Wednesday, August 24, 2016

Antara Aku, Kamu Oh Nurlela, dan Pacarmu Oh Nurlela

Aku terpana serta merta ketika melihat kamu kali pertama. Di kampus saat aku jadi peserta Ospek dan kamu jadi panitia. Dalam kuterduduk bersila, aku penasaran siapa gerangan itu senior yang punya nama Nurlela. Dipanggil-panggil kok ya tak nonghol-nonghol. Muncul-muncul kamu muncul secara tak terduga, dari balik tembok aula kamu umbar senyuman yang menggoda, lalu kamu berkata begini: ini aku di sini, Nurlela.

Di kamar kosku beneran aku galau teringat wajahmu oh Nurlela. Sebut aku gombal silahkan tapi serius kamu sungguh cantik jelita. Aku percaya akan cinta pada pandangan pertama, dan aku merasa kalau apa yang terjadi padaku terhadapmu pastilah itu yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekali lagi silahkan anggap aku sedang gombal, tapi kuharap kamu tak jadi sebal.

Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu oh Nurlela. Ketika kamu sedang tersenyum itulah gambaran yang terngiang pada saat aku mencoba untuk memejamkan mata. Senyumanmu itu menyenangkan isi dada. Itulah alasan kenapa aku sudah memejamkan mata akan tetapi kok ya aku tak lelap-lelap juga. Karena aku ingin selalu melihat senyumanmu akan tetapi aku kok ya merasa tidak percaya diri bahwa aku bisa memilikimu. Namun begitu, bukan berarti aku tidak berharap untuk bisa memilikimu. Sungguh aku ingin memilikimu.

Karena aku susah tidur semalam sehingga wajar apabila kemudian aku terlambat datang ke kampus. Tapi kamu Oh Nurlela bikin aku dihukum kok ya hampir mampus. Kamu menghukumku dengan push up seratus itungan. Terus sip up seratus itungan. Kupingku dijewer seolah kamu punya tangan yang ringan.Ditutup dengan keliling lapangan basket seratus itungan. Tahukah kamu bahwa sesungguhnya aku terlambat datang ke kampus karena susah tidur sebab memikirkanmu. Percayalah Nurlela kataku, tapinya dalam hati saja bukan keluar dari mulutku. Sebagai peserta, aku terima hukuman darimu yang bertindak sebagai panitia. Toh pada akhirnya aku kok ya jadi bahagia oleh karenanya.

Saat acara memasuki jam istirahat. Aku kaget dengan apa yang kulihat. Kamu nyuapin donat sama lelaki yang bisa dibilang punya badan kuat. Pemandangan itu bikin hatiku tiba-tiba terasa nyelekit. Sejurus kemudian aku mendamprat anjrit.

Di kamar kosku aku termenung sendiri, teringat kejadian tadi. Selentingan kudengar kalau lelaki yang kamu suapin donat itu adalah pacarmu oh Nurlela. Aku sampai tak bisa bicara untuk menanggapinya. Aku masih percaya bahwa apa yang kupunya adalah rasa cinta. Rasa cinta padamu oh Nurlela. Tapi ternyata kamu sudah punya pacar oh Nurlela. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, kamulah yang aku inginkan.

Selentingan kudengar juga bahwa pacarmu oh Nurlela tak hadir di hari pertama Ospek karena dilanda susah buang air besar. Ketika di pagi hari mau mandi kepingin buang air besar dulu akan tetapi pas mengejan itu kotoran kok ya susah keluar-keluar. Sampai muka keringetan akan tetapi kok ya tetap susah keluar-keluar. Derita itulah yang bikin pacarmu oh Nurlela lantas memutuskan untuk mangkir di hari pertama Ospek padahal statusnya panitia. Derita susah buang air besar seperti itu pastilah bikin hidup terasa di neraka.

Saat acara Ospek sudah usai tiba-tiba di parkiran kampus aku dan kamu bertemu, dan kamu menyapaku dengan ramah. Keramahan itu bagai suatu isyarat bahwa itu kamu yang sebenarnya, bukan pada saat menjadi panitia yang duh minta ampun galaknya. Bukannya apa-apa, soalnya kamu kemudian minta maaf atas tragedi yang pernah terjadi saat Ospek lalu. Permintaan maaf kamu sungguhlah menghibur hatiku. Perjumpaan itu berlangsung tidaklah lama, tapi itu bikin aku entah kenapa kok ya tambah suka padamu oh Nurlela.

