Monday, August 3, 2015

Puisi Cinta Juara Dua: Menunggu

Sumber gambar: www.woonko.com
Dulu, waktu SMA silam, saya pernah merasa jadi cowok juara dunia kayak Mike Tyson. Tapi bukan di cabang tinju, melainkan di cabang cinta-cintaan gitu deh. Saya gak menyangka ternyata cewek yang selama ini saya dambakan di sekolahan, ternyata mendambakan saya juga lo. Tapi memang duluan saya yang suka sama dia, kalau saya mulai suka kepadanya sejak pandangan pertama waktu ia lagi menangkup buku di dekat pintu gerbang sekolahan, dan kalau dia mulai suka sama saya katanya sih saat saya sedang baca buku di perpustakaan.

"Aku ganteng ya Beib jadi kamu suka sama aku?"

"Iiihh ge-er.. Aku suka sama kamu karena waktu di perpustakaan dulu cuma kamu satu-satunya cowok yang ada di perpustakaan lagi baca buku.."

"Oh ya?"

"Iya."

"Jadi aku termasuk langka ya Beib?"

"Iya."

"Jadi aku ganteng gak Beib kira-kira?"

"Lumayanlah.."

Nah, itu percakapan di mana saya dan dia sudah sukses pacaran. Nama pacar saya yang ini sebut saja Bunga ya, seperti biasa. Di sekolahan dulu, mungkin sudah pada tahu, bahwa ketika saya kelas 2 SMA, ada perlombaan menulis lomba puisi, ide tersebut datangnya dari ketua mading kami pada waktu itu yaitu Hidayat. Berkat film Ada Apa dengan Cinta? yang sedang populer saat itu, kami pun para murid-murid menyambut antusias untuk pada mengikuti perlombaan menulis puisi. Termasuk saya, termasuk Bunga, termasuk juga Hidayat.

Saya sukses menulis puisi yang judulnya Andai Kubisa Sekelas. Hidayat sukses menulis puisi yang judulnya Nyanyian Cinta. Dan Bunga pun sukses menulis puisi yang judulnya Menunggu.

Menunggu

Aku merasa ada yang mengawasi
Aku akui senangnya hati ini
Aku merasa cantik jadinya
Aku sempat salah tingkah dibuatnya

Aku seolah dijadikan bidadari yang turun dari kayangan
Pandangan kamu mendebarkan namun beri juga rasa nyaman
Aku bingung, kemudian
Apa arti pandanganmu yang lembut yang kamu berikan

Wajahmu seperti cerita novel yang lucu
Aku akui kamu memang lucu, ah aku jadi malu
Entah kenapa aku pernah rindu kamu
Aku tak mengerti apa yang kurasa untuk kamu

Aku kan perempuan jadinya aku hanya bisa menunggu
Cahaya mata kamu bikin aku tersipu
Jika ada yang ingin kamu ungkapkan, maka katakanlah, aku menunggumu
Di sini aku hanya bisa menunggu


Sebelum dinilai oleh dewan juri, puisi-puisi yang ditulis murid-murid yang ikutan lomba menulis puisi, dipampang di mading sekolah. Saat itu mading sekolah rame bingit dikunjungi oleh murid-murid yang ingin lihat puisi-puisi hasil karyanya sendiri maupun karya orang lain. Dan yang paling menarik perhatian saya adalah bukan karya saya sendiri melainkan karyanya Bunga.

Saya baca puisi karya Bunga yang judulnya Menunggu itu. Ada rasa senang yang hinggap dalam diri saya, akan tetapi ada pula rasa cemas yang melanda diri saya. Senang karena saya ge-er jangan-jangan itu diperuntukkan pada saya, dan cemas karena saya curiga jangan-jangan itu diperuntukkan pada cowok lain. Waktu itu saya gak curiga sama Hidayat, sebab waktu itu saya gak tahu kalau ternyata Hidayat pun naksir Bunga.

Puisi Bunga yang Menunggu itu berhasil meraih juara dua, sementara juara satunya adalah puisi karya Hidayat, dan puisi karya saya itu cuman turut ikut berpartisipasi saja. Hadiah cuman untuk yang juara satu dan juara dua, dan untuk yang juara satu berhak mendapatkan wawancara ekslusif dari wartawan mading sekolah. Yah begitulah mungkin sudah pada tahu ya, atau mungkin juga belum, atau sudah lupa lagi.

Tapi masih ingat kejadian di mana saya dan Bunga pertama kali jadian, peristiwa di dalam angkot itu lo. Saat tiba-tiba supir angkot yang rambutnya botak ngerem mendadak. Sehingga membuat saya agak mendorong Bunga untungnya Bunga gak sampai mencium jok. Setelah peristiwa tersebut saya dan Bunga jadi bisa ngobrol padahal sebelumnya kami berdua pada diam membisu seolah pada malu-malu.

"Puisi kamu yang judulnya Menunggu di persembahkan untuk siapa?"

"Ada deh.. Kamu sendiri, hehe, puisinya lucu, Andai Kubisa Sekelas.. Hayoo mau sekelas sama siapa?"

Jantung saya berdebar, terus saya jujur bilang. "Untuk kamu Bunga.. Aku ingin bisa sekelas sama kamu."

Bunga tersipu, kemudian ia pun ngaku. "Puisiku yang berjudul menunggu.. Sesungguhnya untuk kamu, aku menunggu kamu untuk bilang cinta sama aku."

"Iya, aku cinta sama kamu, Bunga."

Sungguh, ketika itu, dengan puisi cinta juara dua itu saya merasa kok jadi cowok juara dunia ya.. :)


Ok Brosis. Peristiwa di atas hanya fiktif belaka, semoga gak ada yang tersinggung ya.. :)

Insert foto: istrinya kapten Roma.. :)

Comments
14 Comments

14 komentar

Hadew romantisnyoo ... Jd inget SMA dulu gue g pernah ditaksir cewek, hihihihi... maklum byk temen COWOKnya. Nie artikel dikirim ke salah satu acara TV ttg drama remaja kelihatannya laku tu buat dijadikan drama seri, hehehe

mabokkk nih brooooo hahahaha sinetron pada kalah dahhh

ow ow ow hahhaa....bener kata komen diatasku, sinetron mah lewat hahhaa...

tiada kisah paling indah
kisah kasih diesekolah,,,, :)

wow masbro Diar ini keren, piawai nulis puisinya super romantis :)

Meski fiksi tapi ceritanya sweet ya, hihihi. Real juga lagi nulisnya. Good job :)

kadang ada seorang pacar nanya...mas saya ini mempunyai kelebihan apa hingga mas mau sama saya....
kebanyak lelaki ngawur menjawabnya dan kadang malah bingung gan...

Hehehehe.. Waaahh Mas Hanibi kayaknya sekolah di SMK ya dulunya ?? hehehehehehe.. Waaahh kayaknya itu pujian tuh ya, weissss makasih bingit Mas.. hehe :)

Kalo yang saya jadi lebih keren dari sinetron ya Mas... hehehehehehehe Makasih mas.. Mabokkk cinta itu positif Mas kecuali Mabok dan judi itu baru negatif kan ya ??.. hehehehehehehehe :)

Hehehe, iya siap, makasih Mbak.. :)

Lupa lagi lagu siapa tuh ya Kang? :)

Hehehe Iya makasih Mbak Christanty.. hehehe jadi super diar dong ya hehe :)

Iya makasih Indi.. Siiipppp.. hehehe :)

Kayaknya kebingungan itu adalah cinta itu sendiri Mbah.. hehehehehehehehehehehehehehe :)


EmoticonEmoticon