirimu padaku..

***

Sip ya. Itu saya sedang mencoba untuk memperbaiki tulisan yang pernah dibuat di my blog ini. Biar terasa menjadi lebih baik lagi. Buat seru-seruan di dalam rangka belajar menulis cerita. Ini tulisan yang diperbaiki itu silahkan kalau kamu mau baca juga: Bagaikan Kerikil di Dalam Sepatu Bagai di Drama Turki.

Demikianlah belajar menulis cerita saya pada kesempatan kali ini. Terima kasih atas perhatiannya. Saranghaeyo.. Gomawoyo.. :D

Insert foto: sebenarnya adegan di Drama Turki itu nggak ada kaitannya dengan cerita fiksi di atas, tapi semoga cocok aja untuk dijadikan ilustrasi.. :D

sumber foto: www.ar13.cl

Comments
28 Comments

28 komentar

maafkan jika engkau diam-diam mengakumiku sejak ospek, maafkan aku tidak menyadari itu terjadi padamu, padahal jika sejak itu aku tahu engkau mengakumi punggungku,pasti akan ku berikan punggungku, nanti aku akan meminta lagi punggung yang baru pada pacarku

Ini pengalaman pribadi ya mas?

Hahahaha

Udah nak jangan nangis *puk puk*

Haha, berarti ini mengenai punggung ya mang lembu, wkwkwkwkwkwkwkw hehehehe :D

Pengalaman temen gue riza... hehehehehe... :D

Udah nak jangan nangis *puk puk* (((iya entar disampein kalo ketemu temen gue wkwkwkwkwkwkwkw hehe)))

tenang Mas masih banyak wanita lain yang lebih segala galanya menanti MasNurhakim...Dunia tak selebar lapangan bola

Itu bukan saya kok bang cowoknya
Suer
Saya juga g kenal sama ceweknya bang
Suer
Ampuun bang ampuuuun

Hadeuh kang Diar ini ending nya selalu sedih... Kenapa kang lagi mellow ya :-D mungkin wanita itu tamak makanya dua-duanya di pacarin.. padahal kalau konsisten bilang aja udah punya jangan beri harapan dan jangan duakan orang yang sayang sama dia.. asekk... :D

memang sakit banget ya kang kalo dijadikan kekasih gelap. hehehe

cuman dijadikan pelampiasan doang tuh kayaknya :)
yasudahlah masih banyak wanita lain yang mungkin lebih baik dan lebih klop layaknya pelatih liverpool jurgen klopp hehehe

Waduh kalau yang ini sama atuh kang dengan saya soalnya saya juga waktu ospek mau pdkt walaupun belum tahu caranya dan saya minta nomornya dan saya yang salah sih karena tidak nanya apakah masih sendiri atau sudah punya pacar dan waktu itu saya terlanjur menjalani komunikasi dan lama kelamaan gak sampai nembak kang tapi waktu saya lagi main di jalan saya melihat dia dengan cowo wadaw rasanya pengen nabrakin kendaraan saya deh ke pak polisi biar di tilang tapi sayang ah nanti ada yang lecet waktu itu pikiran saya tidak karuan saya mendingan pulang langsung dengan keceptan 20/jam biar celaka.

makanya pake lampu mas, supaya nggak jadi kekasih gelap lagi

hanya bisa ngasih saran; sabaaarrr... hehe...

Hehehehe Aseeekkkk kang effendi hehe :D

Hehehehehe cuman dijadiin pelampiasan doang kang hendri hehehe :D

Jurgen Klopp di Liverpool kayaknya belum terlalu klop... :D

Boleh juga tuh idenya mas wong wkwkwkwkwkw hehe :D

Iya bener kang maman, kalo situasinya kayak itu, mesti sabar... hehehe :D

Kenapa belum update arikel terbarunya :-) kalau artikel ini mah sudah saya baca beberapa hari kemaren :-) hhe

Kayaknya ini pengalaman mimin blog ini nih hehe, keren bro hehe

Mesakne rekkkkkk. Pukkkk pukkk

Terpesona pada punggung pertama, bukan pandangan pertama,...

Hehehehehe.. iya Kang Effendi akhir-akhir ini saya rada-rada sibuk gitu deh hehehehe sehingga nggak bisa posting hampir setiap hari, tapi diusahakan akan tetap eksis gitu ya ngeblognya... hehehehehehehehehehe :D

Hehehehehe bukan ramadani wkwkwkwkwkw hehe :D


EmoticonEmoticon