Saturday, August 20, 2016

Kawin Lari Menunggang Kuda

Astuti tampak sedang berlari dikejar-kejar oleh beberapa lelaki bertampang sangar berseragam hitam-hitam. Ia berlari sekuat tenaga sekemampuan. Ia tidak ingin ketangkap karena ia tahu akan jadi seram. Dalam berlari kencang-kencang ia berharap semoga tidak kelelahan. Terus lari. Lari terus. Dikejar-kejar dari belakang.

Astuti baru saja kabur dari rumah. Oleh ayahnya ia akan dijodohkan sama bandot tua yang umurnya setara sama sang ayah. Bandot tua itu adalah rekan bisnis sang ayah. Perjodohan itu di dalam rangka untuk menambah kuat bisnis sang ayah. Kebetulan bandot tua itu sudah bercerai dengan istrinya yang dulu secara sah. Untuk itulah kemudian Astuti dilanda resah. Ia tidak ingin menikah dengan bandot tua pilihan sang ayah. Ia memutuskan untuk lari dari rumah.

Ketika sampai di sebuah pasar tiba-tiba ada yang menarik lengannya sehingga bikin ia melayang terjatuh. Menindih. Kaget. Saat mau berteriak tiba-tiba lelaki yang menarik lengannya itu membekam mulutnya terus lelaki itu ngasih kode jangan ribut. Mereka berdua bersembunyi dibalik tembok dekat penjual ikan asin.

Sempat terlihat celingak celinguk kebingungan dilakukan oleh beberapa lelaki berseragam hitam-hitam itu, mereka saling beradu pandang bagai pada bertanya larinya kemana perempuan yang tadi mereka kejar itu kok tiba-tiba bagai menghilang, sempat mendamprat kesal kemudian mereka melanjutkan pencarian dengan berlari lurus ke depan meninggalkan kios penjual ikan asin.

"Sekarang udah aman," seru lelaki yang tadi menarik lengan Astuti sambil melepaskan bekaman.

Serta merta Astuti bangkit melepaskan tindihan. Ia grusa grusu merapihkan pakaian. Dan lelaki itu pun bangkit dari rebahan.

"Maaf tadi aku menarik lenganmu.. Aku ingin menolongmu," lanjut lelaki itu kali ini sambil memandangi Astuti dengan penuh perhatian.

Sempat mendelik sejenak sama lelaki itu, Astuti kemudian nyelonong pergi tanpa kata sedikitpun. Tentulah lelaki itu jadinya heran dengan tingkah Astuti demikian. Ketika Astuti berjalan memunggunginya, lelaki itu putuskan untuk bertanya siapa gerangan Astuti punya nama. Teriakan lelaki itu yang minta sebutkan nama kepadanya bikin langkah Astuti sempat terhenti, sempat tersenyum sesaat namun Astuti kemudian meneruskan langkah kaki.

"Hey nama kamu siapa?.." Lelaki itu bertanya kembali namun Astuti terus pergi tetap tanpa kata bagai tak peduli. "..Namaku Supendi," malah kemudian lelaki itu yang menyebutkan namanya sendiri.

Supendi adalah seorang lelaki yang seumuran dengan Astuti. Supendi dan Astuti umurnya masih terbilang muda mudi. Supendi tinggal di lingkungan dekat pasar yang tadi. Walau belum menikah namun Supendi sudah tak serumah dengan ibunya tapi ia sudah punya rumah sendiri. Tapi rumah ibunya dan rumahnya masihlah berdekatan jaraknya cuman sepuluh langkah kaki. Sebagai lelaki, Supendi sudah bisa usaha sendiri, sehingga bisa hidup mandiri. Bisa dibilang sebagai lelaki, Supendi tinggal mencari calon istri.

Ketika sore tiba seperti biasa supendi pulang dari pasar, tentulah ia tak bakalan kesasar, sudah hafal jalan. Di tengah perjalanan ia menemukan seorang perempuan sedang termenung sendiri di sebuah pos ronda. Masih dari agak jauhan ia memperhatikan, dari busana yang dikenakan oleh sang perempuan, tahulah ia bahwa perempuan itu adalah perempuan yang tadi di pasar tidak menyebutkan namanya yang sudah ditolongnya. Karena Supendi penggemar film India, sambil mendekati perempuan itu ia pun seraya nyanyi India.

Saat Supendi bernyanyi lagu India, Astuti sempat heran dulu namun setelah ingat bahwa yang nyanyi India itu adalah lelaki yang sudah menolongnya tadi di pasar maka Astuti pun merasa tergoda sebab Supendi nyanyinya seraya menggoda ala aktor India di film India.

"Namaku Astuti," seru Astuti ketika Supendi beres bernyanyi.

