Monday, August 29, 2016

Cintaku Tak Mendapat Restu Ayah Bundamu

Inilah pertemuanku denganmu kali pertama: saat itu di dalam bis yang sama aku dan kamu jadi penumpang. Selain kita berdua, seingatku tidak ada lagi orang yang jadi penumpang. Aku duduk di pojokan dekat jendela, begitu pula posisi duduk kamu di seberang. Hujan yang sedang turun membasahi kota bikin kita sempat sama-sama menengok ke jendela masing-masing. Sandaran pipi kita pada jendela masing-masing seolah pertanda bahwa aku dan kamu sama-sama mengantuk bagai semalam habis begadang. Perlahan, aku dan kamu ketiduran di dalam bis yang sedang melaju tidak terlalu kencang.

Bis yang mendadak mengerem membuat kita sama-sama kejedot pintu jendela masing-masing, di jalan sana ternyata ada orang yang sembarang nyebrang. Aku dan kamu lantas terkaget sama-sama ketika memperhatikan sekitar kok ya bis melaju sudah kebablasan tujuan. Tidak menunda waktu lagi aku dan kamu sama-sama memutuskan untuk segera turun dari bis setelah sempat sama-sama bereaksi waduh-waduhan.

Di sore itu hujan rintik-rintik masih membasahi kota sehingga bikin aku dan kamu sama-sama berlari mencari tempat untuk berteduh setelah sama-sama sukses turun dari bis. Kebetulan di sekitar situ dekat dengan Halte Bis. Aku dan kamu berhasil berteduh di Halte Bis setelah sempat sama-sama berlari sambil melindungi kepala dengan tangan, tadi tampak aku seperti sedang mengejarmu sebelum sampai di Halte Bis.

Di Halte Bis itu yang sedang berteduh cuman ada kita berdua. Aku perhatikan kamu seperti orang yang sedang ketakutan. Bagai ada cemas di balik permainan jemari yang kamu lakukan, lagi pula dari cara kamu menunduk jelas terlihat kalau kamu sedang dilanda rasa kekhawatiran, atau mungkin efek dari kedinginan, atau mungkin ini ungkapan yang paling tepat: seperti takut akan hujan.

"Ini dengerin lagu ini.." Kataku mencoba untuk memberi ketenangan. "..Kamu terlihat seperti takut sama hujan."

Kamu menoleh ke arahku kemudian berkata begini. "Hujan bisa bikin kita sakit flu.. Dan kalau malamnya begadang bisa bikin nanti masuk angin.. Atau lebih parah bisa bikin jadi demam."

"Oh ya?" Reaksiku bagai percaya tak percaya.

Kamu mengangguk sambil meraih headset yang kusodorkan.

Setelah headset kamu tempelkan di kuping, tampak kemudian kamu sejenak tercenung tapi lalu tersenyum mengembang. Sesudah itu kamu bertanya padaku mengenai lagu yang sedang berdendang. Kujawab itu lagu dangdut yang sedang berdendang. Judulnya Terhalang Dinding Kaca, kelihatannya lagu itu kamu suka. Berkat mendengarkan lagu dangdut itu kamu jadi bagai lupa akan ketakutanmu terhadap hujan.

Hujan pun lambat laun mereda lantas surut serta merta. Tampak kamu bersiap meninggalkan Halte Bis ketika menyaksikan hujan turun sudah tidak ada. Kamu menyerahkan kembali headset yang tadi kamu pinjam dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih, dan aku membalasnya dengan senyum merekah.

Ketika kamu sudah balik badan hendak pergi meninggalkanku tiba-tiba aku kepikiran untuk kepingin tahu namamu. Sudah dua langkah kaki kamu berjalan tapi kamu sempatkan berhenti untuk ngasih tahu namamu. Aku masih ingat, kamu sengaja menoleh dulu ke belakang, kemudian ngasih tahu namamu. Jadinya aku tahu namamu. Akan tetapi, sesudah itu kamu lantas melangkahkan kaki lagi bagai tak mau tahu siapa namaku. Walau kamu sudah menjauh memunggungiku namun segera kuteriakan namaku.