Apa yang bisa aku lakukan selanjutnya adalah mencintai secara diam-diam. Rasa cintaku padamu oh Nurlela sepertinya bukanlah dosa. Ketika melihat kamu sedang kepingin jajan di kantin akan tetapi kamu terjebak di teras kelas karena hujan turun membasahi kampus, maka aku pun jadi kepikiran untuk memberikan payung yang kupunya untukmu, tapi dengan sembunyi-sembunyi. Aku kepikiran ide ini: aku lemparkan payung punyaku ke dekatmu dengan tidak lupa menulis kata-kata silahkan pakai payung ini biar kamu tak kehujanan pada secarik kertas. Tanpa perlu ngasih tahu dari siapa, anggap saja dari hamba Allah. Situasi kamu yang sudah punya pacar jadi bikin aku mesti puas walaupun hanya memberi perhatian dari jauh.

Sebenarnya aku ingin beritahu kamu oh Nurlela bahwa pacarmu oh Nurlela di suatu hari aku pernah melihatnya sedang bermain-main dengan perempuan lain. Disaksikan oleh kedua mataku sendiri bahwa pacarmu oh Nurlela, dengan perempuan lain itu mereka berdua pegangan tangan disertai adanya senyuman. Aku curiga kalau pacarmu itu telah berselingkuh. Tapi ketika pacarmu itu kembali sedang bersamamu dengan berpura-pura tidak berselingkuh sungguhlah itu bikin aku jenuh. Aku hanya bisa berdoa semoga pacarmu oh Nurlela ketahuan olehmu sendiri sedang berselingkuh, tetapi nanti kuharap semoga kamu tidak menjelma jadi pembunuh. Ketahuilah, masih ada aku yang siap untuk memberi cinta yang kau butuh.

Kelihatannya pacarmu oh Nurlela amat pandai di dalam rangka melakukan perselingkuhan, bagai mampu bermain cantik. Sampai kita sama-sama naik tingkat, aku tingkat 2 dan kamu tingkat 4, laku lampah buruk pacarmu itu tak terendus-endus olehmu. Kamu pun akan setuju kan ya kalau selingkuh adalah perilaku yang buruk. Aku yakin kamu akan marah pada pacarmu itu seandainya pacarmu itu ketahuan selingkuh, pastilah kamu akan mendampratnya dengan sebutan ini: dasar lelaki brengsek!

Bukan kutak ingin turut campur sebagai rasa peduliku terhadapmu oh Nurlela. Melainkan aku tak ingin mendapatkan cinta dengan cara tidak lelaki. Aku memilih untuk membiarkanmu tahu sendiri mengenai perilaku buruk pacarmu itu oh Nurlela. Semoga kamu tahu sendiri suatu saat nanti. Aku memutuskan untuk mengejar mimpi bersamamu nanti. Kelak ketika aku sudah jadi lelaki mandiri, kupastikan bahwa aku akan merebutmu dengan cara lelaki yang sejati. Oh Nurlela percayalah bahwasanya aku akan kembali. Mengenai akan kembali ini, sungguhlah aku percaya diri.

***

Empat tahun kemudian..

Kini aku telah menjadi lelaki yang mandiri. Aku bisa menghasilkan uang sendiri. Tidak sia-sia usahaku di dalam rangka berburu dolar melalui ngeblog. Iya, ngeblog. Saat itu aku mendapatkan informasi kalau aktifitas ngeblog bisa menghasilkan uang. Ditunjang dengan kefasihanku dalam menulis berbahasa Inggris sehingga bikin aku kepikiran untuk bikin blog yang berbahasa Inggris. Memang dolarnya tak sebanyak apa yang sudah dihasilkan oleh blogger cantik Nigeria. Tapi kerja kerasku cukuplah untuk bisa bikin aku ngasilin duit di usia muda. Iya, saat itu sambil kuliah aku sambil berjuang nyari duit dari ngeblog.

Seminggu yang lalu aku baru beli mobil warnanya merah. Untuk mendapatkan cinta saat ini aku sedang amat bergairah. Aku ingin segera menikah. O tentu aku sudah punya calon istri walaupun calon istri yang tak resmi. Maksudnya begini: aku tidak tahu apakah ia pun mencintaiku sebagaimana aku mencintainya. Tapi sebagai lelaki, selama janur kuning belum melengkung, sah-sah saja apabila aku tampil penuh percaya diri. Dengan mengendarai mobil warnanya merah aku hendak pergi ke rumahmu oh Nurlela.

Selentingan kudengar kalau rumahmu oh Nurlela masihlah sama seperti yang lalu. Aku tahu rumahmu karena pada saat itu aku pernah menguntitmu sampai rumah, tapi tak sampai singgah. Rencananya kali ini aku bakalan singgah. Aku pelankan laju mobilku ketika sudah sampai di lingkungan rumahmu. Ketika aku membelokkan mobilku ke halaman rumahmu tampak di sana ada beberapa bocah sedang main kelereng makanya segera kubunyikan klakson biar bocah-bocah itu pada menyingkir. Saat aku hendak parkir sempat kulihat di teras rumah kalau kamu sedang termenung sendiri.

