Wednesday, March 9, 2016

Cerita Lucu Tentang Main Bola di Waktu Kecil Bagaikan di Drama Turki

Cerita Lucu Main Bola Waktu Kecil Bagaikan di Drama Turki
Cerita Lucu Tentang Main Bola di Waktu Kecil Bagaikan di Drama Turki - Dulu, waktu kecil, saat SD ya, saya suka main bola, kebetulan di depan rumah nenek saya ada sebuah lapangan milik sebut saja namanya Haji Umut Mansur. Sehingga anak-anak SD di sore hari bisa main bola di sana.

Nah, mendingan pengalaman saya mengenai main bola waktu kecil itu saya kemas jadi bagaikan di Drama Turki, sehingga nama saya pun jadinya mesti berubah dong ya. Bagaimana kalau nama saya jadi ini: Diar Colak. Sip kayaknya nih ya. Hehe. Dan nama teman-teman saya juga jadi berubah dong ya, ini beberapa teman main saya waktu kecil: Rizal Inan, Encep Can, Oyan Adun, Asep Udin, dan lain-lain dan lain lain.

Jika teman-teman saya mau main bola di lapangan Haji Umut Mansur, maka mereka mestilah ngajak-ngajak saya, soalnya yang punya bola cuman saya seorang saat itu. Bola itu pemberian ayah saya lo ya. Padahal ayah saya bukan mantan pemain bola profesional, tapi ia pernah ngomong gini sama saya. "Anak laki harus jago main bola, biar gaya, biar kayak Diego Armando Maradona."

Jadi saat saya sedang nggak enak badan misalkan ya, misalkan sedang flu ringan sehingga nggak mood main bola, sementara teman-teman saya nggak terserang flu ringan sehingga mereka pada ingin bermain bola. Tapi mereka pun jadinya nggak bisa main bola, soalnya bolanya saya sembunyikan di dapur di kolong meja.

"Diar Colak.. Ayo kita main bola."

"Aduh, aku lagi sakit flu ringan nih, nggak mood main bola."

"Pinjem dong bolanya aja kalo gitu?"

"Nggak tau di mana, tadi udah dicari di kolong kasur tapi enggak ada, kalau nggak percaya cek aja sendiri oleh kalian."

Tentu dong ya mereka nggak menemukan bola di kolong kasur, soalnya sudah saya pindahkan ke kolong meja yang ada di dapur, sengaja disembunyikan gitu deh.

"Iya nggak ada bolanya."

"Tuh kan nggak ada ya teman-teman.. Nggak usah main bola aja dulu sekarang mah."

Hehe. Jadi, sekali lagi, saat di mana saya nggak bisa main bola karena sesuatu hal, maka mereka pun nggak bisa main bola tuh ya haha. Makanya juga kenapa ketika ada pemilihan Kepala Desa, ngasih bola sepak ke RW masing-masing jadi salah satu strategi dalam kampanye meraih suara, sayangnya anak SD belum berhak untuk nyoblos. Jadinya kalah tuh ya yang nyalon walaupun sudah bagi-bagi bola sepak, haha, buat lucu-lucuan, hehe.

Tapi saat saya sudah sembuh dari flu ringan, saya kemudian ajak teman-teman saya untuk bermain bola.

"Ayo teman-teman kita main bola."

"Udah ketemu bolanya?"

"Udah."

Kalau anak SD biasanya suka nggak banyak ngomong, sehingga masalah bola yang ketemu lagi tidak dibahas panjang-panjang, yang penting pada saat itu kami semua bisa main bola di lapangan Haji Umut Mansur. Kami semua main bola di sore hari dengan bergembira. Saya kalau main bola, posisi saya jadi penyerang lo ya kayak Alessandro Del Piero.

Hingga di suatu waktu ada masa di mana di lapangan Haji Umut Mansur digelar sepakbola anak-anak usia SD, sepakbola antar RT. Dan saya masuknya ke RT 02. Untuk persiapan, Pak RT merekrut seorang pelatih dari kota untuk melatih kami anak-anak RT 02. Soalnya ajang Piala Haji Umut Mansur termasuk ajang yang bergengsi.