Bagai sudah jodoh untuk bertemu kembali. Di kampus aku bertemu kamu lagi untuk yang kedua kali. Saat itu aku sedang tak lihat jalan, aku sedang memandang langit kampus karena kumelihat ada derung pesawat terbang di angkasa. Tapi kamu pun sepertinya tak lihat jalan, karena tersibukan oleh berkas-berkas yang kamu bawa. Kamu datang dari arah yang berlawanan. Sehingga lambat laun seiring langkah kaki pada  akhirnya aku dan kamu terus bertubrukan.

Aku terjatuh. Kamu terjatuh. Kita bagai terpental terus sama-sama bilang waduh. Sementara berkas-berkas yang kamu bawa pada berceceran. Kamu belum sadar kalau telah bertubrukan dengan aku sebab kamu di sana lantas beres-beres berkas yang berserakan. Aku pun sama masih belum sadar kalau yang bertubrukan denganku adalah kamu sebab aku pun terus ikutan membantu merapikan berkas yang berambrulan di tanah. Saat aku mau menyerahkan berkas punya kamu yang berhasil aku kumpulkan, barulah kita sama-sama sadar bahwa eh ternyata kita yang bertabrakan. Aku masih ingat kamu, dan kamu pun masih ingat aku. Kamu bilang lagu dangdut sambil menunjuk batang hidungku, tapi kemudian kucoba untuk membetulkan bahwa namaku bukanlah lagu dangdut dengan cara memberi tahu namaku yang sebenarnya. Dari situlah kemudian kamu tahu namaku.

Di hari selanjutnya kamu pasti heran kenapa kita selalu bertemu di kampus tempat kita sama-sama kuliah, padahal sebelum-sebelumnya hampir tak pernah bertemu. Setelah aku tahu bahwa kamu pun kuliah di sini jurusan kedokteran, sementara aku jurusan komunikasi, sehingga demikian jadi bikin aku kepingin main-main ke lingkungan jurusan kedokteran walaupun lokasinya terbilang lumayan jauh dari lingkungan jurusan komunikasi. Aku sengaja mendatangi lingkungan jurusan kedokteran hanya untuk kepingin melihatmu. Entah kenapa, sejak pertemuan yang pertama dan kemudian yang kedua, hatiku bagai mendorongku untuk kepingin ada pertemuan-pertemuan berikutnya-berikutnya lagi. Dan kamu tanyakan keheranan itu padaku, lalu kujawab begini: sudah jodoh kali.

Perlahan tapi pasti. Seiring kita yang ketemu hampir setiap hari membikin aku semakin kepingin memilikimu, dan aku pun di satu waktu menyatakan rasa cintaku padamu. Aku pakai cara romantis yang umum saja, di hari valentine aku menyuruh kamu untuk memilih, kamu mau pilih cokelat apa bunga. Bila kamu memilih cokelat maka kita hanyalah sekedar teman dekat. Tapi bila kamu memilih bunga maka aku dan kamu punya perasaan yang sama, rasa cinta. Sungguh aku tegang ketika menunggu keputusan kamu mau pilih yang mana. Dan akhirnya kamu memilih Bunga, bikin aku bahagia, terus aku peluk kamu erat-erat.

Saat kita membina pacaran terciptalah kemesraan. Aku dan kamu sepakat berkata begini: dunia ini hanya milik kita berdua. Jika ada yang bertanya kepada kita, lalu nasib yang lain di dunia ini bagaimana, maka kita pastilah akan kompak jawab begini: yang lain cuman ngontrak. Demikian sebagai suatu pertanda bahwa kita saking saling jatuh cinta satu sama lain.

Aku dan kamu banyak yang ngomong kalau kita adalah pasangan yang romantis. Oleh mereka kita suka tertangkap seperti selalu jalan berdua kemana-mana. Saat pesan makanan di kantin kampus kita suka pesannya sepiring untuk berdua. Saat kita sedang makan berdua, aku suka senang ketika kamu bersikap nyuapin aku kemudian kamu tersenyum manis. Hingga di suatu kesempatan aku pernah bertanya apakah kamu mau menikah denganku nanti, kelak ketika aku sudah punya modal buat kawin, dan kamu menjawabnya dengan tersenyum berseri.

***

Setelah sama-sama lulus kuliah..

Saat aku sudah jadi wartawan dan kamu sudah jadi dokter, kepada kedua orang tuamu aku pergi untuk melamar. Itulah pertemuan pertamaku dengan kedua orang tuamu, dan aku tak menyangka kalau itu bakalan jadi pertemuanku yang terakhir dengan mereka. Aku kaget ketika ayah bundamu tak merestui hubungan kita. Itulah pula artinya aku dan kamu dilarang bertemu kembali sebab kamu sudah dijodohkan dengan seorang Tentara. Perjodohan antara kamu dan dia sudah sedari kecil, mendengarnya bikin aku jadi menggigil.

