Monday, August 17, 2015

Piala Agustusan: Melihat Cinta Monyet Nonton

Sumber gambar: nydailynews.com
Dengan latihan, kerja keras, serta kerja sama yang apik di lapangan, akhirnya kami pasukan Jurig FC dari RW 05 berhasil melaju ke babak semifinal ajang Piala Agustusan yang digelar di lapangan kebanggaan warga desa namanya Santiago Berdebu. Bener apa kata Pak RW, ternyata sejak di babak penyisihan, lapangan Santiago Berdebu, selalu penuh dipadati oleh yang nonton, walaupun yang nonton mesti berdiri di pinggir lapangan karena di Santiago Berdebu gak ada kursinya, terus juga walaupun lapangannya berdebu karena kompetisi pas musim kemarau.

Sekali lagi, bener apa kata Pak RW, bahwa ibu-ibu dan mamah muda dan daun muda pada banyak yang nonton, malahan lebih terlihat menonjol dalam memberikan dukungan ketimbang bapak-bapak dan para pemuda. Bapak-bapak mah yah cuman tepuk tangan sambil terus jongkok bilamana ada peluang terciptanya gol di tengah lapangan terus udud lagi, nah sementara ibu-ibu kalau tercipta gol di tengah lapangan sampai bikin komentator bilang gini. "Mohon dengan sangat kepada ibu-ibu bilamana nanti tercipta gol di tengah lapangan.. Mohon jangan sampai masuk ke tengah lapangan terus joged-joged ya.. Goyang ngebor, goyang ngecor, goyang patah-patah, goyang bebek, goyang itik, goyang gergaji.. Ayo goyang dumangnya cukup di pinggir lapangan saja.. Jangan sampai ganggu jalannya pertandingan ya ibu-ibu.. Tertanda Sujana ketua panita ditanda tangani."

Pernah pada saat saya cetak gol dari tendangan penalti ke gawang Balado FC di babak penyisihan. Pada saat saya melakukan selebrasi sambil berlari seraya melebarkankan tangan, sontak ibu-ibu pada beringsut masuk ke dalam lapangan mengejar saya, alhasil saya pun jadi kena peluk ibu-ibu, terus dipangku-pangku, terus pipi saya dicubit-cubit, yang paling parah adalah ibu-ibu yang mendengkek saya kemudian nyosor nyium pipi saya. Yah saya artikan itu sebagai rasa sayang seorang ibu pada anaknya saja ya yang telah sukses cetak gol. Tapi sebentar, kalau ibu-ibunya itu adalah misalkan Stephanie Seymour atau Monica Bellucci yah bolehlah diartikan lebih dari sekedar itu juga ya hehe. Saya jadi merasa kayak baby yang lagi lucu-lucunya.

Ok. Di babak semifinal ini, kami pasukan Jurig FC akan melawan kesebelasan dari RW 01 Bejuang FC. Di desa kami, Jurig FC dari RW 05 dan Bejuang FC dari RW 01 termasuk pada kategori tim besar, ibaratnya Juventus dan AC Milan di Liga Italia. Baik Jurig FC maupun Bejuang FC banyak pengamat yang memprediksi bahwa kedua tim ini sebagai kandidat juara diawal-awal turnamen digelar, jadi pertandingan pasti akan berlangsung seru juga ketat dan sukar diprediksi siapakah yang bakalan menang, sebab dari data statistik sepanjang sejarah kedua kesebelasan beradu, yah saling kalah mengalahkan atau saling menang memenangi.

"Kita sebaiknya main kalem dulu, jangan terlalu menyerang jangan juga terlalu bertahan, standar aja dulu, kita lihat dulu permainan mereka kayak gimana.." cetus coach Mahmud, pelatih Jurig FC pada kami pemain Jurig FC. "..Kita main hati-hati dulu."

"Awas dengarkan tuh yah anak-anak perintah coach Mahmud barusan," ini Pak ketua RW 05 memang suka ikut-ikutan aja nih.

"Okey teman-teman.." Seru saya sebagai kapten tim, mau pimpin yel-yel dulu sebelum bertanding. "..Jurig FC Jurig FC..."

"Forza!!!..."

Pendek cerita. Inilah kejadian-kejadian yang bisa dilaporkan di babak pertama antara Jurig FC melawan Bejuang FC: kedua kesebelasan bermain dengan tempo slow, kedua kesebelasan masih bermain hati-hati. Walau begitu, bukan berarti tanpa peluang, ada beberapa peluang yang berhasil diciptakan oleh kedua kesebelasan namun endingnya gak gol.

Penyerang jangkung kami, sebut saja Permana, berhasil beradu duel di udara dengan bek jangkung lawan namanya Gunawan, itu yang umpan saya, namun sayang sundulan Permana membentur tiang gawang.

Ketika saya kecewa dengan sundulan Permana yang gak berbuah gol, secara gak sengaja saya melihat seseorang di pinggir lapangan, saya melihat ada Paramitha nonton, itu lho cinta monyet saya waktu SD, Paramitha tampak senang saat sundulan Permana membentur tiang. Karena saya cukup lama memandang ke arah Paramitha, sehingga kayaknya Paramitha pun jadinya lihat saya yang sedang memandangnya, jadinya kami berdua saling beradu pandang, cukup lama saya dan Paramitha beradu pandang, dan saya melihat Paramitha terus tersenyum sepertinya ia masih ingat pada saya kayaknya ya.