"Anak-anak kita harus memenangkan ajang Piala Haji Umut Mansur.. Ini Pelatih Oman yang akan melatih kalian.. Fighting!" Seru Pak RT 02 mengenalkan Pelatih pada kami anak-anak RT 02.

Dalam ajang Piala Haji Umut Mansur, ketentuannya tidak sama dengan ketentuan FIFA. Lagi pula lapangannya juga nggak sesuai dengan standard FIFA. Jadi main bola di lapangan out door tapi seperti main futsal di lapangan in door. Dan tiap tim disebutnya ketujuhan, bukan kesebelasan. Ini mengerti kan ya maksudnya?

Dengan susah payah kami pasukan RT 02 sukses melaju ke babak final, yang akan kami hadapi adalah ketujuhan RT 01. Peran Pelatih Oman tidak boleh dilupakan dalam meracik taktik. Peran kiper Encep Can yang cukup banyak melakukan penyelamatan. Peran bek tangguh Rizal Inan yang banyak bikin pemain lawan terjungkal akibat body touch yang ia lakukan, Rizal Inan punya body gembrot soalnya. Peran pemain tengah Asep Udin. Dan peran duet sehati Diar Colak dengan Oyan Adun. Amat berperan dalam hadirnya pasukan RT 02 di partai puncak.

Partai final, Haji Umut Mansur hadir, ia duduk di podium kehormatan. Memang sebagaimana umumnya partai final sepakbola, begitupula di ajang tersebut, penonton pada membludak. Pada berkumpul di lapang Haji Umut Mansur untuk menonton pertandingan final.

Kaus tim ajang ini cuman punya dua yang dikasih oleh panitia, jadi dari mulai pertandingan pembukaan sampai partai final, di lapangan akan selalu tampak para pemain bertanding yang satu mengenakan kaus tim warna kuning persis kaus tim timnas Brasil dan yang satunya lagi kaus tim warna biru persis kaus tim timnas Italia. Pada saat final, kami pasukan RT 02, setelah diundi pake uang recehan yang diapungkan ke udara, kami kebagian kau tim warna biru persis kaus tim Italia, dan saya mengenakan kaus tim bernomor punggung 10 seperti selalu. Berkat kaus tim yang saya kenakan itu bikin warga yang menonton teringat akan pesepakbola asal Negeri Pisa Roberto Baggio. Jadinya Diar Colak bagaikan Roberto Baggio.

Sampai peluit berakhirnya babak kedua ditiup oleh wasit, kedudukan masih kosong kosong. Itu artinya harus diseleseikan dengan adu penalti.

"Hey Diar Colak.. Kamu siap nendang penalti?" Tanya Pak RT.

"Siap dong Pak RT.. Nendang penalti mah gampang Pak Rt.. Bocak TK juga bisa."

"Bagus kalo gitu."

Oleh Pelatih Oman saya dijadikan sebagai penendang penalti yang terakhir, demikian merupakan bagian dari taktik, soalnya yang nendang penalti terakhir mestilah sosok yang punya kepercayaan diri yang tinggi serta yang mempunyai mental yang bagus, dan Pelatih Oman melihat sosok tersebut ada pada diri saya. Lagi pula, dengan terpilihnya saya sebagai kapten tim, itu sudah menjawabnya sebenarnya.

"Okey anak-anak.. Fighting!" Seru Pelatih Oman.

Dan teman-teman saya yang terpilih menjadi eksekutor penalti telah berhasil menunaikan tugasnya, mereka sukses bikin gol. Begitupula dengan pemain lawan. Hingga tibalah giliran saya yang akan menendang penalti. Apabila nanti masuk, maka, tendangan penalti akan diteruskan karena skornya tetap imbang, namun apabila tendangan saya nanti nggak masuk, itu artinya tim lawan yang bakalan keluar sebagai juara Piala Haji Umut Mansur.

Mengingat hal tersebut, entah kenapa, tiba-tiba saya jadi tegang tuh ya. Tidak lupa saya cium dulu bola yang akan saya tendang. Kiper lawan sudah siap di sana. Penonton sudah terpaku menyimak. Saya pun sudah bersiap untuk nendang. Saya lihat wasit sudah bersiap meniup peluit. Ketika wasit sudah meniup peluit. Dengan tegang saya pun mulai menendang. Dan apa yang terjadi? Tendangan saya melambung jauh ke angkasa sodara-sodara. Bagaikan Roberto Baggio di final Piala Dunia 1994, itulah yang terjadi sama saya, saya gagal cetak gol penalti itu, dan itu artinya kemenangan untuk tim lawan. Saya pun tertunduk lesu.