Saat aku keluar dari mobil kulihat kamu bangkit dari duduk sementara sorot matamu bagai seseorang yang rindu sama kenalan lama, aku yakin demikian adanya bukannya aku kepedean. Aku melangkah gontai dengan penuh percaya diri. Sudah aku duga kalau kamu oh Nurlela bakalan ingat kepadaku. Senang rasanya ketika kamu tersenyum menyambutku.

Di teras rumahmu kemudian kita saling berbicara seumumnya dua orang manusia yang sudah lama tak ketemu. Dalam bincang-bincang itu tidak lupa aku beri tahu kamu bahwa waktu di kampus dulu akulah yang ngasih payung secara sembunyi-sembunyi saat hujan turun membasahi kampus. Mendengar itu kamu tersipu terus tersenyum bagai malu-malu.

Ketika kutanya mengenai hubunganmu dengan pacarmu oh Nurlela tiba-tiba kamu tertunduk lesu. Kemudian kamu cerita mengenai pacarmu yang setelah dua tahun lulus kuliah masih menganggur, begitupula dengan dirimu. Padahal kedua orang tuamu sudah mewanti-wanti untuk segera menikah dengan kata-kata ini: Hey Lela.. Kamu harus inget sama usia kamu tuh.. Buruan nikah.. Teman-teman kamu di sini sudah pada menikah.. Kamu nggak mau kan jadi perawan tua?

Aku mengerti kalau untuk melangsungkan pernikahan tidaklah sesederhana asalkan bermodalkan cinta saja. Diperlukan juga modal materi selain daripada kesiapan secara mental.

Kemudian aku ajak kamu jalan-jalan naik mobil sedan. Mulanya kamu menolak karena takut disangka yang bukan-bukan. Akan tetapi aku berhasil meyakinkan. Anggaplah jalan-jalan naik mobil sedan itu sebagai ajakan dari seorang teman. Selain daripada itu ada hal yang ingin aku beritahukan. Entah karena ajakan dari seorang teman, entah karena penasaran dengan apa yang ingin aku beritahukan. Akhirnya kamu oh Nurlela mau juga aku ajak jalan-jalan naik mobil sedan. Tidak seperti warna mobilku, kamu ganti pakaian memakai warna hijau.

Baru saja mau memilih meja makan di sebuah restoran tiba-tiba saja aku kaget karena kamu serta merta menarik lenganku kemudian bersembunyi di balik meja, kamu lihat di restoran itu ternyata ada pacarmu, tahulah aku bahwa ternyata pacarmu itu adalah orang yang cemburuan. Pantesan kamu terlihat bak ketakutan. Eh tapi, pas dilihat-lihat lagi, ternyata pacarmu itu sedang makan-makan dengan seorang perempuan. Lantas kamu heran dan bertanya: siapa perempuan itu?

Oh Nurlela sungguh aku minta maaf karena telah dengan sengaja mempertemukanmu pada situasi yang bikin hati kamu jadi terluka. Apa yang aku lakukan sesungguhnya atas nama cinta. Percayalah kepadaku oh Nurlela bahwa sesungguhnya aku cinta padamu. Kukatakan itu pada saat kamu memutuskan untuk segera pergi dari restoran, tapi kemudian aku membawamu ke sebuah tempat dekat sungai di pinggiran kota, untuk bincang-bincang dulu sejenak. Saat telah kunyatakan cintaku kepadamu. Entah kamu masih ragu atau apa, yang jelas tiba-tiba kamu memutuskan untuk memilih naik angkot.

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk kembali ke rumahmu oh Nurlela. Di dalam perjalanan menuju rumahmu, aku putar lagu dangdut judulnya Nurlela. Aku tak peduli kau milik siapa. Apakah kuberdosa bila mencintamu. Oh Nurlela. Seandainya hari ini kudapatkan cintamu. Tak ingin aku lepaskan sampai memutih rambutku. Karena menyinta bukanlah dosa. Sampailah kemudian aku di rumahmu oh Nurlela.

Ternyata di rumahmu ada pacarmu yang sedang bertamu. Tapi aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu. Aku memutuskan untuk melamarmu oh Nurlela. Tidak aku duga bahwa kamu bakalan lantas ngomong begini: kalau Lela.. Terserah kedua orang tua Lela saja.

Tentunya pacarmu oh Nurlela kelabakan dengan manuver yang telah kulakukan. Tapi untungnya kedua orang tuamu keburu menenangkan dengan sayembara ini: Di antara kalian berdua.. Siapa yang bisa nyewa organ di kawinan entar dengan uang sendiri.. Itulah ia yang bisa nikah sama Nurlela.