"Hey Astuti kenapa kamu tadi tampak bersedih?"

Karena sudah merasa nyaman Astuti pun kemudian bercerita pada Supendi kalau dirinya kabur dari rumah karena hendak dijodohkan oleh ayahnya sama bandot tua. Mendengar Astuti bercerita tampak Supendi menaruh simpati. Masa iya ada ayah yang seperti itu kok ya tega-teganya. Oleh karena itulah kini Astuti berstatus tuna wisma. Mendengar Astuti butuh penginapan barang semalam, Supendi kepikiran untuk mengajak Astuti pergi ke rumah ibunya.

Ibunya Supendi sumringah ketika Supendi membawa Astuti di hadapannya, ia sangka kalau Astuti adalah calon istri Supendi. Sudah lama ia mendamba menantu sejak ditinggal mati suami dua tahun yang lalu dan sejak Supendi sudah mampu hidup mandiri. Eh tapi Astuti dan Supendi sama-sama keburu klarifikasi, ibunya Supendi jadinya malu sendiri. Namun begitu, ibunya Supendi memperbolehkan Astuti untuk tinggal di rumahnya karena merasa iba terhadap nasib Astuti. Bukan hanya semalam, tapi sebetah-betahnya. Karena Supendi sudah tak serumah dengan ibunya, sehingga nanti Astuti tak bakalan diomongin yang bukan-bukan oleh tetangga. Sebut saja saudara jauh seandainya ada tetangga yang bertanya.

Hari demi hari Astuti lalui layaknya warga sekitar. Tahulah kemudian Astuti kalau Supendi adalah seorang blogger, selain daripada jualan tomat di pasar. Astuti perhatikan ternyata Supendi selain orangnya ganteng, pun juga penuh kasih sayang, kepada ibunya Supendi tampak amat sayang, perlahan entah kenapa saat ngobrol sama Supendi hatinya bagai ada bimbang. Apalagi pada saat Supendi mengajaknya pergi jalan-jalan ke sawah, dalam hati sungguhlah ia bungah, dan pemandangan di sawah itu terasa indah.

Astuti tampak riang berlari di pematang sawah. Supendi mengejarnya dengan senyum merekah. Terciptalah adegan seperti di film India lari-lari di pematang sawah. Cintaku kejar aku. Cintaku tangkap aku. Astuti dan Supendi keduanya bagai terlibat di dalam api asmara yang membuncah. Rindu ingin bertemu melulu. Aku milikmu. Kamu milikku.

"Aku cinta kamu Astuti."

"Aku juga cinta kamu Supendi."

Berpelukan.

Seorang tetangga yang sedang jalan-jalan naik kuda yaitu Pak Sobari secara kebetulan melihat mereka sedang memadu kasih di persawahan. Sempat memandang heran. Tapi saat memacu kuda-nya kembali untuk melanjutkan jalan-jalan, mengertilah ia kalau teman main caturnya itu sedang pacaran.

***

Sebulan sudah Astuti kabur dari rumah. Sang ayah yang sudah ditinggal mati oleh ibunya dua tahun yang lalu tampak marah. Marah pada beberapa lelaki sangar berseragam hitam-hitam karena tidak becus mencari Astuti kok ya tak ketemu-ketemu. Tetapi saat pencarian memasuki bulan ketiga, akhirnya sang ayah mendapatkan kabar kalau Astuti berada di sebuah lingkungan dekat pasar, tanpa menunda-nunda sang ayah menyuruh lelaki berseragam hitam-hitam untuk segera ke lingkungan dekat pasar.

Ketika Astuti dijemput paksa oleh lelaki berseragam hitam-hitam di rumah sang ibu, Supendi sedang berada dalam perjalanan pulang dari pasar. Supendi terlambat dalam menghadang kepergian Astuti karena Astuti keburu sudah dimasukan ke dalam mobil sedan. Mereka sempat berpapasan. Sempat pula beradu pandang. Dalam beradu pandang, hati mereka pada bimbang. Tampak Astuti menjauh dalam pandangan Supendi, begitupun sebaliknya. Sungguhlah perpisahan yang mengharukan. Bagai kata-kata ini: aku pergi tanpa pamit padamu.

***

Di rumah sang ibu, tampak Supendi sedang termenung syahdu. Sesungguhnya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama sama Astuti sejak tragedi di pasar dulu. Di matanya Astuti adalah perempuan yang cantik, dibanding Madhuri Dixit bintang film India favorite-nya sungguhlah tak kalah cantik. Ditambah lagi setelah menjalani hari bersama Astuti tahulah ia bahwa Astuti adalah perempuan yang baik. Cantik. Baik. Jadi calon istri amatlah cocok.