Dua hari kemudian, saya ketemu Pak RT di jalan.

"Hey Diar Colak.. Gimana kamu nendang penalti itu?.. Katanya gampang, kok ini melambung."

"Maaf Pak RT."

Nah, itulah Cerita Lucu Tentang Main Bola di Waktu Kecil Bagaikan di Drama Turki. Saya curiga ini kok nggak lucu dan nggak rame ya. Wkwkwk.

Terima kasih udah mau nyimak dan semoga sukses selalu! :)

Oh iya, cerita di atas banyak bohongnya tuh ya.. :)

Insert foto: gambar-gambar Roberto Baggio di Piala Dunia 1994 yang saya temukan di kolom pencarian google.. :)

Comments
13 Comments

13 komentar

Wah si abang diar tua nih masih inget aja tendangan penalti roberto baggio pas lawan brasil
Tapi akhirnya brasil juara
Itu pialanya abis piala sudirman y bang?
Orang mah namanya hakan diar, atau hasan diar sas

Dulu harga bola masih tergolong mahal dan jarang yang mampu beli bola. Daripada beli bola lebih baik untuk beli jajanan.Dan aku dulu membuat bola dari kumpulan plastik bekas terus dililit dengan tali.

Kalau anak SD biasanya suka nggak banyak ngomong, sehingga masalah bola yang ketemu lagi tidak dibahas panjang-panjang, yang penting pada saat itu kami semua bisa main bola di lapangan Haji Umut Mansur. Kami semua main bola di sore hari dengan bergembira. Saya kalau main bola, posisi saya jadi penyerang lo ya kayak Alessandro Del Piero. ha ha ha...

Dl waktu kecil pernah dateng ke studio photo om, terus di tivi lagi ada pertandingan sepak bola tapinya tvnya rusak jadingambarnya cuma kek lingkaran lingkaran kecil yg hilir mudik di tipi mirip permainan tetris tapi gw ttp dipaksa nonton, kata om biar kek laki, lah gw emang lakiiiiiiii. Trus gw trauma trus gak suka ama sepak bola, jadi kalau disekolah ada olahraga dan harus maen bola, gw suka perban kaki gw biar bisa lokos dr olahraga sepak bola *nah kl yg ini kagak pake boongan. Hahahahahaha

Hadeuh tak kusangka kang diar jago juga ngibulin temen" nya :D
Mungkin karena salah nulis Kang, harusnya kan bocah bukan bocak,, ahhh coba gx salah nulis pasti masuk tuh ;)

Weleh-weleh, dari ibu turki sampe sepak bola turki, mas diar wong turki tah? hehehe..
"posisi saya jadi penyerang lo ya kayak Alessandro Del Piero." kok ngk messi aja toh mas, kan keren gitu

hahaha iya masih ingat, itu pengalaman pertama nonton piala dunia, waktu SD, hahahahaha.. :)

Iya dulu masih jarang jarang mas... Waaah itu kreatif mas bikin bola dari kumpulan plastik mantepppp :)

Hehehehehe itu yang maksa om waktu kecil buat nonton bola semut semut siapa tuh ?? kudu tanggung jawab hahahahahahaha nggak apa-apa nggak bisa main bola juga, nggak semua laki-laki bisa main bola, saya juga nggak bisa sebenarnya wkwkwkwkw :)

hahahaha iya salah nulis tuh ya Kang Awan,,, itu soalnya nggak dibaca ulang lagi tadinya, weisss teliti uy Kang Awan manteeeeppp :) coba kalo nggak salah nulis, waduh jadi nyesel nih kang Awan... :)

hehehehe...

Itu Alessandro Del Piero idola saya mas... Legend... :)

Beuh atuh kang Diar ma jiga nu te terang uae, bw na oge lain auto koment. makanya hafal :D


EmoticonEmoticon