Saturday, August 22, 2015

Piala Agustusan: Hoyah.. Hoyah.. Hoyah!

Sumber gambar: urbanpost.it
Lapangan kebanggaan desa kami Santiago Berdebu sungguh dipadati orang-orang. Dua jam sebelum pertandingan final digelar warga desa kami sudah kompak berkumpul memadati setiap lokasi nonton di pinggir lapangan, tentu hal tersebut merupakan siasat warga desa kami supaya para penonton Mukti DT FC dari desa tetangga gak kebagian tempat nonton di pinggir lapangan, jadi biarkan penonton Mukti DT FC nontonnya di atas pohon saja ya.

Karena ini adalah partai final maka untuk mempersingkat waktu mendingan semuanya yuk coba bayangkan aja partai final misalkan liga champions, yah begitulah situasinya di lapangan Santiago Berdebu, hiruk pikuknya seperti itu gak jauh beda pokoknya.

Jangan heran, kalau melihat ibu-ibu dan mamah muda dan daun muda kok wajahnya pada tegang-tegang ya. Yah soalnya sehari sebelum final dimulai, ada anjuran dari Pak RW supaya nanti kalau tercipta gol joged-jogednya harus kompak, kalau gak kompak nanti bakalan dicoret jadi warga ya. Tentu saja Pak RW cuman becanda, tapi kayaknya ibu-ibu dan mamah muda dan daun muda pada menanggapinya serius kali ya. Makanya ibu-ibu dan mamah muda dan daun muda pada serius latihan goyang itik dan goyang gergaji dan goyang ngebor dan goyang ngecor dan goyang-goyang asoy lainnya, latihannya di rumahnya Bu RW.

"Ya saudara-saudara.. Para pemain sudah memasuki lapangan.. Saya di sini Sujana selaku ketua panitia Piala Agustusan ini.. Di final ini saya pribadi yang akan memandu jalannya pertandingan.."

"..Gimana publik Santiago Berdebu, apakah kalian sudah siaaapppp?!"

Sujana, akrab dipanggil Mang Jana, bukan nama sebenarnya, ngomong di speaker sehingga terdengar nyaring ke setiap penjuru lapangan.

"Siaaaaaaapppppp.." Jawab para penonton riuh.

"Dor! Dor! Dor!.. Tuuuuiiiiiiiinnngggggggg.. DaaaRRRR!!!" Ini maksudnya bunyi petasan atau mercon.

Ya, sebagaimana sudah diketahui kali ya bahwa di final ini, belum juga main sepuluh menit, pemain kami yang selama babak penyisihan akrab dengan bangku cadangan, sekalinya dimainkan kena kartu merah di babak kedua akibat kena provokasi bek lawan. Yah, akibat kena provokasi Oyan, Rohmana terpaksa harus keluar lapangan lebih awal.

Weis jangan dikira gak terjadi kegaduhan ya saat Rohmana menanduk dada Oyan, yang tandukannya itu persis tandukan Zinedine Zidane pada Marco Materazzi di Piala Dunia 2006.

Baik pendukung kami maupun pendukung lawan kayaknya pada dewasa ya, mereka tidak serta merta beringsut masuk ke lapangan untuk bikin suasana semakin ricuh, tapinya mereka gaduhnya cukup di pinggir lapangan soalnya lapangan Santiago Berdebu seksi keamanannya dikawal langsung oleh tentara, jadi gak ada yang berani tuh ya, respect pada Pak Tentara. Apalagi pendukung lawan, susah kalau mau nimbrung masuk ke tengah lapangan, soalnya kan nontonnya di atas pohon haha.

"Kalem Rohman, Kalem.. Bawa kalem.." sebagai kapten segera saya rangkul Rohmana, soalnya dari sorot matanya kayak mau nyerang Oyan yang sudah terjatuh di lapang gak ada rumputnya. Dan rangkulan saya juga sekaligus mengamankan Rohmana dari pemain lawan yang lain siapa tahu takutnya ada yang emosian.

Tapi saya langsung gesit dong ya, saya gak lama-lama segera saya bawa Rohmana mendekati Pak Tentara, biar Pak Tentara yang mengamankan Rohmana.

"Okey ya aman ya semuanya.."

Setelah itu wasit yang kepalanya gundul mendekati Rohmana yang masih dalam pengawalan Pak Tentara. Untuk apakah wasit mendekati Rohmana? Yah untuk mengacungkan kartu merah tepat dimuka Rohmana.

"Waduh!" Saya kecewa juga ya, kami sekarang jadinya main dengan sepuluh orang.

"Tetap semangat.. Tetap Semangat.. Tetap fokus, tetap fokus.." Teriak coach Mahmud sambil tepuk-tepuk tangan, tidak lama kemudian coach Mahmud panggil saya sebentar. "Kapten suruh anak-anak yang lain untuk konsentrasi  di pertahanan aja.. Kamu dan Permana juga ikut bantu pertahanan.. Suruh anak-anak yang lain jangan berhenti berlari mengejar bola ya.. Semangat!"