Kamu coba datang ke rumahku. Kamu pun baru tahu kalau sedari kecil sudah dijodohkan sama lelaki lain. Kedua orang tuamu dan kedua orang tuanya adalah teman dekat. Untuk semakin merekatkan pertemanan, mereka semua memutuskan untuk menjodohkan kamu dan dia sejak masih ingusan. Mulanya kamu pun menolak perjodohan tersebut, akan tetapi ketika mendengar bahwa untuk menghormati ayahnya dia yang sedang sakit di rumah sakit, situasi tersebut jadi bikin kamu sulit untuk berkelit. Sebelum pergi, kamu berkata ini: maaf aku harus pergi walaupun ini terasa sulit.

Seminggu sejak kepergianmu ketika aku pulang dari liputan, secara tak terduga aku menemukanmu sedang duduk berdua dengan seorang lelaki yang kuyakin itu dia tunanganmu di sebuah cafe kopi. Aku melihat kamu dan dia di balik dinding kaca. Aku jadi teringat akan lagu dangdut yang dulu pernah kamu dengarkan di Halte Bis. Lagu dangdut Terhalang Dinding Kaca. Panasnya mentari menyinari bumi tapi tak sepanas akhir cinta kita. Gelapnya dunia pada malam hari tapi tak segelap hatiku yang sunyi. Andaikan ragaku dapat menembus kaca tak kan aku biarkan orang menyentuhmu.. Mungkin sebelum diriku mencintai dirimu kedua orang tuamu telah menjodohkan pilihan hatinya untuk orang lain. Sehingga kini cintaku terhalang dinding kaca.

***

Sip ya. Itu saya sedang mencoba untuk memperbaiki tulisan yang pernah dibuat di my blog ini. Biar terasa menjadi lebih baik lagi. Buat seru-seruan di dalam rangka belajar menulis cerita. Ini tulisan yang diperbaiki itu silahkan kalau kamu mau baca juga: Bagaikan di Drama Korea yang Judulnya Ini: Terhalang Dinding Kaca.

Demikianlah belajar menulis cerita saya pada kesempatan kali ini. Terima kasih atas perhatiannya. Saranghaeyo.. Gomawoyo.. :D

sumber foto: kbsworld.kbs.co.kr

Comments
11 Comments

11 komentar

Lalu saya ngontrak dong di dunia ini kang ? kang itu cewek asal muasal nya cewek yang di bayarin angkot bukan ya :D
cerita nya mulai oke nih panjang-panjang, kalau di buat film pasti beberapa episode nih :-)

Witwiw kali ini ceritanya tidak sama dengan yang saya alami kang jadi kurang menantang adrenalin saya, gk gk gk witwiw ahi hi hi.

Wah-wah... ceritanya agak jleb, sih. Udah siap mau dilamar, rupanya udah punya tunangan. Hem... Semoga ini hanya cerita fiksi saja.

Gak kebayang aja, kalo true storynya bg Diar. XD

Sumpah, ini cerita punya potensi deh. Awalnya saya dibuat datar, terua ada adegan lucunya, lalu diakhiri dengan ending yang lumayan tragus.

Kata-kata yang kamu pake juga bagus, Diar. Lanjutkan!!

Ehh ngomong-ngomong, ini nih kalimat yang bikin ketawa: "Kamu bilang lagu dangdut sambil menunjuk batang hidungku, tapi kemudian kucoba untuk membetulkan bahwa namaku bukanlah lagu dangdut." Haha.

Jangan main2 ama tentara yaaa, kalo kamu tetep memaksa merebut perjodohan nya, nanti kamu di tembak dor dor mati hahaha

Hehehehehehe iya ngontrak hehehehehe :D

Hehehehehehe :D

Waaaahhh terima kasih agia, serius saya cukup tersanjung nih ya hehehehehehehe :D

Siap dilaksanakan komandan, siap dilanjutkan!!! :D

Aaaaaah, nyesek. Masa di akhirnya nggak dipersatukan. Keberuntungan banget ya bisa awal ketemu di bus, meskipun akhirnya nggak bersatu. :(


EmoticonEmoticon