Pacarmu boleh saja menang ganteng, tapi aku menang uang. Sayembara itu akulah yang keluar sebagai pemenang. Pacarmu yang kedapatan telah selingkuh dengan perempuan lain cuman jadi pecundang. Dan aku senang ketika melihat senyumanmu di pesta pernikahan kita, aku dan kamu oh Nurlela pada akhirnya bisa hidup bersama dengan bahagia.

***

Sip ya. Itu saya sedang mencoba untuk memperbaiki tulisan yang pernah dibuat di my blog ini. Biar terasa menjadi lebih baik lagi. Buat seru-seruan di dalam rangka belajar menulis cerita. Ini tulisan yang diperbaiki itu silahkan kalau kamu mau baca juga: Aku Tak Peduli Kau Milik Siapa Oh Nurlela Bagai di Drama Turki.

Demikianlah belajar menulis cerita saya pada kesempatan kali ini. Terima kasih atas perhatiannya. Saranghaeyo.. Gomawoyo.. :D

Insert foto: sebenarnya adegan di Drama Turki itu nggak ada kaitannya dengan cerita fiksi di atas, tapi semoga cocok aja untuk dijadikan ilustrasi.. :D

sumber foto: asi.myforum.ro

Comments
21 Comments

21 komentar

Nurlela oh Nurlela sayembara dari kedua orang tua mu sangat unik yaitu "siapa yang bisa nyewa organ dengan uang sendiri.. itulah ia yang bisa nikah sama Nurlela :D kang nyewa di tempat saya aja yu murah kok plus rias pengantinnya juga biar orang tua nurlela tambah setuju :D wkwkk

mampir kesini selalu ada cerita yang bikin senyam senyum :D

Sebenarnya saya menang dua duanya kang
Ganteng sama kaya
Tapi sayang saya ga diajak ikut maen disni

Kaya yang lagi PDKT'an via HP aja :p

Waktu di ospek smk saya juga pernah kang suka sama cemewew tapi bukan senior melainkan satu angkatan dan waktu itu saya jadi ketua di sangga tersebut waktu itu saya pulang terakhir dengan dia dan satu laki laki yang ternyata dia juga sedang ngincer tuh cemewew pas saya lagi beres beres laki laki itu minta no hpnya dan saya berdoa semoga tidak dikasih eh ternyata doa saya dikabulkan oleh allah swt doanya tidak dikabulkan dan dia ditolak mentah mentah, gk gk gk berarti saya punya harapan dong, gk gk gk.

Duh waktu itu saya senangnya minta ampun karena setiap pulang ospek saya selalu pulang paling akhir dari siswa lainnya dan ternyata eh ternyata apaan tuh (ternyata cemewew yang incar pulangnya juga suka terakhir mungkin dia sengaja atau tidak disengaja itu yang menjadi pertanyaan saya, gk gk gk).

Tapi waktu itu saya masih buram soal cara mendekati cemewew otomatis saya gak tau apa apa dong tentang cara mendekati cemewew, dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan pendekatan dengan si dia dan kembali serius untuk melakukan aktivitas ospek seperti biasanya yang sedikit membosankan sih kang tapi jalanin saja yang penting happy.

arghh.... jadi inget lagu jaman dulu bang :)
Nurlela.. sakit giginya :)

kalah ganteng, menang duit ye?
hehhee...

Kok gak pake artis korea lagi sih mas buat ilustrasinya?

Hahaha

Mencintai diam diam itu bahaya loh, bisa bikin bisulan

Akhir yang bahagia ya kang... selamat menempuh hidup yang baru, rejeki lancar, banyak anak. eh fiksi ya...

oh nurlela di dunia nyata kini kau telah bersuami teman sekelasmu dan mempunyai anak perempuan darinya, ditambah boneka teddy bear dari ku oh nurlela :(

Hahahahaha nyewa organ di tempatnya kang effendi murah ya kang plus rias pengantin hehehehehehehehehe :D

@Vita: syukur kalo gitu Vita, soalnya saya bikin cerita emang sengaja supaya bisa bikin senyam senyum yang baca, berarti sukses nih ya Vita... hehehehehehehe :D

@Kang Effendi: iya orang PDKT via HP suka terlihat senyam senyum... :D

Hehehehehehe... Nggak diajak main soalnya sob niki menang dua-duanya hahahahaha :D

Hehehehehehe saat itu masih buram ya kang Nurul di dalam rangka PDKT ma cemewew hehehehehehe :D

Hehehe kan tadinya bagai Drama Turki hehehehe :D

Hehehehe iya happy ending ramadani.. :D

Haha iya bisa bisulan kalo mencintai diam2... :D

Hehehehe.. Iya fiksi Nur Shodiq... wkwkwkwkw :D


EmoticonEmoticon