Saat saya mau masuk ke tengah lapangan lagi, saya dengar giliran Pak RW 05 yang berteriak. "Mendingan parkir bus aja anak muda.."

Ya, pertandingan pun dimulai kembali. Sesuai instruksi coach Mahmud kami dengan gigih tak henti-henti berlari mengejar bola untuk mengamankan gawang kami, dan sesuai permintaan Pak RW kami disiplin di daerah pertahanan kami seperti bus yang sedang parkir. Kayaknya Pak RW terinspirasi sama taktik Jose Mourinho. Alhasil, sampai babak perpanjangan waktu, skor masih imbang kosong-kosong. Oleh karena itu, untuk tahu siapa yang juaranya, maka sesuai aturan FIFA, dilakukan dengan cara adu penalti.

Adu penalti memang selalu menegangkan. Saya adalah penendang penalti pertama dari Jurig FC. Saya sempat melihat Paramitha di pinggir lapangan, raut mukanya tampak cemas tapi juga bagai amat berharap kalau tendangan penalti saya bakalan gol. Saya bersiap untuk ambil ancang-ancang mau nendang, kemudian terbayang senyum Paramitha yang mirip senyum khas perempuan Spanyol atau Italia, terus saya masih ingat betul bagaimana gaya bicara Paramitha saat bilang. "Cetak gol ya nanti di final, kapten."

Peluit berbunyi. Saya siap mau nendang. Kiper lawan pun sudah siap dengan posisinya. Dan saya pun nendang, dan tendangan saya itu berhasil mengecoh penjaga gawang, kiper lawan terbang ke kanan padahal bola yang saya tendang ke tengah, di chip melambung pelan bagai golnya Antonin Panenka.

Mendadak sorak sorai pun membahana. Saya melihat di pinggir lapangan Paramitha tersenyum girang.

Okey ya. Supaya mempersingkat waktu, jadi saat adu penalti itu, semua penendang sukses nendang penalti, hingga tibalah giliran Oyan dari tim lawan yang akan nendang. Jadi skor sementaranya itu: 5 untuk Jurig FC dan 4 untuk Mukti DT FC. Nah, bilamana nanti Oyan gagal nendang penalti, maka yang bakalan keluar juaranya adalah kami Jurig FC.

"Hoyah.. Hoyah.. Hoyah!"

"Wayoh.. Wayoh.. Wayoh!"

Teriakan penonton mencoba memprovokasi Oyan, apalagi ibu-ibu dan mamah muda dan daun muda yang tahu tentang tragedi tandukan yang bikin Rohmana di kartu merah wasit itu penyebabnya apa. Soalnya habis di kartu merah, Rohmana curhat sama ibu-ibu dan mamah muda dan daun muda.

"Hoyah.. Hoyah.. Hoyah!"

Raut mukanya Oyan pun jadinya tegang. Dan saat Oyan nendang, bola yang ditendang Oyan melenceng ke samping kanan gawang, waktu nendang Oyan tisoledat atau terpeselet seperti ada daun pisang di situ, mirip-mirip tendangan penalti John Terry yang gagal di final Liga Champions.

Oleh karena itu, serentak para penonton berteriak. "Horeeee.. Ole.. ole.. ole.." Apalagi ibu-ibu dan mamah muda dan daun muda sambil joged-joged begitu kompaknya.

"Gotong Pak RW anak-anak.. Gotong.." Instruksi coach Mahmud pada kami para pemain Jurig FC.

Dan Pak RW pun kami gotong bareng-bareng, kemudian kami lemparkan ke udara, saya baru lihat muka Pak RW 05 yang kayak anak kecil mau punya Papa baru kayaknya gitu tuh hehe. Jurig FC keluar sebagai juara Piala Agustusan di tanah sendiri di lapangan kebanggaan desa kami Santiago Berdebu.


Ok Brosis. Peristiwa di atas hanya fiktif belaka, semoga gak ada yang tersinggung ya.. :)

Insert foto: Pelatih yang digotong sama para pemainnya persis Pak RW nasibnya kayak gitu tuh ya.. :)

Comments
6 Comments

6 komentar

selamat untuk FC jurig karena berhasil memenangkan piala agustusan ini mas.
enak tuh coach masimiliano alegri... eh coach Mahmud karena di angkat2 kayak gitu :D

selebrate yang dilakukan oleh anak-anak jung FC pada coach nya memang sangat layak dilakukan, abisnya permainan FC Jung keren berkat tangan dingin coach nya kan

iyaaaa... makan makan nasih padang.. hehehehehe horeeeee Mbak ole ole ole.. hehe :)


EmoticonEmoticon