Dalam termenung itu lantas terngiang isi surat dari Astuti yang ia dapatkan kemarin. Bahwa hari ini Astuti sedang dalam rangka mau nikah sama bandot tua. Tentunya ia tidaklah rela. Tapi ia merasa apa daya.

"Kenapa wahai anakku?" Tanya sang ibu.

"Astuti akan menikah hari ini, ibu," jawab Supendi pilu.

"Apakah kamu mencintainya?"

"Iya ibu."

"Apakah dia mencintaimu?"

"Iya ibu."

"Kamu tau tidak wahai anakku.. Bahwa dulu ayahmu menggagalkan pernikahan ibu dengan saudagar kaya yang tidak ibu cintai.. Ayahmu dengan gagah perkasa datang ke acara kawinan terus menarik paksa ibu.. Terus membawa kabur ibu.. Dan ibu bahagia oleh karenanya."

"Apakah dulu ayah sambil naik kuda?"

Ibunya Supendi mengangguk.

Dengan tidak lupa mencium kaki ibunya terlebih dahulu, minta restu. Sejurus kemudian Supendi beranjak pergi. Perginya sambil lari. Ia hendak meminjam kuda miliknya Pak Sobari. Pak Sobari mengangguk mengerti. Supendi lantas pergi naik kuda ke pesta pernikahan Astuti. Seperti dulu menarik lengan Astuti, bedanya kali ini tarikannya bukan menjatuhkan melainkan menaikkan hingga Astuti hinggap di kuda yang ditumpangi Supendi. Supendi membawa kabur Astuti. Sorot mata para tamu undangan bagai kompak berkata begini: mereka pergi menunggang kuda sepertinya mau kawin lari.

SEKIAN

***

Sip ya. Itu saya sedang dalam rangka merevisi tulisan yang pernah dibuat di my blog ini. Biar terasa menjadi lebih baik lagi. Buat seru-seruan di dalam rangka belajar menulis cerita. Ini tulisan yang diperbaiki itu silahkan kalau kamu mau baca juga: Cerita Cinta Romantis Bagai di Film India Jadul.

Demikianlah belajar menulis cerita saya pada kesempatan kali ini. Terima kasih atas perhatiannya. Saranghaeyo.. Gomawoyo.. :D

Insert foto: sebenarnya adegan dalam film India itu tidak ada kaitannya dengan cerita di atas, namun kayaknya cocok.. :D

sumber foto: www.youtube.com

Comments
18 Comments

18 komentar

masss..ini cerita potongannya mirip di felem felem beneraann..haha
suka nonton felem cinta-cintaan ya mas? haha

Kok kayaknya sekarang ilustrasinya pake artis India kayaknya mas. Eh iya gak sih?

Hahaha

Udah nggak ngomongin bola lagi, bang? Liga-liga di Eropa udah mulai, lho. Ayolah!! *maksa*

saya baca ini kaya lagi liat film asli kang :D udah bagus kang tinggal di buat film aja, dan itu tuh peran cewek nya udah bagus pakai astuti nah kalau peran cowok nya saya sarankan Agung Hercules biar ada kaitannya gtu :D

Awas kang diar jangan dibawa lari terus astutinya nanti ada yang melempar barbel loh kan sakit tau kalau dilempar barber.

Setuju ama kang Effendi. Baca ini serasa nonton adegannya langsung. Haha kocak juga..

Kang natural banget yak astuti sama supendinya.haha...kaya jaman dulu banget terus imajinasi naik kuda sambil jemput astuti berasa kaya perjuangan yang dilakukan orang-orang jaman dulu ga kaya sekarang yang bertengkar :D

Tinggal di buat film nya aja nih kang, bakat juga nulis cerpen,... Lanjutkan!!!

Supendi itu sebenarny adalah saya bang

Hahaha iya bagai di film India jadul hehehehe :D

Hehehe iya pake gambar artis India yang ini hehehe :D

Iya nanti Rob kalau kepingin bahas bola, bakalan bahas bola lagi, saat ini lagi kepingin memperbagus tulisan-tulisan yang sudah dimuat hehehehe :D

Hahahahaha makasih kang effendi kalau udah bagus... hahaha cowoknya Agung Hercules ya, oh iya Astuti judul lagu Agung Hercules ya hehehehehehe :D

Hahaha dilempar barbel sama Agung Hercules ya kang... :D

Alhamdulillah kalau kocak agia... Siiipppp :D

Iya bener Vita, naik kuda jemput astuti emang itu jadul banget hehehehehe... :D

Ya mungkin ini berkat rajin latihan mas hendra hehehehehehehehe :D

Oh ya? hehehe yang jelas Supendi bukanlah cameramen sob... hehehehehe :D


EmoticonEmoticon