Friday, July 10, 2015

Mantan Terindah: Cantik Pake Kebaya

Sumber gambar: www.pinterest.com
Saya berani beradu, kalau ia gak kalah cantik sama Julie Estelle, dan gak kalah seksi sama Stephanie Seymour. Cowok memandang dia, kebanyakan langsung dibikin jatuh cinta, karena yang terjadi pada saya kala itu begitu juga. Cinta saya cinta pada pandangan pertama kepadanya.

Sebagai cowok, sesungguhnya saya termasuk tipikal cowok pemalu, syukur deh kalau percaya. Sehingga walaupun saya langsung suka pada pandangan pertama kepadanya, tidak lantas saya berlari menghampirinya untuk minta kenalan sambil bawa setangkai bunga. Apa daya, saya hanya mampu memandanginya dari kejauhan sambil berharap masuk ke kelas 2 nanti bisa sekelas sama dia. Saya sudah punya rencana, nanti mau duduk di belakang bangku yang ia duduki, sudah cukup bagi saya memandang punggungnya juga, bila saatnya tiba saya bisa jail kepadanya akan saya lakukan contohnya dengan lempar gulungan kertas terus sembunyi tangan. Usaha biar dia tergoda sama saya yang hanyalah seorang cowok pemalu tapi udah gak ingusan lagi. Saya menemukannya kali pertama saat MOS mau masuk SMA. Sebut saja namanya Bunga, sebab ia secantik bunga Sakura, kebetulan namanya bukan Bunga sehingga Bunga hanyalah nama samaran semata.

Saya rada kesal, kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa saya, masuk ke kelas 2, ternyata saya pun gak ditakdirkan sekelas sama Bunga. Saya mau protes, tapi bukan pada Tuhan, melainkan pada guru yang ngatur bagian kesiswaan, tapi saya urungkan demo itu sebab saya gak mau kalau perasaan cinta saya sama Bunga terekspos di mading sekolah. Saya kan tipikal cowok pemalu, jadi saya kan malu. Saya mesti rela gak sekelas sama Bunga, cuman bisa sabar untuk sekedar lihat ia di kantin lagi minum es cincau. Walah jadinya ditambah setahun lagi deh gak bisa gunakan taktik lempar gulungan kertas sembunyi tangan.

Saya gak pernah berhenti berharap, kelak masuk ke kelas 3, semoga saya dapat sekelas sama Bunga. Untunglah di kelas 2, sedang rame ngomongin film Ada Apa Dengan Cinta? Yang cewek mendadak jadi kepingin kayak Dian Sastro, dan yang cowok gak mau kalah mendadak jadi kepingin kayak Nicholas Saputra.

Jadi selain di kantin, saya bisa melihat Bunga di perpustakaan. Euforia film Ada Apa dengan Cinta? berpengaruh pada daftar hadir siswa di perpustakaan. Siswa siswi jadi gemar membaca buku, terutama sastra, ingin bisa nulis puisi kayak Rangga dan kayak Cinta. Termasuk saya, termasuk bunga.

Ketua Mading Sekolah, sebut saja Hidayat, kreatif. Ia bikin perlombaan menulis puisi yang didukung langsung oleh Kepala Sekolah. Karena saya lagi jatuh cinta sama Bunga, sehingga saya bisa menulis puisi, sebab saya ungkapkan perasaan saya pada Bunga dalam puisi tersebut dari lubuk hati yang terdalam. Puisi saya berjudul: Andai Kubisa Sekelas.

Untung puisi saya gak juara satu, karena juara satu mendapatkan hak untuk diwawancara secara eksklusif oleh redaksi Mading Sekolah. Kalau saya juara satu, pasti wartawan Mading Sekolah bertanya. "Puisi itu untuk siapa?" Saya malu kalau mesti jawab jujur, kan saya tipikal cowok pemalu. Hidayatlah yang diwawancara, ia ditanya. "Puisi Nyanyian Cinta dipersembahkan untuk siapa? Saya gak peduli dengan jawaban Hidayat, yang paling penting saya turut bahagia pada Bunga yang sukses meraih juara dua dengan karya puisinya ini: Menunggu.

Masuk ke kelas 3, oh apa yang terjadi kenapa saya dan Bunga gak sekelas lagi, padahal kita sama-sama masuk ke kelas IPA. Harapan saya untuk bisa sekelas sama Bunga di masa putih abu pupus sudah.

Dua tahun hanya jadi pungguk merindukan Bunga. Dua tahun saya perhatikan Bunga selalu nolak cowok yang katakan cinta kepadanya. Dua tahun saya pun sudah beberapa kali nolak cewek yang katakan cinta pada saya. Entah apa alasan Bunga, tapi saya tahu alasan saya, saya kadung jatuh cinta pada pandangan pertama sama Bunga, tak bisa pindah ke lain hati.