"Hey kapten.. Jangan bengong.. Fokus, fokus," teriak coach Mahmud di pinggir lapangan sambil tepuk-tepuk tangan membuyarkan pandangan saya pada Paramitha.

Terus, ini peluang lagi bagi kami Jurig FC. Sahabat dekat saya waktu di SD, Gunawan terpaksa menghentikan penetrasi yang saya lakukan menusuk ke jantung pertahanan, Gunawan terpaksa mentackle saya di dalam kotak pinalti, saya pun terjatuh, kartu kuning buat Gunawan sekaligus penalti bagi kami Jurig FC.

Saya melihat Paramitha di pinggir lapangan, sebagaimana umumnya pendukung Bejuang FC, ia kayaknya cemas kalau gawang Bejuang FC bakalan bobol lewat tendangan penalti yang sebentar lagi akan dieksekusi oleh saya. Yah, sesuai instruksi coach Mahmud dan Pak RW, sayalah algojo tendangan penalti Jurig FC. Sehingga saya menjadi didera dilema. Di satu sisi saya ingin bikin bahagia Jurignini, tapi di sisi lain saya gak ingin bikin sedih cinta monyet saya. Bagaimanapun juga Paramitha pernah menjadi mimpi-mimpi saya di zaman SD sampai SMP.

Baru kali ini saya merasakan dilema pada saat saya mau nendang penalti. Waduh saya mesti bagaimana nih. Tiba-tiba rasa tegang hinggap dalam diri saya. Sepanjang karir saya membela Jurig FC, saya belum pernah gagal saat jadi algojo tendangan penalti.

Saya sudah bersiap ambil ancang-ancang mau nendang. Penjaga gawang pun sudah siap dalam posisinya. Dan wasit barusan sudah tiup peluit. Dan apa yang terjadi setelah saya sukses nendang?.. Seperti sundulan Permana, tendangan penalti saya pun membentur tiang gawang. Saya gagal cetak gol dari peluang tendangan penalti.

Dalam kecewa akibat gagal cetak gol saya sempat melihat girangnya Paramitha di pinggir lapangan, entahlah apakah saya mesti bahagia ataukah sedih melihat begitu senangnya cinta monyet saya, dan karena saya menatap Paramithanya agak lamaan sehingga kami berdua sempat beradu pandang lagi. Mendadak Paramitha berhenti happy saat melihat saya yang lemah lesu. Saya merasa cahaya mata dalam tatapan Paramitha, berubah menjadi lembut dan menenangkan saya. Cahaya mata Paramitha bagai berkata. "Tetap semangat, kamu pasti bisa cetak gol, jangan khawatir dan jangan cemaskan aku.."

"Hey kapten.." Teriak coach Mahmud sambil tepuk-tepuk tangan membuyarkan pandangan saya pada Paramitha. "..Kalem, kalem, kalem.. Masih ada waktu tetap semangat.. Gak apa-apa, gak apa-apa.. Konsentrasi, konsentrasi.."

Usai babak pertama, rehat dulu beberapa menit, Pak RW sengaja menghampiri saya secara pribadi. "Hey anak muda.. Waduh kenapa kamu bisa gagal gitu cetak gol dari tendangan penalti.." Pak RW menyinggung kegagalan tendangan penalti saya, kemudian ia seperti berbisik. "..Anak muda bikin ibu-ibu goyang itik lagi dong ah yah bikin Pak RW senang dong.. Tendangan penalti anak kecil juga bisa hey anak muda."


Ok Brosis. Peristiwa di atas hanya fiktif belaka, semoga gak ada yang tersinggung ya.. :)

Insert foto: Pacarnya siapa tuh ya?.. :)

Comments
19 Comments

19 komentar

Hahaha... tetap ujung-ujungnya menjadi cerita fiktif belaka. Tapi asyik juga ceritanya.

ketegangan cerita bolanya, mirip chelsea vs man. city semalam. hehehe...

wah walau cerita fiktif tp bila sudah ngomongin timang2ngan,cium2man mah saya baca sampe abis mas :D

Gara-gara cewek cinta monyetnya, dilema dan konsentrasi jadi buyar ya mas.

xixixixi... saya udah serius membacanya dari atas sampai bawah Kang :D tadinya heran koq nama Club sepak bolanya Jurig FC yah hahahaa... :D ternyata cerita fiktif .. hadehhhh

Bener apa kata Pak RW, ternyata ini cuma cerita fiktip belaka

hahahahahaha. gara- gara cinta monyet jadi g husu ya.

mohon di koreksi yang menandatangani bukan cuma sujana mang tasmun juga menandatangani anak muda :)
jangan biarkan Paramitha menguubah harapan jurignini semangat-semangat

wah dikira beneran nih ... tak taunya cuma imajinasi belaka,,,,, penonton kecewa

Hehehe.. Iya makasih mas Timur kalo asyik ceritanya,, hehe :)

Iya Mas Marwan kasihan Jose Mourinho gak bisa sombong jadinya, haha, city menang tiga kosong,,, hehehehe :)

Haha iya siap Mas Yanto hehehehehe :)

Iya betul Mas Hendra,,, hehehe :)

hehehehehe iya Kang Eka... hehehehe :)

Iya Mas, hehe, untung bukan lagi sholat tapi lagi main bola.. hehehehe :)

Hahahahaha Mang Tasmun warga RW mana tuh Kang Awan??,, haha :)

emang ini rw berapa kang?
aduh boa-boa salah komen ieu th :D


EmoticonEmoticon