Untunglah ada momen ini: angkot yang ditumpangi oleh Bunga dan teman-temannya-ini juga yang menjadi alasan saya kenapa tidak bisa satu angkot sama Bunga sejak kelas satu-mogok. Maka turunlah mereka semuanya, mesti naik angkot yang lain. Malang bagi Bunga sebab pada angkot berikutnya ia gak kebagian tempat, dan ia pun ditinggalkan sama teman-temannya itu, bukan berarti mereka tidak peduli sama Bunga melainkan Bunganya sendiri yang merelakan teman-temannya untuk berangkat duluan. Untung bagi saya, sebab angkot berikutnya adalah angkot yang ditumpangi oleh saya dan Hidayat. Bunga kemudian naik angkot yang ditumpangi oleh saya dan Hidayat. Baru pada saat itu sejak dua tahun lamanya saya bisa satu angkot sama Bunga. Di angkot itu, yang jadi penumpang cuman kami bertiga.

Saya untung lagi, sebab yang duluan turun adalah Hidayat. Pasca Hidayat turun dari angkot, tinggalah saya dan Bunga yang cuman berdua jadi penumpang. Saya seolah acuh, Bunga pun seolah acuh. Tapi sesekali saya lirik dia, dan dia pun kayaknya sesekali lirik saya. Untung ada momen di mana angkot ngerem mendadak, sehingga saya sedikit mendorong Bunga untunglah Bunga gak sampai mencium jok, terus sang supir kesal. "Waduh, ada kucing nyebrang."

"Kamu gak apa Bunga?"

"Iya gak apa."

"Maaf ya."

"Iya."

Saya senang, berkat kucing nyebrang di jalan, saya jadi punya alasan untuk bisa ngobrol sama Bunga.

"Puisi kamu yang judulnya Menunggu di persembahkan untuk siapa?" Saya bertanya dengan perasaan yang ragu.

"Ada deh.. Kamu sendiri, hehe, puisinya lucu, Andai Kubisa Sekelas.. Hayoo mau sekelas sama siapa?"

Jantung saya berdebar. Tapi saya pikir ketika itu, ini adalah momen yang tepat untuk memberitahukan perasaan saya pada Bunga. "Untuk kamu Bunga.. Aku ingin bisa sekelas sama kamu."

Bunga tersipu lo.. Kemudian ia bilang. "Puisiku yang berjudul menunggu.. Sesungguhnya untuk kamu, aku menunggu kamu untuk bilang cinta sama aku."

"Iya, aku cinta sama kamu, Bunga."

Cerita di atas hanya fiktif belaka, semoga gak ada yang tersinggung ya..  :)

Demikianlah peristiwa hari ini. Sebuah peristiwa di mana saya melihat Bunga pake kebaya. Ia cantik pake kebaya di pesta pernikahan teman SMA, tidak lupa ia membawa serta suaminya yang gagah perwira laksana Inspektur Vijay di film India yang tiada lain ia adalah Hidayat sang ketua Mading Sekolah.

Insert foto: pemeran Ada Apa Dengan Cinta? Bukan Bunga.. :)

Comments
10 Comments

10 komentar

Saya kasihan dgn kucingnya mas, rela berkorban demi anda tu ..hehehehe

Kasihan dikucing enaknya sama mas juragan ya kang Hanibi.hahaha untung sikuncing masih selamat:D)

Waktu masih berseragam putih abu-abu saya nda mau komplen sama siapapun mas, karena waktu itu dikelas saya kedatangan bidadari kayak bungalah kalau dicerita ini, trus saya melanjutkan cerita kehidupan deh sama doi sampai sekarang. Kalau masalah malu, kucing masih kalah sama saya tapi ya yang namanya jodoh g bakalan kemana, Serasa dunia cuman sekelor daun lebar. Ups kebalik kayaknya:D)

cerita fiktip emang gampang yah buat nyatain cinta trus jadian.
kalo dikenyataan boro" bisa gitu haha

Endingnya nusuk bangett.
di realita, pas ngedorong di angkot, WOI GAK USAH DORONG2 DONG. MODUS LO YAK? MAAP...MAAP..UNTUNG GUE GAK KEJEDOT.
hahaha

kalo dicerita emang enak nyatain nya.. coba kalo di dunia nyata susah amat nyatain nya jok..

oalah, fiksi toh.. kirain beneran...
bunga oh bunga.

walaupun fiksi, gue harap ini bukan bunga si tukang daging tikus yang sering di blur di acara repotase hehhehe

fiksi memang keren, tapi kenyataan hmmm gue susah banget


EmoticonEmoticon